news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Bukan Cuma Soal Jarang Sikat Gigi, Ini Penyebab Utama Bau Mulut yang Sering Tak Disadari Banyak Orang.
Sumber :
  • Gambar ilustrasi AI / Gemini

Bukan Cuma Soal Jarang Sikat Gigi, Ini Penyebab Utama Bau Mulut yang Sering Tak Disadari Banyak Orang

Bau mulut atau halitosis ternyata tak hanya disebabkan kebersihan gigi. Kenali penyebab, peran stres, mulut kering, diet tinggi protein, dan bakteri
Kamis, 27 Agustus 2026 - 14:00 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Bau mulut sering dianggap sebagai persoalan sederhana: seseorang lupa menyikat gigi atau mengonsumsi makanan tertentu. Padahal, ketika aroma tidak sedap dari mulut muncul berulang dan menetap, persoalannya bisa jauh lebih kompleks. 

Kondisi tersebut dikenal sebagai halitosis, yang dapat berkaitan dengan kebersihan rongga mulut, produksi air liur, pola makan hingga kondisi kesehatan tertentu.

Di tengah kehidupan masyarakat urban yang serba cepat, persoalan tersebut menjadi semakin relevan. Rutinitas kerja yang padat, kurang tidur, stres, konsumsi kopi, rokok, hingga perubahan pola makan dapat memengaruhi kondisi rongga mulut. 

Salah satunya adalah kecenderungan menjalani pola makan tinggi protein yang membuat komposisi sisa makanan di dalam mulut berubah.

Yang menarik, pemicu bau mulut sebenarnya tidak selalu berasal dari makanan yang aromanya menyengat. Di dalam rongga mulut terdapat jutaan bakteri yang dapat memecah protein dan menghasilkan senyawa berbau. 

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) menjelaskan dalam sejumlah penelitian bahwa Volatile Sulfur Compounds (VSC), terutama hidrogen sulfida (H₂S) dan metil merkaptan (CH₃SH), memiliki peran penting dalam terjadinya halitosis.

Halitosis Tidak Sekadar Masalah Kebersihan Mulut

Menurut Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, halitosis merupakan kondisi berupa bau atau aroma yang tidak menyenangkan ketika udara diembuskan. 

Beberapa kondisi rongga mulut yang dapat memicunya antara lain berkurangnya aliran saliva, meningkatnya bakteri anaerob, bertambahnya protein makanan, serta penumpukan sel mati dan jaringan epitel di dalam mulut. Aktivitas bakteri tersebut kemudian menghasilkan VSC yang memiliki aroma tidak sedap.

Data yang kerap dikutip dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI menunjukkan prevalensi halitosis sebesar 28,6 persen. 

Namun, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena merupakan data lama dan bukan survei nasional terbaru khusus halitosis. Sumber medis yang merujuk data Kemenkes tersebut juga mencatat bahwa hingga kini belum tersedia data epidemiologi nasional terbaru mengenai prevalensi halitosis di Indonesia.

Penelitian tersebut turut memperlihatkan bahwa halitosis merupakan persoalan yang bukan hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga memiliki dimensi sosial. Kajian mengenai halitosis menyebut kondisi tersebut dapat memengaruhi citra diri dan kepercayaan diri seseorang. 

Berita Terkait

1
2 3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:06
07:17
05:09
04:35
01:19
01:25

Viral