- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Viral! Kiper 17 Tahun Dipukul dari Belakang hingga Tersungkur, Liga Bantul 2026 Kembali Tercoreng
tvOnenews.com - Beredar sebuah video viral yang memperlihatkan suasana raungan suporter dan tensi pertandingan Liga Bantul 2026 mendadak berubah menjadi kepanikan.
Seorang kiper PS Sendangsari tersungkur setelah diduga dipukul dari belakang oleh seorang penonton yang masuk ke lapangan saat pertandingan menghadapi PS Bawuran di Lapangan Bawuran, Pleret, Bantul, Sabtu (8/8/2026).
Korban yang diketahui masih berusia 17 tahun itu mengalami keluhan pusing serta luka lebam setelah mendapat pukulan di bagian belakang tubuh dan kepala.
Peristiwa tersebut tidak hanya membuat pertandingan terhenti, tetapi juga memunculkan pertanyaan serius tentang keamanan pemain dalam kompetisi sepak bola amatir. Korban akhirnya membuat laporan ke Polres Bantul, sementara pihak Askab PSSI Bantul mendorong kasus tersebut diproses sesuai aturan.
Kiper 17 Tahun Dipukul dari Belakang
Pertandingan Divisi Super Liga Bantul 2026 antara PS Sendangsari dan PS Bawuran sebelumnya berlangsung relatif normal. Kedua tim saling menyerang tanpa insiden permainan kasar.
Bahkan, kiper Sendangsari disebut tampil cukup baik dengan menggagalkan sejumlah peluang emas lawan.
Situasi berubah setelah PS Bawuran mencetak gol pada menit ke-82. Sejumlah penonton kemudian masuk ke area lapangan.
Salah seorang di antaranya diduga mendekati kiper Sendangsari dan melayangkan pukulan dari arah belakang.
Manajer PS Sendangsari, Felix Supriasto, mengaku belum mengetahui secara pasti motif pelaku. Ia menduga penampilan sang kiper yang beberapa kali menggagalkan peluang Bawuran mungkin menjadi pemicu emosi penonton.
Akibat insiden tersebut, pertandingan dihentikan. Ofisial Sendangsari segera membawa korban keluar lapangan untuk mendapatkan pertolongan.
Kiper tersebut dilaporkan mengalami pusing, lebam di bahu kanan belakang, serta terkena pukulan di bagian belakang kepala.
Pihak Sendangsari sempat meminta panitia mengamankan pelaku agar pertandingan dapat dilanjutkan. Namun, pelaku disebut tidak dibawa ke ruang panitia dan justru meninggalkan lokasi.
Karena merasa situasi belum aman, Sendangsari akhirnya memilih tidak meneruskan pertandingan yang masih menyisakan sekitar tujuh menit.
Askab PSSI Bantul Dorong Kasus Diproses
Ketua Askab PSSI Bantul, Aris Suharyanta, membenarkan adanya insiden pemukulan tersebut. Ia menilai tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan dalam pertandingan sepak bola, terlebih klub peserta Liga Bantul 2026 telah memiliki komitmen untuk menjaga ketertiban kompetisi.
“Menurut info, yang melakukan pemukulan bukan penggemar sepak bola. Jadi Askab mendorong itu termasuk pelanggaran,” katanya kepada awak media di Bantul, Selasa (11/8/2026).
Aris juga mengingatkan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Kejadian seperti ini jangan sampai terjadi lagi, dan kami sudah ada komitmen dengan klub-klub yang mengikuti,” ucapnya.
Dari sisi hukum, Kasat Reskrim Polres Bantul AKP Subihan Afuan Ardhi membenarkan korban telah membuat laporan.
“Sudah buat laporan, korban melapor tadi siang. Segera kami lakukan pendalaman,” katanya.
Dengan adanya laporan tersebut, polisi akan menentukan langkah hukum berdasarkan hasil pemeriksaan korban, saksi, bukti video apabila tersedia, serta keterangan pihak-pihak yang berada di lokasi.
Secara umum, tindakan pemukulan yang menyebabkan korban mengalami luka dapat masuk dalam ranah tindak pidana penganiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 351 KUHP, dengan penerapan pasal bergantung pada hasil penyidikan dan kondisi luka korban.
Bukan Insiden Tunggal di Liga Bantul 2026
Sorotan terhadap keamanan Liga Bantul 2026 semakin kuat karena insiden di Lapangan Bawuran bukan satu-satunya kericuhan yang terjadi dalam dua hari berturut-turut.
Sehari setelah kiper Sendangsari dipukul, kericuhan kembali terjadi seusai pertandingan Putratama melawan Nine RAS Semail di Lapangan Dwi Sapta Ringinharjo, Minggu (9/8).
Dalam video yang beredar, terlihat situasi memanas di luar lapangan setelah muncul aksi saling mengejek. Sejumlah pemain Nine RAS Semail bahkan terlihat berlari keluar pagar untuk mencari orang yang diduga melakukan ejekan.
Polisi yang melakukan pengamanan di sekitar lokasi kemudian bergerak mencegah bentrokan. Situasi akhirnya dapat dikendalikan dan penonton membubarkan diri.
Rangkaian kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa sepak bola amatir bukan ruang bebas dari aturan. Fanatisme seharusnya berhenti pada dukungan terhadap tim, bukan berubah menjadi tindakan yang membahayakan pemain.
Apalagi, korban dalam insiden Bawuran masih berusia 17 tahun. Pukulan di bagian kepala tidak bisa dianggap sebagai bagian dari dinamika pertandingan. Selain dapat menyebabkan luka, benturan keras pada kepala juga berpotensi menimbulkan kondisi medis serius yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
PS Sendangsari sendiri telah memberikan keterangan kepada Komisi Disiplin PSSI Bantul dan masih menunggu hasil sidang. Untuk kemungkinan membawa perkara ke ranah hukum lebih jauh, manajemen klub masih membahasnya bersama keluarga korban.
Pada akhirnya, persoalan terbesar bukan hanya siapa yang menang atau kalah di lapangan. Kompetisi sepak bola baru bisa disebut sehat ketika pemain dapat bertanding tanpa rasa takut dan penonton memahami bahwa batas antara memberikan dukungan dan melakukan kekerasan tidak boleh dilanggar. (udn)