news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

ilustrasi dolar as.
Sumber :
  • tvOnenews.com/Wildan M.

Pengamat Ungkap Rupiah Berpotensi Sentuh Rp18.300 per Dolar AS Pekan Depan

Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan pekan depan karena meningkatnya tensi geopolitik global hingga potensi perubahan arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat.
Minggu, 2 Agustus 2026 - 11:08 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenenews.com – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan pada perdagangan pekan depan karena meningkatnya tensi geopolitik global hingga potensi perubahan arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi Indonesia, mulai dari neraca perdagangan, inflasi, PMI manufaktur, cadangan devisa, hingga Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dinilai berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

“Nah, kemudian untuk rupiah sendiri kita melihat bahwa minggu depan pasar akan melihat tentang banyaknya data yang akan dirilis di Amerika, di Indonesia terutama adalah neraca perdagangan yang kemungkinan besar neraca perdagangan di bulan Juni ini akan terjadi defisit. Ya ini pun juga akan mempengaruhi terhadap apa? Rupiah ya pekan depan,” kata Ibrahim saat dihubungi tvOnenews.com, Minggu (2/8/2026).

Selain neraca perdagangan, Ibrahim memperkirakan inflasi domestik akan melandai karena dampak intervensi pasar terhadap harga pangan.

“Kemudian yang kedua tentang masalah inflasi. Inflasi pun juga kemungkinan besar ini akan melanda ya karena harga-harga relatif lebih turun karena adanya intervensi pasar bisa saja di bawah 3,34 persen,” ujarnya.

Di sektor industri, Ibrahim memperkirakan aktivitas manufaktur Indonesia masih belum mampu keluar dari zona kontraksi.

“Kemudian kita melihat juga tentang data PMI Manufaktur. Indonesia yang kemungkinan besar masih akan terkontraksi di bawah 50 walaupun kemungkinan besar di bulan Juli di atas 46,9 tapi masih terkontraksi. Dan ini mengindikasikan bahwa tenaga kerja, ya ini menurun drastis, PHK di mana-mana,” katanya.

Ia juga memproyeksikan cadangan devisa Indonesia akan mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

“Kemudian untuk cadangan devisa pun juga kemungkinan besar cadangan devisa ini akan mengalami penurunan dibandingkan di bulan Juni. Di bulan Juni kita lihat di US$145,6 miliar. Kemungkinan besar akan mengalami penurunan dan cadangan devisa ini hanya bisa digunakan untuk 4,9 bulan,” ucap Ibrahim.

Menurutnya, tingkat cadangan devisa tersebut belum memenuhi standar yang umumnya menjadi acuan bagi negara dengan peringkat utang kategori investment grade.

“Artinya apa? Bahwa 4,9 bulan itu tidak sesuai dengan pemeriksaan internasional yang dikatakan bahwa negara yang mempunyai rating utang di Triple B harus di 5 bulan untuk cadangan devisanya,” ujarnya.

Tak hanya itu, daya beli masyarakat juga dinilai masih menghadapi tekanan yang tercermin dari tren penurunan Indeks Keyakinan Konsumen.

“Kemudian yang terakhir adalah tentang IKK, Indeks Keyakinan Konsumen. Kemungkinan besar di bulan Juli ini pun juga akan menurun. Kita tahu bahwa dari mulai bulan Januari, ya Mei, Juni, Juli, ya ini terus mengalami penurunan IKK dari bulan Januari di 129, ya sampai di Juni itu di 117,8 ada kemungkinan besar di bulan Juli itu di 116,6,” jelasnya.

Ibrahim menegaskan kombinasi berbagai data tersebut diperkirakan akan menjadi sentimen utama yang menggerakkan pasar keuangan domestik dalam beberapa hari ke depan.

“Nah, ini mengindikasikan bahwa data yang akan dirilis oleh BPS maupun Bank Indonesia yang minggu depan ini akan berpengaruh terhadap pergerakan mata uang rupiah. Rupiah kemungkinan besar akan melemah, bisa saja mendekati level di Rp18.250 sampai di Rp18.300-an,” tegasnya. (agr/nsi)

 
 
 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

06:51
04:45
01:30
01:23
06:42
38:14

Viral