news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X menyerahkan secara simbolis bantuan kepada mahasiswa NTT yang menempuh pendidikan di Yogyakarta..
Sumber :
  • Tim tvOne - Sri Cahyani Putri

Biaya Hidup Menipis Pascagempa, Mahasiswa NTT di Yogyakarta Bertahan Hidup dengan "Ngebon" Hingga Cari Nasi Gratis di Warung

Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya meninggalkan kekhawatiran bagi warga di daerah terdampak. 
Rabu, 19 Agustus 2026 - 23:56 WIB
Reporter:
Editor :

Yogyakarta, tvOnenews.com - Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya meninggalkan kekhawatiran bagi warga di daerah terdampak. 

Sejumlah mahasiswa asal NTT yang sedang menempuh pendidikan di wilayah DI Yogyakarta turut merasakan dampaknya, terutama ketika dukungan biaya hidup dari keluarga mulai tersendat. 

Jauh dari kampung halaman, mereka harus bertahan di tengah ketidakpastian kondisi keluarga. Komunikasi dengan orang tua menjadi salah satu hal yang paling dinantikan karena mereka ingin memastikan keluarga di NTT berada dalam kondisi aman. 

Kondisi tersebut dialami oleh Vansianus Pasir. Mahasiswa STPMD "APMD" Yogyakarta mengaku hilang kontak dengan sang ibu beberapa hari usai gempa bumi melanda kampung halamannya pada 15 Agustus 2026 lalu. Hingga kini, dirinya masih menanti kabar dari sang ibu. 

"Belum bisa komunikasi untuk kebutuhan saya disini (Yogyakarta). Kemungkinan besar ada dua, belum beli paketan atau belum nyala listrik," ujar Vansianus ditemui seusai penyerahan bantuan oleh Pemda DIY di Kompleks Kepatihan Yogyakarta, Rabu (19/8/2026). 

Selama menempuh pendidikan di Yogyakarta, Vansianus tinggal di sebuah indekos. Pascagempa, ia harus memutar otak demi bertahan hidup lantaran biaya hidup yang seharusnya sudah dikirim oleh sang ibu tak kunjung diterimanya. 

Demi bertahan hidup, ia kemudian terpaksa berutang makanan bahkan mencari warung-warung yang menyediakan nasi gratis. 

"Harusnya sudah (dapat kiriman biaya hidup). Untuk bisa nyambung (hidup) disini (Yogyakarta), saya ngebon ke warmindo-warmindo gitu. Kemarin, saya pesan nasi darurat. Itu saya sangat terbantu karena mama (komunikasi) belum aktif," ucap Vansianus. 

Dia mengungkap bila sang ibu tinggal seorang diri di kampung halamannya NTT. Sementara, bapaknya sudah tidak ada dan kedua adiknya juga merantau di daerah lain. 

"Mama sendirian di rumah. Bapak sudah tidak ada, adik-adik juga kuliah. Kami ada tiga bersaudara. Satunya di Malaysia, saya di Yogyakarta dan satunya di Surabaya," ungkap Vansianus.

Selain dari Pemda DIY, Vansianus mengaku sejauh ini belum ada bantuan dari manapun termasuk kampus tempat ia menempuh pendidikan di Yogyakarta. 

Kondisi serupa juga dirasakan oleh Cornelisiano Ligi Longa. Mahasiswa dari Universitas Mercua Buana Yogyakarta menyebut kampung halamannya di Ende terdampak gempa bumi. Kondisi rumahnya mengalami kerusakan cukup parah. Beruntung, keluarganya berhasil selamat dari gempa. 

"Karena saya berasal dari Ende, kondisi rumah saya cukup lumayan parah. Kalau kondisi orang tua, keluarga semua masih sehat-sehat baik-baik saja gitu," ucapnya.

Namun untuk menghubungi keluarga di kampung halamannya masih terkendala jaringan yang hingga kini masih sulit diakses. 

Untuk bertahan hidup, ia mengandalkan bantuan yang disalurkan oleh Pemda DIY pada hari ini. 

Seperti diketahui, pemda menyalurkan bantuan logistik bagi mahasiswa NTT yang tengah menempuh pendidikan di DIY. Adapun, bantuan permakanan yang diberikan di antaranya beras sebanyak 405 kilogram per bulan, telur dan makanan pendamping lainnya. 

Cornelis mengungkap, bantuan yang diberikan oleh Pemda dapat meringankan beban hidup mahasiswa NTT yang tinggal di Yogyakarta. 

"Saya mewakili teman-teman mahasiswa yang lain mengucapkan banyak-banyak limpahan terima kasih untuk segala jenis bantuan yang telah didonasikan buat kami yang ada di Yogyakarta," ungkapnya. (scp) 

 

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:17
05:07
01:30
06:26
01:12
01:16

Viral