- Tim tvOne - Sri Cahyani Putri
6 Gunung Erupsi Bersamaan Bukan Konspirasi, Pakar Vulkanologi UGM: Proses Alami Geologi
Sleman, tvOnenews.com - Aktivitas enam gunung api di Indonesia yang mengalami erupsi dalam waktu berdekatan sempat memunculkan dugaan adanya teori konspirasi.
Namun, pakar vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta menegaskan fenomena tersebut merupakan bagian dari proses alami geologi.
Pakar Vulkanologi UGM, Agung Harijoko menilai fenomena sejumlah gunung api mengalami erupsi pada waktu berdekatan tidak cukup menjadi dasar untuk menyimpulkan adanya konspirasi.
Aktivitas tersebut dapat dijelaskan sebagai bagian dari proses alami geologi yang berlangsung di wilayah Indonesia.
Sebelumnya, pernyataan dari Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Ulta Levenia Nababan menuai sorotan publik lantaran mengaitkan ada faktor lain di balik aktivitas erupsi enam gunung api di sejumlah wilayah Indonesia.
Ulta menyinggung fenomena itu berkaitan dengan proyek penelitian High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP).
"Kalau saya, sampai saat ini, masih percaya bahwa proses erupsi gunung api itu adalah proses geologi. Jadi tidak ada kaitannya dengan ada teknologi frekuensi atau apa itu," kata Agung kepada awak media dalam acara bertajuk Pojok Bulaksumur, Rabu (9/9/2026).
Dosen Fakultas Geografi UGM menerangkan proses geologi merupakan proses alam di mana dapur magma membangun tekanan, dan tekanannya kemudian menjadi cukup tinggi sehingga bisa menerobos keluar.
Secara alamiah, aktivitas enam gunung api yang aktif bersamaan sangat mungkin sekali terjadi. Salah satunya terjadi di Gunung Anak Krakatau.
Menurutnya, erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan fenomena yang terjadi di tahun 1883 silam. Agung menilai bahwa tipe erupsi biasanya sangat dipengaruhi oleh jenis magmanya.
Adapun, jenis magma untuk erupsi Gunung Anak Krakatau di tahun 1883 sangat berbeda dengan magma yang dierupsikan di 30 tahun terakhir ini.
"Magma di tahun 1883 itu mempunyai gas sulfur dioksida (SO2) 70% kandungan. Sedangkan, magma yang dierupsikan di 30 tahun terakhir masih cukup rendah 55%," ungkap Agung.
Secara potensi, tipe erupsinya tentu akan berbeda dan itu bisa dilihat juga dari erupsinya. Selama 30 tahun terakhir ini, erupsinya mempunyai Indeks Eksplosivitas Vulkanik (VEI) 1 sampai 3 sehingga tergolong relatif rendah. Serta, biasanya memang berasosiasi atau disebabkan jika magmanya mempunyai SO2 rendah sekitar 55%.
Disinggung terkait aktivitas erupsi yang terjadi akan membangun tubuh baru Anak Krakatau, Agung menyebut karena VEI direntang 1-3 sehingga lontarannya juga lokal. Dengan demikian, menumpuk di sekitar pusat erupsinya sehingga morfologinya akan terbangun.
Namun, yang menjadi permasalahan adalah di mana tubuh gunung api itu berdiri. Menurut studi yang sudah dilakukan, Gunung Anak Krakatau berdiri di atas tepi kaldera dari erupsi 1883, sehingga di bawah itu bukan suatu dataran yang stabil, tapi mungkin karena kaldera mesti ada tebing yang cukup terjal.
"Kemungkinan itu yang juga menyebabkan mudahnya longsor seperti di 2018. Itu sudah terbukti longsorannya cukup besar bisa menimbulkan ikutan, yaitu tsunami," ucap Agung.
Repotnya, BMKG dalam membangun peringatan tsunami berdasarkan gempa, karena yang dipantau adalah tsunami ikutan dari gempa bumi. Sedangkan, fenomena yang terjadi pada 2018 adalah tsunami ikutan dari longsoran gunung api.
Disini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) juga tidak mempunyai data akan ada erupsi besar, karena memang erupsinya hanya berupa longsor.
Maka, harapannya ke depan bahwa perubahan morfologi dari gunung api yang harus dipantau juga untuk menghitung potensi adanya longsoran.
Terkait dengan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mengarah ke Samudra Hindia ketimbang Pulau Jawa dan Sumatera, Agung menjelaskan bahwa partikel abu vulkanik yang berukuran halus kemudian terbang karena pengaruh arah angin.
"Kalau bisa dicek juga di situsnya BMKG yang memantau arah anginnya itu ternyata tidak seragam. Di satu titik itu di ketinggian tertentu juga akan berbeda. Ketika abu vulkanik itu erupsinya ke atas sudah mencapai zona tertentu, maka arah anginlah yang akan mempengaruhi ke mana abu itu akan terbang," pungkas Agung. (scp/buz)