- tvOnenews.com/Wildan M.
Pengamat Ungkap Rupiah Berpotensi Sentuh Rp18.300 per Dolar AS Pekan Depan
Jakarta, tvOnenenews.com – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan pekan depan karena meningkatnya tensi geopolitik global hingga potensi perubahan arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi Indonesia, mulai dari neraca perdagangan, inflasi, PMI manufaktur, cadangan devisa, hingga Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dinilai berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
“Nah, kemudian untuk rupiah sendiri kita melihat bahwa minggu depan pasar akan melihat tentang banyaknya data yang akan dirilis di Amerika, di Indonesia terutama adalah neraca perdagangan yang kemungkinan besar neraca perdagangan di bulan Juni ini akan terjadi defisit. Ya ini pun juga akan mempengaruhi terhadap apa? Rupiah ya pekan depan,” kata Ibrahim saat dihubungi tvOnenews.com, Minggu (2/8/2026).
Selain neraca perdagangan, Ibrahim memperkirakan inflasi domestik akan melandai karena dampak intervensi pasar terhadap harga pangan.
“Kemudian yang kedua tentang masalah inflasi. Inflasi pun juga kemungkinan besar ini akan melanda ya karena harga-harga relatif lebih turun karena adanya intervensi pasar bisa saja di bawah 3,34 persen,” ujarnya.
Di sektor industri, Ibrahim memperkirakan aktivitas manufaktur Indonesia masih belum mampu keluar dari zona kontraksi.
“Kemudian kita melihat juga tentang data PMI Manufaktur. Indonesia yang kemungkinan besar masih akan terkontraksi di bawah 50 walaupun kemungkinan besar di bulan Juli di atas 46,9 tapi masih terkontraksi. Dan ini mengindikasikan bahwa tenaga kerja, ya ini menurun drastis, PHK di mana-mana,” katanya.
Ia juga memproyeksikan cadangan devisa Indonesia akan mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.
“Kemudian untuk cadangan devisa pun juga kemungkinan besar cadangan devisa ini akan mengalami penurunan dibandingkan di bulan Juni. Di bulan Juni kita lihat di US$145,6 miliar. Kemungkinan besar akan mengalami penurunan dan cadangan devisa ini hanya bisa digunakan untuk 4,9 bulan,” ucap Ibrahim.
Menurutnya, tingkat cadangan devisa tersebut belum memenuhi standar yang umumnya menjadi acuan bagi negara dengan peringkat utang kategori investment grade.