- Gambar ilustrasi AI
Mengapa Ruang Interaktif Penting bagi Anak? Ini Manfaatnya untuk Tumbuh Kembang dan Kreativitas
tvOnenews.com - Ketika anak memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi benda, warna, bentuk, dan aktivitas yang bisa disentuh atau dimainkan, yang terjadi sebenarnya bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu.
Anak sedang mengamati, mencoba, membuat keputusan, bahkan belajar memahami hubungan antara dirinya dengan lingkungan.
Konsep seperti ini semakin banyak digunakan dalam pendidikan anak dan ruang publik. Alih-alih menempatkan anak sebagai penerima informasi, ruang interaktif memberikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi pelaku utama.
Anak dapat memilih aktivitas, mencoba sesuatu berulang kali, menemukan kesalahan, lalu mencari cara lain untuk menyelesaikannya.
Gagasan tersebut sejalan dengan berbagai kajian mengenai pembelajaran berbasis bermain. OECD menyebut pengalaman bermain dapat membantu anak berinteraksi dengan orang lain sekaligus belajar melalui pengalaman yang menyenangkan.
Dalam perkembangan anak usia dini, kualitas interaksi dengan orang dewasa, anak lain, ruang, dan benda di sekitarnya juga menjadi bagian penting dari proses belajar.
Mengapa Ruang Interaktif Penting bagi Anak?
Ruang interaktif pada dasarnya dirancang agar anak tidak hanya melihat, tetapi juga melakukan sesuatu. Mereka dapat menyusun benda, menggambar, bergerak, mengamati perubahan, bermain peran, atau menciptakan bentuk berdasarkan imajinasi sendiri.
Aktivitas tersebut dapat membantu mengembangkan sejumlah kemampuan dasar, mulai dari koordinasi motorik, komunikasi, pemecahan masalah, hingga keterampilan sosial.
OECD dalam kajiannya mengenai pendidikan anak usia dini menekankan bahwa bermain dan eksplorasi merupakan bagian penting dalam membangun rasa ingin tahu, ketekunan, kepercayaan diri, serta kemampuan mengatur diri.
Bahkan, bermain tidak harus dipertentangkan dengan belajar. OECD mencatat bahwa bermain bebas maupun bermain dengan arahan sama-sama dapat membantu anak memahami dunia, mengembangkan kemampuan kognitif dan sosial-emosional, serta membangun rasa ingin tahu.
Karena itu, ruang interaktif yang baik bukan berarti ruangan yang dipenuhi teknologi canggih. Yang lebih penting adalah apakah ruang tersebut memberikan kesempatan kepada anak untuk mengambil keputusan, mencoba, berkomunikasi, dan menciptakan sesuatu.
Konsep Ini Sudah Diterapkan di Sejumlah Negara Maju
Model pembelajaran berbasis eksplorasi bukan gagasan baru. Berbagai negara dan institusi pendidikan di negara maju telah mengembangkan lingkungan belajar yang memberi ruang lebih besar bagi aktivitas bermain dan interaksi.
Dalam laporan Education Policy Outlook 2025, OECD mencatat sejumlah sistem pendidikan menggunakan lingkungan berbasis bermain untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemampuan belajar anak.
Negara seperti Selandia Baru dan Kosta Rika termasuk yang menekankan lingkungan bermain untuk membangun kemauan belajar, sementara negara lain mengembangkan pendekatan yang menggabungkan perkembangan kognitif, sosial, emosional, serta penggunaan teknologi.
Contoh lain dapat ditemukan di Amerika Serikat melalui Smithsonian Institution. National Museum of American History memiliki Wegmans Wonderplace, ruang yang menghubungkan koleksi museum dengan aktivitas bermain anak.
Salah satu areanya memungkinkan anak mengeksplorasi berbagai material bangunan melalui aktivitas sensorik, sementara orang tua didorong untuk mengamati dan mengembangkan pembelajaran dengan pertanyaan terbuka.
Smithsonian juga mengembangkan berbagai sumber pembelajaran bagi anak usia dini yang menggunakan aktivitas langsung untuk melatih kemampuan mengamati, bertanya, berpikir kritis, dan memecahkan masalah.
- Tangkapan layar
Pendekatan serupa juga mendapat perhatian dalam kajian OECD mengenai desain ruang anak. Lingkungan yang fleksibel dan menyediakan kesempatan eksplorasi dapat mendorong aktivitas kreatif, interaksi sosial, sekaligus membantu anak belajar mengambil keputusan dan memahami risiko secara bertahap.
Konsep tersebut kemudian mulai diterjemahkan ke berbagai ruang publik, termasuk pusat perbelanjaan. Ruang komersial tidak lagi semata-mata menjadi tempat transaksi, tetapi dapat dirancang sebagai ruang keluarga yang menyediakan pengalaman berbeda bagi anak dan orang tua.
Salah satu contoh penerapannya hadir melalui kolaborasi Bimbi Group dengan Boss Kidswear di Pacific Place Mall Jakarta, melalui instalasi interaktif “Boss in the City”, sebuah kota miniatur yang dikembangkan bersama seniman kontemporer Indonesia Adi Sundoro.
Instalasi tersebut menggunakan gagasan tentang kota sebagai ruang untuk bermain, berimajinasi, dan bereksplorasi. Anak diberi kesempatan untuk membangun atau membayangkan lingkungan versinya sendiri.
Pengalaman semacam itu diharapkan bisa menghadirkan ruang dan memberikan pengalaman kepada anak. "Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kami menghadirkan pengalaman yang dipenuhi rasa playful, wonderment, dan excitement. Kami ingin pelanggan tidak hanya mengenakan koleksinya, tetapi juga memahami cerita di baliknya," ujar Jessica Wijaya.
Seniman Adi Sundoro melihat instalasi tersebut sebagai salah satu cara memberikan stimulus agar anak lebih bebas mengekspresikan gagasannya. "Yang kami sediakan untuk anak-anak ya memang mungkin men-trigger-nya bagaimana mereka bisa berekspresi," tutur Adi.
Pada akhirnya, nilai sebuah ruang interaktif tidak semata-mata terletak pada bentuk instalasinya. Faktor yang lebih menentukan adalah kesempatan yang diberikan kepada anak untuk bertanya, mencoba, bergerak, berinteraksi, dan menciptakan sesuatu.
Dengan pendekatan tersebut, ruang bermain dapat berkembang menjadi ruang belajar yang tidak terasa seperti belajar. Anak tetap bermain, sementara rasa ingin tahu dan kemampuan mereka berkembang melalui pengalaman langsung. (udn)