- Tim tvOnenews - Karina M Ramadhani
Mengenal Desa Adat Sade, Warisan Budaya dan Permukiman Suku Sasak di Lombok Kini Ludes Terbakar
tvOnenews.com - Dengan cepat api membakar Desa Adat Sade, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Sabtu (23/8/2026) sekitar pukul 22.00 WITA.
Api dengan sangat cepat membakar rumah adat yang berbahan dari kayu, berdinding anyaman bambu (badek), beratap ilalang, serta lantai yang terbuat dari tanah liat yang dicampur kotoran kerbau dan jerami.
Terdapat 120 rumah ludes terbakar, sementara warga yang terdampak mencapai 320 jiwa atau 120 kepala keluarga.
Selain rumah warga, sejumlah fasilitas seperti masjid, museum, lapak UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) serta fasilitas umum lainnya turut ludes terbakar.
Terlepas dari insiden kebakaran ini, Desa Adat Sade menjadi salah satu kawasan permukiman masyarakat Suku Sasak yang masih mempertahankan kehidupan adat dan budaya secara turun temurun.
Seperti apa keindahan budaya dari Desa Adat Sade? Simak informasinya berikut ini.
Mengenal Desa Adat Sade Lombok
Desa Adat Sade dikenal sebagai salah satu permukiman tradisional masyarakat suku Sasak yang masih kental akan kehidupan adat dan budaya secara turun temurun.
Kawasan ini berada di Dusun Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB.
Desa yang terletak di pinggir Jalan Raya Praya-Kuta menjadi salah satu tujuan wisata budaya di Lombok lantaran lokasinya yang sangat mudah dijangkau oleh wisatawan.
Kehidupan masyarakat Suku Sasak yang masih mempertahankan nilai dan tradisi leluhur membuat desa adat ini memikat daya tarik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Terdapat pola kehidupan yang diwariskan turun temurun, seperti bentuk rumah, tradisi keluarga, kesenian, hingga kerajinan tangan seperti tenun.
Rumah Adat Desa Sade
- Tim tvOnenews - Karina M Ramadhani
Masyarakat di Desa Sade ini memiliki ciri khas dari bangunan rumah. Terdapat 4 bentuk bangunan seperti Bale Tani, Bale Alang, Bale Berudak dan Bale Kodong.
Bale Tani merupakan tempat tinggal utama bagi keluarga yang dibuat dengan filosofi yang sangat melekat.
Pada pintu masuk sengaja dibuat rendah dan sempit agar tamu dapat menunduk saat masuk ke dalam rumah sebagai simbol rasa saling menghormati antara tamu dan pemilik rumah.
Lantainya yang terbuat dari bahan-bahan organik dari alam, seperti tanah liat dengan dilumuri kotoran kerbau.
Tanah liat berfungsi agar lantai mudah dibersihkan, sedangkan kotoran kerbau membuat lantai menjadi padat dan kokoh.
Selain itu, kotoran kerbau juga dipakai untuk membersihkan lantai ketika acara adat. Sebab, kotoran kerbau dianggap suci juga menjadi tolak bala bagi masyarakat setempat
Sementara rangka rumah terbuat dari kayu tanpa paku besi, dinding yang terbuat dari anyaman bambu (badek) dan atap dari alang-alang atau jerami.
Di dalam rumah juga memiliki ruangan yang berbeda, sesangkok merupakan serambi atau ruangan untuk menerima tamu atau istirahat bagi penghuni rumah, sementara bale dalem menjadi ruang sakral untuk upacara adat di keluarga.
Secara adat, setiap rumah harus dihuni oleh satu kepala keluarga. Sehingga pada Desa Adat Sade terdapat 150 rumah keluarga.
Tenun Ikat Desa Sade
- Tim tvOnenews - Karina M Ramadhani
Para wanita Suku Sasak di desa tersebut memiliki pekerjaan sebagai petani dengan masa panen hanya setahun sekali.
Sehingga, selain masa bertani para wanita menghasilkan Tenun adat suku Sasak yang bernama Tenun Sesek.
Tradisi ini biasa dilakukan oleh para wanita asli desa tersebut lantaran tidak boleh merantau ke luar desa saat sudah dewasa.
Bahan membuat tenun seperti benang masih diproduksi secara mandiri dari serat kapas yang dipintal serta menggunakan dedaunan dan kulit kayu sebagai warna alami.
Tenun Sesek memiliki 25 motif khas Suku Sasak. Kain bertema motif tersebut lazim digunakan sebagai seserahan dari pihak pria saat hendak meminang seorang wanita di desa setempat.
(kmr)