- tim tvOne/tim tvOne
Karhutla TNBS Jambi Mendekati Habitat Harimau Sumatera
Jambi, tvOnenews.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS), Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi kian meluas hingga mendekati habitat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).
Kepala Balai TNBS, Yunaidi di Jambi, Selasa, mengatakan titik kebakaran belum menjangkau kawasan hutan primer yang menjadi habitat harimau dan satwa lainnya, namun jarak yang semakin dekat membuat kebakaran tersebut tetap menjadi ancaman.
"Hasil pantauan petugas di lapangan tidak terlalu jauh mungkin batas sekitar dua hingga tiga kilometer dari jarak habitat harimau," ujarnya.
Ia berharap api tidak merembet hingga ke kawasan hutan primer, jika kebakaran terus meluas, habitat satwa yang dilindungi tersebut berpotensi ikut terdampak.
Kawasan yang terbakar saat ini masih didominasi vegetasi semak belukar, alang-alang dan tumbuhan paku-pakuan. Sementara itu, habitat harimau dan hewan mangsanya masih berada di kawasan hutan primer yang belum terbakar.
Menurutnya, asap karhutla juga dapat mengganggu satwa yang berada di sekitar lokasi. "Ya, paling tidak sama, dia (hewan) butuh udara juga ya, sesak akibat asap itu juga bisa mempengaruhi," kata Yunaidi.
Di tengah kebakaran yang belum berhasil dipadamkan, keberadaan harimau masih terdeteksi di kawasan tersebut. Informasi itu diterima dari seseorang yang sedang memancing pada sore hari.
"Kemarin saya ke Sembilang, dari operator di sana dan para pemancing masih mendengar suara harimau," katanya.
Suara harimau tersebut kemudian dilaporkan kepada pihak balai. Namun, hingga kini belum ada temuan langsung mengenai satwa yang terdampak kebakaran.
Berdasarkan data pemantauan pada 2022, tercatat sekitar 11 ekor harimau di kawasan Berbak. Data tersebut menjadi salah satu gambaran keberadaan satwa dilindungi di kawasan konservasi tersebut.
Di sisi lain, upaya pemadaman masih menghadapi berbagai kendala. Petugas kesulitan mendapatkan air, sementara titik api berada jauh di dalam kawasan dan tidak memiliki akses jalan.
"Kesulitan air. Terus titik apinya sulit dijangkau, jauh sekali," ujarnya.
Guna mengatasi persoalan tersebut, pihak Balai TNBS berupaya membuat embung dengan bantuan alat berat serta mengalirkan air dari sungai ke lokasi kebakaran.