news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Dari Manado untuk Dunia: WCD 2026 Satukan 21 Negara demi Penguatan Ekosistem Kelapa Berkelanjutan..
Sumber :
  • Istimewa

Soroti Pola Tanam Tradisional, Menko Zulhas Dorong Pembenahan Rantai Pasok Kelapa di WCD 2026

Gelaran berskala global World Coconut Day (WCD) 2026 resmi dimulai pada Kamis (8/10) di Hotel Courtyard by Marriott, Manado, Sulawesi Utara. 
Jumat, 9 Oktober 2026 - 20:09 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Gelaran berskala global World Coconut Day (WCD) 2026 resmi dimulai pada Kamis (8/10) di Hotel Courtyard by Marriott, Manado, Sulawesi Utara. 

Seremoni pembukaan ditandai lewat pemukulan instrumen musik tradisional kolintang oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus, serta Direktur Jenderal International Coconut Community (ICC) Dr. Jelfina C. Alouw.

Jelfina menorehkan catatan bersejarah sebagai figur pertama asal Indonesia yang memimpin ICC sejak organisasi bentukan UNESCAP tersebut berdiri pada 1969, di mana Indonesia tercatat sebagai salah satu negara pemrakarsanya.

Konferensi tingkat dunia ini dihadiri oleh 700 delegasi dari 21 negara anggota ICC. 

Selain merancang arah kebijakan strategis dan alih teknologi bersama sejumlah negara seperti Belgia, Jepang, Sri Lanka, Thailand, India, hingga Filipina, perhelatan ini memprioritaskan akselerasi hilirisasi industri kelapa sekaligus mempromosikan pariwisata serta kekayaan budaya Sulawesi Utara.

Kendati berlangsung di panggung diplomasi internasional, agenda utama WCD 2026 bertumpu pada persoalan mendasar: pembenahan tata kelola rantai pasok dan perbaikan taraf hidup petani kelapa swadaya. 

Kelompok petani di tingkat akar rumput ini memegang peranan krusial karena menguasai 90 persen produksi nasional, menempatkan Indonesia sebagai produsen kelapa terbesar kedua di panggung global.

Kritik Menko Pangan atas Praktik Budidaya

Saat menyampaikan sambutannya, Menko Pangan Zulkifli Hasan mengkritisi pola budidaya perkebunan kelapa di tanah air yang dinilainya masih sangat pasif dan minim dukungan teknologi maupun intervensi kebijakan.

"Selama ini kelapa itu seperti 'Tuhan yang tanam, Tuhan yang petik'. Tanaman dibiarkan tumbuh sendiri, lalu saat berbuah tinggal dipetik tanpa ada perawatan, pemupukan, atau peremajaan benih yang terencana," tegas Menko Pangan Zulkifli Hasan saat membuka perhelatan WCD 2026 di Manado.

Pernyataan tersebut memotret ketimpangan struktural di sektor hulu. Mayoritas kebun rakyat dikelola dalam luasan sempit dengan tanaman yang menua, diperberat oleh minimnya permodalan dan teknologi pascapanen. 

Kondisi ini membuat petani kerap terjebak pada posisi tawar yang rentan; ketika harga produk turunan melonjak di pasar ekspor, keuntungan terbesar justru terhenti di tingkat perantara atau tengkulak.

Berita Terkait

1
2 3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:50
02:47
06:54
06:16
06:20
07:15

Viral