- Instagram @leveenia
Ulta Levenia Ditanya Deddy Corbuzier soal Nyawa Terancam Karena Berani Bicara Vulgar soal Terorisme: Sebenernya Terancam Om ...
"Tapi, gue melihat orang di rumah bisa mati, dalam mobil bisa mati, jadi misal gua masuk ke Abu Sayyaf, masuk ke Taliban (aman)," terangkan Ulta.
Tampak terkejut, Deddy Corbuzier kembali mengkonfirmasi ucapan Ulta menyoal masuk ke markas terorisme.
"Anda masuk ke Taliban? Anda masuk ke Abu Sayyaf? Gak bisa cari hobi yang lain?" respons Deddy Corbuzier sambil menghela napas panjang.
"Bisa dibilang itu hobi gue, ya ngapain takut, orang gue ngerjain hobi gue kok," ucapnya.
"Nggak pernah dilecehkan di sana?" tanya kembali Deddy.
"Nggak pernah, paling diajak kawin doang, diajak kawinnya sama Abu Sayyaf, itu tantangannya," ujar Ulta.
Abu Sayyaf adalah kelompok teroris separatis atau kelompok militan Islamis yang bermarkas di Filipina Selatan, serta terafiliasi dengan Al-Qaida Asia.
Abu Sayyaf dikenal dengan berbagai aksi-aksi terorismenya seperti pembajakan di laut, penculikan dan penyanderaan guna meminta uang tebusan.
Ulta Levenia pun menerangkan cara dirinya untuk menolak ajakan (kawin) dari Abu Sayyaf.
"Diplomatik aja, diplomatis bilang kalau misalnya, gue ini kan orang Indonesia, gue peneliti, gue profesional," ujarnya.
"Hasil (penelitian) ini apakah diberikan untuk membantu pemerintahan kita juga?" tanya Deddy.
Ia pun mengiyakan ucapan dari Deddy Corbuzier, diakuinya bahwa beberapa penelitiannya berkontribusi untuk pemerintahan Indonesia.
"Dari riset gue itu, kemudian gua membangun jaringan di sana, teman-teman, bersenjata dan kelompok separatis, rebels," ujarnya.
"Dan mereka kan yang punya akses ke kelompok-kelompok lebih hardcore, jadi kalau Filipina Selatan itu ada yang sangat-sangat hardcore, ada yang hardcore saja, ada yang lu bisa jadiin teman," terangkannya.
Wanita berusia 28 tahun ini pun mengaku bahwa membuat jaringan yang menjadikan mereka teman, sehingga punya komunikasi lebih lanjut.
"Karena gua melihat apa yang terjadi di tetangga kita, itu berdampak ke Indonesia," ucapnya.
Ulta Levenia Nababan saat melakukan pekerjaannya sebagai peneliti terorisme di Datu Saudi, Ampatuan, sebuah provinsi di Filipina Selatan yang terkenal memiliki kelompok militan berhubungan erat dengan ISIS.