- Wawan Priyanto
Test Drive Suzuki Fronx GL: Opsi Masuk Akal untuk Naik Kelas dari LCGC
tvOnenews.com - Umumnya sesi test drive mobil baru dilakukan menggunakan varian paling tinggi. Namun kali ini, tvOnenews.com memilih pendekatan berbeda dengan menjajal Suzuki Fronx varian terendah, yakni tipe GL bertransmisi otomatis.
Alasan pemilihan ini cukup sederhana, Fronx hadir dalam dua pilihan utama, hybrid dan non-hybrid, dan tipe GL menjadi pintu masuk paling rasional bagi konsumen yang ingin mencicipi kelas di atas LCGC.
Suzuki membedakan Fronx berdasarkan sektor dapur pacu. Varian hybrid (GX dan SGX) mengusung mesin K15C 1.462 cc empat silinder, sementara tipe GL mengandalkan mesin K15B berkapasitas sama, yang juga sudah dikenal luas di lini produk Suzuki.
Menggunakan Fronx Sepekan di Jakarta
Pengujian Fronx GL, tvOnenews.com lakukan selama sekitar satu minggu pada pertengahan Januari 2026, dengan penggunaan harian yang beragam. Mulai dari aktivitas olahraga, menghadiri rapat di pusat kota, menghadiri acara keluarga, hingga sekadar berkeliling Jakarta. Dengan skenario ini, karakter Fronx GL diuji dalam kondisi lalu lintas yang realistis.
- Wawan Priyanto
Kesan Berkendara
Hari pertama, Fronx GL menemani perjalanan menuju kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara, untuk mengikuti turnamen golf dalam rangkaian Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026. Perjalanan dimulai dari kawasan Pulo Gadung dan harus menghadapi kemacetan panjang di jalur tol.
Meski terjebak lalu lintas padat lebih dari satu jam, termasuk di ruas Tol Pelabuhan hingga Tol Bandara, konsumsi bahan bakar tetap terjaga. Berdasarkan tampilan MID, Fronx GL mencatat angka 13,2 km/liter dalam kondisi stop and go. Efisiensi ini tidak mengejutkan, mengingat mesin K15B sudah terbukti irit dan digunakan pula pada Suzuki Ertiga non-hybrid.
Mesin tersebut menghasilkan tenaga 104,7 PS pada 6.000 rpm dan torsi puncak 138 Nm di 4.400 rpm, disalurkan ke roda depan melalui transmisi otomatis 4-percepatan. Dengan bobot kendaraan sekitar 1.480 kg, Fronx GL terasa responsif saat berakselerasi.
Dimensi bodinya yang ringkas, panjang 3.995 mm, lebar 1.765 mm, dan tinggi 1.550 mm, membuat mobil ini lincah bermanuver di jalanan padat. Bobot ringan dan ukuran kompak juga berkontribusi pada efisiensi bahan bakar yang mendekati MPV Suzuki bermesin serupa.
Soal kenyamanan, Fronx GL memberi kejutan positif. Bantingan suspensinya terasa lebih nyaman dibandingkan Baleno yang dikenal agak keras. Kombinasi MacPherson Strut di depan dan torsion beam dengan per koil di belakang menghasilkan karakter suspensi yang stabil namun tetap mampu meredam guncangan dengan baik. Ban berukuran 195/60 R16 turut menunjang kestabilan dan grip.
Interior dan Kepraktisan
Masuk ke dalam kabin, Fronx GL menawarkan tata ruang yang efisien. Meski berstatus SUV kompak, ruang kabin cukup lapang untuk lima penumpang dewasa. Bahkan untuk aktivitas seperti golf, mobil ini mampu menampung hingga tiga tas golf, menjadikannya cukup fleksibel untuk kebutuhan gaya hidup aktif.
Fitur Berkendara
- Wawan Priyanto
Sebagai varian paling terjangkau, Fronx GL memang tidak dibekali teknologi ADAS seperti pada tipe SGX. Namun demikian, fitur yang tersedia tetap relevan untuk penggunaan harian.
Head unit layar sentuh 7 inci memang lebih kecil dibanding varian tertinggi, tetapi sudah mendukung konektivitas smartphone secara lengkap, baik melalui Bluetooth, kabel, maupun nirkabel. Yang patut diapresiasi, tipe GL sudah kompatibel dengan Apple CarPlay dan Android Auto, fitur penting bagi konsumen muda.
Di sektor keselamatan, Fronx GL tergolong lengkap. Mobil ini dibekali enam airbag, rangka TECT, ABS + EBD, ESP, Hill Hold Control, sensor parkir belakang, kamera mundur, serta immobilizer. Kamera belakang menampilkan visual yang cukup jelas, bahkan saat parkir di malam hari.
Perbedaan dengan Varian Tertinggi
Sebagai varian termurah dengan banderol sekitar Rp 272 juta, Fronx GL tentu memiliki sejumlah perbedaan dibanding GX dan SGX. Dari sisi eksterior, tampilannya masih serupa, namun detail seperti side skirt berwarna hitam, roof rail hitam, serta spion yang belum retractable otomatis menjadi pembeda. Velg tetap sama.
Perbedaan utama terletak pada mesin. Tipe GL menggunakan mesin K15B non-hybrid, sementara varian di atasnya mengusung mesin K15C dengan sistem Smart Hybrid Suzuki.
Sedangkan pada interior, setir masih berbahan plastik dan hanya bisa diatur tilt (tanpa telescopic). Tidak ada adaptive cruise control, wireless charger, keyless entry, dan speedometer masih analog. Meski begitu, fitur voice command tetap tersedia melalui koneksi smartphone.
Apa Layak Jadi Pilihan Pemilik LCGC?
- Wawan Priyanto
Dari segi tampilan, Suzuki Fronx memiliki daya tarik visual yang kuat, modal penting untuk menarik pengguna LCGC yang ingin naik kelas. Posisinya memang berada satu tingkat di atas LCGC, tetapi harga Fronx GL tidak terpaut jauh. Sebagai perbandingan, Honda Brio RS tertinggi dibanderol Rp 263,1 juta, sementara Fronx GL berada di kisaran Rp 272,5 juta.
Dengan selisih kurang dari Rp 10 juta, konsumen mendapatkan mobil dengan dimensi lebih besar, mesin lebih bertenaga, dan fitur keselamatan lebih lengkap. Efisiensi bahan bakarnya pun tetap kompetitif berkat rasio bobot dan mesin yang seimbang. (Wawan Priyanto)