- Antara
Rangkaian Ajang Internasional Tahunan ACTO-ASPI, RSCM Gelar Talkshow Dorong Edukasi Stem Cell
tvOnenews.com - PT Kimia Farma (Persero) Tbk (“Kimia Farma”) terus memperkuat penetrasi dan edukasi publik terkait keamanan terapi sel punca (stem cell). Upaya itu menjadi bagian dari dukungan Kimia Farma dalam mengakselerasi pengembangan bisnis regenerative medicine di Indonesia.
Hal itu menjadi bahasan Kimia Farma pada Talk Show Awam “Update Terapi Sel Punca & Turunannya di Indonesia” sebagai rangkaian ajang internasional tahunan Asian Cellular Therapy Organization & Asosiasi Sel Punca Indonesia (ACTO-ASPI) Annual Meeting 2026 pada Sabtu (29/8) di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) Kencana.
ACTO-ASPI Annual Meeting 2026 mempertemukan peneliti, dokter, regulator, akademisi dan pelaku industri dari berbagai negara untuk membahas perkembangan ilmiah, penerapan klinis, hingga regulasi terapi berbasis sel. Kimia Farma menggunakan media Talk Show Awam untuk menyampaikan perkembangan ilmiah dengan bahasa yang mudah dipahami, termasuk memperkenalkan StemXera sebagai portofolio produk yang berbasis riset dan teknologi tinggi.
StemXera adalah merek produk sel punca dan sekretom hasil pengembangan Kimia Farma bersama RSCM sejak 2013. Resmi meluncur pada April 2026, StemXera adalah solusi terapi regeneratif alternatif yang inovatif, khususnya untuk penanganan kondisi degeneratif dan kebutuhan terapi lanjutan di bidang medis. Sebagai produk fasilitas laboratorium stem cell RSCM, StemXera telah memperoleh sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) karena memiliki kualitas tinggi dengan standar mutu dan keamanan yang sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Direktur Komersial Kimia Farma, Hanadi Setiarto, menjelaskan bahwa saat ini tantangan utama komersialisasi regenerative medicine adalah memastikan pemahaman publik sejalan dengan masifnya perkembangan inovasi medis. Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang regenerative medicine membuka peluang baru dalam dunia kesehatan, namun perlu diimbangi dengan edukasi yang memadai kepada masyarakat.
"Fokus jangka pendek kami tidak sebatas memperkenalkan StemXera ke publik, melainkan memperluas jaringan fasilitas kesehatan yang mampu menyediakan layanan terapi ini dengan standar keamanan tinggi. Untuk jangka menengah dan panjang, kami mendorong multicenter study agar pemanfaatan klinis StemXera kedepannya semakin luas, proporsional, dan ditopang bukti medis (clinical evidence) yang solid," ujar Hanadi, Sabtu (29/8).
Terapi Stem Cell Atasi Masalah Kesehatan dari Pengapuran Sendi hingga Estetika Regenerative medicine atau kedokteran regeneratif merupakan pendekatan medis tingkat lanjut yang memanfaatkan kemampuan sel dan komponen biologis tubuh untuk memperbaiki, meregenerasi, atau memulihkan jaringan yang mengalami kerusakan. Salah satu teknologi yang berkembang dalam bidang ini adalah pemanfaatan sel punca dan turunannya, termasuk secretome.
Secara konkret, terapi berbasis sel punca ini diperuntukkan bagi beragam masalah kesehatan. Dalam bidang ortopedi untuk menangani kondisi degeneratif sendi, seperti pengapuran sendi (osteoarthritis). Dalam bidang neurologi, untuk penelitian dan pengembangan terapi regeneratif untuk kondisi neurologis tertentu, termasuk stroke.
Terapi ini juga bisa dimanfaatkan dalam bidang dermatologi dan estetika untuk mengatasi masalah kerontokan rambut (hair loss), peremajaan kulit (skin rejuvenation), hingga penanganan kondisi hiperpigmentasi seperti melasma. Menurut Hanadi, dalam pengembangan produk bioteknologi seperti StemXera, tantangannya bukan hanya menghadirkan inovasi, tetapi juga membangun pemahaman dan kepercayaan terhadap teknologi tersebut.
“Kemajuan terapi regeneratif tidak cukup hanya didorong oleh perkembangan teknologi. Masyarakat juga perlu memperoleh informasi yang tepat mengenai potensi manfaat, bukti ilmiah, keamanan, serta penggunaannya. Bagi Kimia Farma, inovasi harus berjalan beriringan dengan edukasi dan perluasan akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, aman, serta bertanggung jawab”, ujar Hanadi.
Oleh karena itu, Kimia Farma memandang penting adanya kolaborasi antara institusi pelayanan kesehatan, akademisi, peneliti, regulator, tenaga medis, dan industri untuk memastikan inovasi ilmiah dapat diterjemahkan menjadi manfaat klinis secara tepat. Dengan kolaborasi bersama RSCM dan berbagai institusi kesehatan lainnya, menurut Hanadi, Kimia Farma ingin berkontribusi membangun ekosistem regenerative medicine Indonesia yang mampu menghubungkan riset, teknologi, kemampuan produksi, tenaga medis, dan pelayanan kepada pasien.
“Kami percaya kolaborasi menjadi kunci agar inovasi kesehatan dapat berkembang secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat,” tutup Hanadi.(chm)