news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Kuasa hukum keluarga almarhum Arya Daru Pangayunan, Nicholay Aprilindo (tengah) beserta istri Arya Daru, Meta Ayu Puspitantri (kiri jilbab pink) saat jumpa pers kasus kematian misterius Arya Daru pada 27 September 2025 lalu..
Sumber :
  • tim tvOne - Sri Cahyani Putri

Polisi Buka Peluang Lanjutkan Kasus Arya Daru Jika Kelurga Temukan Bukti Baru, Kuasa Hukum: Bukti Nyata Tak Maksimal Ditindaklanjuti

Kepolisian menyatakan masih membuka peluang untuk melanjutkan penanganan kasus kematian misterius Arya Daru apabila pihak keluarga menemukan bukti baru.
Senin, 12 Januari 2026 - 00:42 WIB
Reporter:
Editor :

 

Yogyakarta, tvOnenews.com - Kepolisian menyatakan masih membuka peluang untuk melanjutkan penanganan kasus kematian misterius Arya Daru Pangayunan apabila pihak keluarga menemukan bukti baru.

Meski proses penyelidikan saat ini resmi dihentikan, polisi menegaskan perkara dapat dilakukan pendalaman kembali asalkan terdapat bukti yang valid.

"Jika pihak keluarga ada bukti baru yang valid, maka penyelidik akan mendalami kembali," jelas Kombes Pol Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Jumat (9/1/2026) lalu.

Menanggapi hal tersebut, kuasa hukum keluarga almarhum Arya Daru, Nicholay Aprilindo mengatakan, pencarian bukti baru bukan tugas dan fungsi pihak keluarga, mengingat kasusnya masuk ranah pidana bukan perdata.

"Ini kasus pidana sehingga tugas dan fungsi pencarian dan pengumpulan alat bukti, barang bukti, keterangan saksi, ahli adalah (tugas dan fungsi) penyidik atau penyelidik. Sangat aneh kalau kami disuruh mencari barang bukti baru untuk mengungkap peristiwa kematian ini," katanya, Minggu (11/1/2026).

Nicholay menganggap, bukti-bukti nyata yang sudah ada tidak ditindaklanjuti secara maksimal oleh penyidik, mulai dari temuan empat sidik jari di lakban yang melilit kepala kliennya.

Menurut penjelasan penyidik kepadanya, dari empat sidik jari yang ditemukan, hanya ada satu yang berhasil diidentifikasi, yakni milik almarhum. Sementara itu, tiga sidik jari lainnya dikatakan rusak dan diduga akibat faktor cuaca.

"Padahal, lokasi dan waktu kejadiannya sama. Kenapa bisa satu terdeteksi, namun yang lainnya rusak? Itu berada dalam satu ruangan yang tertutup, ber-AC dan di dalam kamar. Tidak mungkin faktor cuaca sehingga kami minta untuk ditelusuri lebih lanjut," ucapnya.

Pun, masalah tas kresek plastik yang menutup kepala korban kemudian dililit menggunakan lakban, mengapa digunting dan tidak dihadirkan sebagi barang bukti pada saat konferensi pers di hadapan awak media.

Selanjutnya, posisi almarhum ketika dilakban apakah dalam posisi tidur, duduk atau berdiri. Selain itu, kondisinya masih dalam keadaan hidup, setengah hidup, atau sudah mati.

Kemudian, soal temuan check in sebanyak 24 kali bersama wanita bernama Vara. Kuasa hukum pernah menanyakan apakah Vara sudah diperiksa terkait hal tersebut. Penyidik menyampaikan telah memeriksa Vara, namun yang diketahui oleh pihak keluarga hanya berkaitan hubungannya dengan Arya Daru.

"Isi BAP Vara, hanya bertanya seputar hubungannya dengan almarhum. Wanita itu mengatakan mereka adalah teman kerja dan almarhum pernah curhat untuk bunuh diri," ungkap Nicholay.

"Pertanyaan saya kepada penyidik, apakah sudah pernah diperiksa masalah check in tersebut, untuk siapa check in itu, kepentingan apa check in itu, dan siapa yang memesan check in. Itu pun tidak dijawab," sambungnya.

Selain itu, pihaknya juga bertanya adakah pihak-pihak yang merasa dirugikan, tersinggung, atau marah setelah mengetahui kliennya check in bersama Vara karena dari kabar yang beredar, Vara diketahui sudah bersuami.

"Apakah suaminya (Vara) sudah diperiksa? Itu dijawab oleh penyidik tidak pernah diperiksa. Ini menjadi tanda tanya bagi kami. Padahal, ini jadi pintu masuk untuk mengungkap kasus kematian misterius korban sehingga bisa didapat benang merah dari peristiwa ini, siapa berbuat apa," tutur Nicholay.

Lalu, mengenai sopir driver online yang membawa Arya Daru dari Grand Indonesia ke Kantor Kemenlu yang dalam keterangannya menyatakan bahwa almarhum terlihat seperti orang panik dan ketakutan, juga sopir yang dipergunakan dari kantor Kemenlu ke kosnya di Menteng, Jakarta Pusat. 

"Kami tanya almarhum menggunakan taksi apa? Tapi, penyidik mengatakan tidak teridentifikasi nomor taksi tersebut," ucapnya.

Terakhir, terkait dengan ponsel almarhum yang sampai saat ini masih hilang. rekaman CCTV di kos Arya Daru yang bergeser dan dikatakan ada yang tidak berfungsi, serta, keterangan dari penjaga kos yang dinilai Nicholay tidak konsisten. (scp/ard)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:05
01:27
12:44
15:36
06:26
05:03

Viral