- tim tvOne - Sri Cahyani Putri
Gelar Program Mahasiswa Berdampak Tahun Anggaran 2025, Kemendiktisaintek Gandeng Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Bantul, tvOnenews.com - Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bekerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar Program Mahasiswa Berdampak Tahun Anggaran 2025 pada Jumat (5/6) hingga Minggu (7/6).
Pada Pembukaan Seminar Hasil Program Mahasiswa Berdampak di Amphitarium Kampus IV UAD, Sabtu (6/6), Wakil Rektor Bidang Akademik UAD, Sunardi menyampaikan apresiasinya atas kepercayaan yang diberikan Kemendiktisaintek kepada UAD untuk menjadi tuan rumah kegiatan nasional tersebut. Ia juga menyampaikan bahwa seminar diikuti oleh 60 tim mahasiswa dan dosen dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Fakfak, Papua.
“Selamat datang di UAD. Kami merasa terhormat menjadi tuan rumah kegiatan yang diselenggarakan Kemendiktisaintek ini. Ada 60 tim terpilih dari ratusan bahkan ribuan proposal yang masuk dan dua di antaranya berasal dari UAD,” ujarnya.
Sunardi juga menegaskan komitmen UAD dalam mengembangkan budaya riset dan pengabdian masyarakat. Menurutnya, pada tahun lalu, sebanyak 530 dari 550 dosen yang memenuhi syarat berhasil mengajukan proposal penelitian dan pengabdian.
Capaian tersebut turut mengantarkan UAD meraih predikat perguruan tinggi swasta terbaik nasional dalam pendanaan penelitian dan pengabdian selama tiga tahun berturut-turut.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Fauzan Adziman menekankan bahwa mahasiswa merupakan aktor utama dalam menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya membangun ekosistem akademik, tetapi juga harus memastikan hasil inovasi dan pemikiran mahasiswa dapat dirasakan masyarakat luas.
“Mahasiswa adalah energi kita. Mereka harus dilatih kepekaan untuk mendengarkan persoalan masyarakat, mengidentifikasi masalah, lalu menghadirkan solusi yang mampu mentransformasi kehidupan sosial berbasis empati,” ungkapnya.
Fauzan menjelaskan bahwa pada tahun 2025 terdapat 957 proposal yang diajukan dalam Program Mahasiswa Berdampak.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 263 proposal dinyatakan lolos pendanaan dengan total anggaran mencapai Rp30,1 miliar. Program ini melibatkan 199 perguruan tinggi dan didominasi oleh perguruan tinggi swasta dengan proporsi sekitar 80%.
Sementara itu, Direktur DPPM Kemendiktisaintek, I Ketut Adnyana mengungkapkan bahwa Program Mahasiswa Berdampak lahir pada 2025 atas arahan langsung Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek).
Meski disusun dalam waktu kurang dari dua minggu dan di tengah ketidakpastian anggaran, program tersebut berhasil dilaksanakan dengan baik.
“Mahasiswa adalah energi, idealisme, tenaga, dan sumber ide-ide brilian. Karena itu, kami berupaya memberikan ruang agar mereka dapat berkontribusi langsung kepada masyarakat,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa semangat Diktisaintek Berdampak diwujudkan melalui 3 aspek utama, yakni dampak akademik, dampak sosial, dan dampak ekonomi.
Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan tidak hanya menghasilkan capaian akademik, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan sosial yang berkelanjutan dan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Ketut menambahkan bahwa Program Mahasiswa Berdampak akan terus dilanjutkan pada tahun 2026 dengan dukungan anggaran sebesar Rp14 miliar. Ia berharap berbagai inovasi dan solusi yang telah dihasilkan mahasiswa dapat menjadi fondasi bagi program-program pengabdian yang lebih luas di masa mendatang.
“Apa yang dilakukan hari ini bukanlah titik akhir, melainkan titik awal untuk terus menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. (Scp/Ard)