- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Bukan Cuma Soal Jarang Sikat Gigi, Ini Penyebab Utama Bau Mulut yang Sering Tak Disadari Banyak Orang
tvOnenews.com - Bau mulut sering dianggap sebagai persoalan sederhana: seseorang lupa menyikat gigi atau mengonsumsi makanan tertentu. Padahal, ketika aroma tidak sedap dari mulut muncul berulang dan menetap, persoalannya bisa jauh lebih kompleks.
Kondisi tersebut dikenal sebagai halitosis, yang dapat berkaitan dengan kebersihan rongga mulut, produksi air liur, pola makan hingga kondisi kesehatan tertentu.
Di tengah kehidupan masyarakat urban yang serba cepat, persoalan tersebut menjadi semakin relevan. Rutinitas kerja yang padat, kurang tidur, stres, konsumsi kopi, rokok, hingga perubahan pola makan dapat memengaruhi kondisi rongga mulut.
Salah satunya adalah kecenderungan menjalani pola makan tinggi protein yang membuat komposisi sisa makanan di dalam mulut berubah.
Yang menarik, pemicu bau mulut sebenarnya tidak selalu berasal dari makanan yang aromanya menyengat. Di dalam rongga mulut terdapat jutaan bakteri yang dapat memecah protein dan menghasilkan senyawa berbau.
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (FKG UI) menjelaskan dalam sejumlah penelitian bahwa Volatile Sulfur Compounds (VSC), terutama hidrogen sulfida (H₂S) dan metil merkaptan (CH₃SH), memiliki peran penting dalam terjadinya halitosis.
Halitosis Tidak Sekadar Masalah Kebersihan Mulut
Menurut Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, halitosis merupakan kondisi berupa bau atau aroma yang tidak menyenangkan ketika udara diembuskan.
Beberapa kondisi rongga mulut yang dapat memicunya antara lain berkurangnya aliran saliva, meningkatnya bakteri anaerob, bertambahnya protein makanan, serta penumpukan sel mati dan jaringan epitel di dalam mulut. Aktivitas bakteri tersebut kemudian menghasilkan VSC yang memiliki aroma tidak sedap.
Data yang kerap dikutip dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI menunjukkan prevalensi halitosis sebesar 28,6 persen.
Namun, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena merupakan data lama dan bukan survei nasional terbaru khusus halitosis. Sumber medis yang merujuk data Kemenkes tersebut juga mencatat bahwa hingga kini belum tersedia data epidemiologi nasional terbaru mengenai prevalensi halitosis di Indonesia.
Penelitian tersebut turut memperlihatkan bahwa halitosis merupakan persoalan yang bukan hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga memiliki dimensi sosial. Kajian mengenai halitosis menyebut kondisi tersebut dapat memengaruhi citra diri dan kepercayaan diri seseorang.
Stres dan Diet Tinggi Protein Bisa Memperburuk Bau Mulut
Salah satu faktor yang sering luput diperhatikan adalah mulut kering. Ketika produksi air liur berkurang, kemampuan alami rongga mulut untuk membersihkan sisa makanan dan mengendalikan mikroorganisme juga dapat terganggu.
Stres menjadi salah satu kondisi yang dapat berkaitan dengan perubahan tersebut. Bagi masyarakat yang menjalani aktivitas padat, kondisi mulut kering dapat diperburuk oleh kebiasaan lain, seperti kurang minum atau terlalu banyak mengonsumsi minuman berkafein.
Pada saat bersamaan, tren diet tinggi protein juga perlu diperhatikan. Protein yang tersisa di rongga mulut dapat menjadi substrat bagi bakteri tertentu.
Dalam proses pemecahannya, bakteri menghasilkan senyawa sulfur yang mudah menguap. H₂S dapat menghasilkan aroma yang menyerupai telur busuk, sementara metil merkaptan memiliki karakter bau yang kuat dan tidak menyenangkan.
Penelitian tersebut secara khusus menunjukkan hubungan VSC dengan aktivitas bakteri yang berkaitan dengan penyakit periodontal. Artinya, bau mulut yang menetap tidak seharusnya hanya dianggap sebagai persoalan kosmetik karena bisa menjadi tanda adanya masalah pada rongga mulut.
Karena itu, penyebab halitosis dapat berlapis. Kebersihan gigi dan lidah yang kurang baik, plak, karies, penyakit gusi, infeksi rongga mulut, mulut kering, kebiasaan merokok, hingga sisa makanan dapat berkontribusi terhadap munculnya bau.
Perawatan Bau Mulut Tak Cukup Sekadar Menutup Aroma
Kesadaran terhadap persoalan kesehatan mulut kemudian ikut mendorong berkembangnya industri perawatan oral. Proyeksi tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian konsumen terhadap solusi perawatan bau mulut.
Namun, penggunaan produk penyegar napas atau pasta gigi dengan sensasi mint pada dasarnya tidak selalu menyelesaikan sumber persoalan. Jika penyebabnya adalah plak, penyakit gusi, karies, atau gangguan tertentu pada rongga mulut, penyebab tersebut tetap perlu ditangani.
Konsep skinification dalam perawatan oral kemudian ikut berkembang. Pendekatan ini menempatkan perawatan gigi dan mulut bukan sekadar rutinitas menyikat gigi, melainkan penggunaan bahan aktif yang ditujukan untuk kebutuhan tertentu. Perawatan mulut kini mulai dipandang sebagai bagian dari perawatan diri dan kualitas hidup.
“Melalui pendekatan oral beauty, ini tentu mendefinisikan ulang perawatan gigi agar masyarakat dapat mengekspresikan senyum terbaiknya tanpa rasa khawatir dalam setiap interaksi sosial,” kata Michelle, Country Manager usmile Indonesia dan Malaysia, Kamis (27/8/2026).
Varian usmile Fresh White dengan Zinc Glycinate, ditujukan untuk membantu menangani VSC. Sementara varian Repair White menggunakan hydroxyapatite dan bahan lain yang ditujukan untuk perawatan gigi sensitif.
Meski demikian, langkah paling penting tetap dimulai dari kebiasaan dasar: membersihkan gigi secara teratur, membersihkan lidah, menjaga asupan cairan, memperhatikan pola makan, serta memeriksakan kondisi gigi dan gusi secara berkala.
Dengan demikian, bau mulut yang terus berulang sebaiknya tidak hanya ditutupi, tetapi dicari penyebabnya.
Jika aroma tidak sedap bertahan meski kebersihan mulut sudah dijaga, pemeriksaan dokter gigi menjadi langkah yang lebih tepat untuk mengetahui apakah terdapat masalah pada gigi, gusi, produksi saliva, atau kondisi lain yang membutuhkan penanganan. (udn)