- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Kanker Payudara Bisa Terdeteksi Sebelum Gejala Muncul, Mengapa Pemeriksaan Rutin Tak Boleh Ditunda?
tvOnenews.com - Kanker payudara sering kali menjadi penyakit yang baru mendapat perhatian ketika seseorang menemukan benjolan atau merasakan perubahan pada tubuhnya. Padahal, menunggu munculnya gejala bukan satu-satunya cara untuk menemukan penyakit ini.
Deteksi dini justru dirancang untuk menemukan kelainan sebelum kanker berkembang lebih jauh atau ketika tanda-tandanya belum terasa.
Urgensi tersebut bukan tanpa alasan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat kanker payudara menyebabkan sekitar 694.000 kematian secara global pada 2024 dan menjadi kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di 164 dari 186 negara.
WHO juga menyebut sekitar 80 persen kanker payudara terjadi pada perempuan yang tidak memiliki faktor risiko spesifik selain jenis kelamin dan usia. Artinya, seseorang tidak selalu dapat mengandalkan riwayat keluarga atau munculnya keluhan sebagai alasan untuk mulai memperhatikan kesehatan payudara.
Negara dengan sistem kesehatan yang lebih maju juga menempatkan pemeriksaan rutin sebagai bagian penting dari strategi pengendalian kanker.
Di Amerika Serikat, misalnya, United States Preventive Services Task Force (USPSTF) merekomendasikan mammografi setiap dua tahun bagi perempuan berusia 40 hingga 74 tahun dengan risiko rata-rata.
Sementara di Inggris, program NHS menawarkan skrining mammografi setiap tiga tahun bagi perempuan usia 50 hingga sebelum 71 tahun. Perbedaan interval tersebut menunjukkan bahwa skrining bukan aturan tunggal untuk semua orang, melainkan perlu disesuaikan dengan pedoman dan kondisi masing-masing.
Deteksi Dini Tidak Harus Menunggu Keluhan
WHO membedakan deteksi dini kanker menjadi dua pendekatan. Pertama adalah early diagnosis, yakni mengenali tanda dan gejala kemudian segera melakukan pemeriksaan medis.
Kedua adalah skrining, yaitu pemeriksaan terhadap populasi yang belum menunjukkan gejala untuk menemukan kemungkinan kanker pada tahap lebih awal. Keduanya saling melengkapi dalam upaya mengurangi keterlambatan diagnosis.
Karena itu, perubahan pada payudara seperti benjolan, perubahan bentuk atau ukuran, perubahan kulit, perubahan puting, maupun keluarnya cairan yang tidak biasa sebaiknya tidak diabaikan. Namun, tidak adanya keluhan juga tidak otomatis berarti seseorang tidak membutuhkan pemeriksaan.
Pemeriksaan tidak harus menunggu tubuh menunjukkan rasa sakit. Pengalaman seorang penyintas yang kanker payudaranya ditemukan melalui pemeriksaan rutin menggambarkan persoalan tersebut. Ms. Quek mengatakan:
“Saya beruntung karena kanker saya terdeteksi sejak dini. Namun, saya tidak ingin deteksi dini menjadi sekadar masalah keberuntungan. Kami ingin membantu lebih banyak perempuan mendapatkan kesempatan yang sama melalui pemeriksaan dan deteksi dini. Anda tidak harus merasa sakit untuk melakukan pemeriksaan. Saya merasa baik-baik saja, tetapi pemeriksaan menemukan adanya kanker. Karena ditemukan sejak dini, saya memiliki kesempatan untuk segera mendapatkan penanganan,” ujar Ms. Quek, penyintas kanker payudara.
Mammografi Penting, tetapi Pemeriksaan Perlu Disesuaikan
Mammografi merupakan salah satu metode skrining utama untuk menemukan perubahan pada jaringan payudara sebelum gejala terlihat. USPSTF menyatakan mammografi digital maupun digital breast tomosynthesis atau mammografi 3D merupakan metode yang efektif untuk skrining.
Namun, rekomendasi tersebut berlaku untuk kelompok dengan risiko tertentu dan tidak otomatis menggantikan penilaian dokter pada perempuan dengan risiko tinggi.
WHO juga menekankan bahwa keberhasilan deteksi dini tidak berhenti pada pemeriksaan. Kelainan yang ditemukan harus diikuti evaluasi diagnostik, rujukan, dan pengobatan yang tepat. Dalam kondisi dengan sumber daya terbatas sekalipun, peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai tanda kanker dan akses terhadap diagnosis dapat membantu mempercepat penanganan.
Karena itu, pemeriksaan payudara sebaiknya dipahami sebagai rangkaian proses, bukan sekadar satu kali tes. Usia, riwayat keluarga, kepadatan payudara, riwayat penyakit, serta faktor risiko lain dapat memengaruhi keputusan pemeriksaan dan metode yang digunakan.
Pentingnya Kesadaran Pemeriksaan Rutin Kanker Payudara
Pesan mengenai pentingnya deteksi dini tersebut kemudian menjadi dasar peluncuran Pink Pulse Run 2026 oleh HMI Medical Group bersama Mahkota Medical Centre dan Regency Specialist Hospital dalam rangka Pink October. Kegiatan ini menggandeng Yayasan Daya Dara atau Love Pink Indonesia untuk meningkatkan kesadaran mengenai kesehatan payudara sekaligus memperluas dukungan terhadap pasien dan penyintas.
“Tujuan kami adalah mengubah kesadaran menjadi aksi. Kami ingin lebih banyak perempuan memahami pentingnya deteksi dini, tidak menunda pemeriksaan, dan mengetahui bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi kanker payudara,” ujar Group CEO HMI Medical, Ms. Chin Wei Jia.
Dalam kolaborasi tersebut, hasil penjualan race pack akan disalurkan kepada Yayasan Daya Dara untuk mendukung layanan pemeriksaan keliling yang dilengkapi ultrasonografi (USG) dan tenaga kesehatan profesional.
“Kanker payudara tidak mengenal batas negara, begitu pula upaya kita untuk meningkatkan kesadaran dan memberikan dukungan kepada pasien. Kami percaya kolaborasi dapat menciptakan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan bekerja sendiri,” kata Chin.
Dari sisi layanan, Mahkota Medical Centre menyebut memiliki penanganan kanker payudara yang melibatkan tim multidisiplin, mulai dari diagnosis, pembedahan, onkologi medis dan radiasi, rehabilitasi hingga tindak lanjut pasien. Rumah sakit tersebut juga menyatakan telah memperoleh JCI Clinical Care Program Certification for Breast Cancer selama dua siklus akreditasi berturut-turut.
Sementara itu, Regency Specialist Hospital baru meluncurkan pusat kanker yang ditujukan untuk mendukung diagnosis, perencanaan pengobatan, serta perawatan berkelanjutan.
Pesan utama dari kampanye ini bukan semata kegiatan lari atau peringatan Pink October. Hal yang lebih penting adalah mengubah kebiasaan: kesehatan payudara perlu diperhatikan sepanjang tahun. “Healthcare is not only about treating disease; it is about caring for the whole person throughout their journey,” ujar Chin. Jangan menunggu. Kenali risiko Anda, jaga kesehatan payudara, dan ajak perempuan yang Anda cintai melakukan hal yang sama.
Pada akhirnya, pesan terpenting dari upaya deteksi dini kanker payudara adalah jangan menunggu tubuh memberikan tanda sebelum mulai peduli.
Pemeriksaan rutin, mengenali perubahan pada payudara, memahami faktor risiko, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menemukan masalah lebih awal dan membuka peluang penanganan yang lebih cepat. Pink October boleh menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran, tetapi perhatian terhadap kesehatan payudara seharusnya tidak berhenti ketika kampanye berakhir. (udn)