news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ustaz Sombat Jitmoud.
Sumber :
  • YouTube/herald-leader

Kisah Haru Seorang Ustaz Pilih Memaafkan Pembunuh Anaknya, Hakim Sampai Menangis: Aku Tidak Menyalahkanmu, tapi Aku Menyalahkan Setan!

Ustaz Sombat Jitmoud memaafkan pembunuh anaknya, sikap ini menjadi sorotan bahkan sampai membuat hakim menangis melihat kelapangan hatinya. Simak kisahnya!
Selasa, 2 April 2024 - 14:57 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Seorang guru agama asal Thailand di Amerika Serikat bernama Abdul Munim Sombat Jitmoud atau Ustaz Sombat Jitmoud, menjadi sorotan usai berbincang dengan aktor hollywood, Morgan Freeman yang ingin belajar ilmu keikhlasan.

Pada kesempatan itu, Freeman juga penasaran bagaimana pria yang dikenal sebagai Ustaz Jitmoud bisa memaafkan pelaku yang telah membunuh putranya.

Diketahui, Ustaz Sombat Jitmoud sempat bekerja sebagai kepala sekolah selama bertahun-tahun di beberapa madrasah atau sekolah Islam di Amerika Serikat, termasuk Lexington Universal Academy dan Al-Salam Day School di St. Louis.

Ustaz Sombat Jitmoud lahir dan dibesarkan di tengah keluarga petani di Thailand Tengah. Ia memiliki seorang istri bernama Linda Coloconis.

Setelah menikah, Jitmoud dikaruniai enam orang anak dan tinggal di Lexington. Namun, sang istri meninggal lebih dulu dan disusul putranya, Salahuddin yang tewas dibunuh. 

Pada tanggal 19 April 2015, anak Ustaz Sombat Jitmoud bernama Salahuddin dikabarkan meninggal dunia karena dibunuh. Salahuddin saat itu berusia 22 tahun tengah mengantar pizza di kompleks perumahan di St Louis dan ditikam sampai meninggal.

Pada malam pembunuhan, Salahuddin mengantar pizza yang seharusnya bukan tugasnya, melainkan rekannya yang merupakan seorang perempuan. Namun, karena rekannya takut, jadi ia dengan sukarela menggantikan untuk mengantar pizza tersebut.

Sayang, Salahuddin dirampok dan dihabisi oleh pria bernama Trey Alexander Relford bersama dua rekannya hingga meninggal dunia. Saat anaknya tewas, Ustaz Sombat menerima telepon dari orang yang tak dikenal.

"Saya sangat terkejut. Saya berbaring selama tiga setengah dan jam. Penelpon mengatakan Salahuddin meninggal. Saya tak siap," ungkap Ustaz Sombat Jitmoud.

"Saya berjalan di kamar yang gelap dan saya berseru Inna Lillahi wa inna ilayhi raji'un, Allah telah membawa kembali Salahuddin," imbuhnya.

Momen Haru Ustaz Sombat Jitmoud Maafkan Pembunuh Anaknya

Meski berduka, dalam persidangan kematian sang anak, Ustaz Sombat Jitmoud berbesar hati memaafkan pelaku yang telah tega membunuh putranya.

Polisi menangkap tiga orang terkait pembunuhan ini, namun hanya Relford yang didakwa bersalah atas pembunuhan ini hingga merusak barang bukti dan perampokan.

Ada pernyataan menjelang vonis yang membuat hakim dan hadirin di ruang sidang menangis. Relford mengaku bersalah membunuh Salahuddin, namun Ustaz Sombat Jitmoud justru berbesar hati memberi maaf.

"Saya marah kepada setan yang mengiringmu melakukan kejahatan sadis ini. Saya tidak menyalahkanmu. Saya tidak marah kepadamu. Saya memaafkanmu," kata Ustaz Sombat mengulangi pernyataannya dalam vonis.

Pernyataan ini mengejutkan mereka yang hadir di persidangan. Saat sidang berlanjut, ibu dari Alexander Relford memberikan pernyataan, "Saya bertanggung jawab penuh atas meninggalnya anakmu, saya sangat berduka. Saya sangat terkejut atas pemberian maafmu,” kata ibu Relford.

Ustaz Sombat begitu tenang meski dihadapan pembunuh anaknya lantaran menurut saksi, Salahuddin sedang mengangkat jari telunjuknya yang berarti ia sempat mengucapkan syahadat sebelum meninggal.

Sombat bahkan menemui dan berbicara langsung kepada Relford yang menangis dan menyesali perbuatannya.

"Saat itu saya hampiri dia, saya pikir kuasa hukum akan mencegah saya. Saya melihat dia menangis, bahkan hadirin menangis, dan saya datangi dia," ucap Sombat.

"Saya minta dia jangan sedih karena dia ada peluang untuk hidup dan berbuat baik," sambungnya.

Hakim menjatuhi hukuman penjara 31 tahun untuk Relford. Ustaz Sombat mengatakan memaafkan orang yang membunuh anaknya tidak mudah, namun Islam mengajarkan untuk selalu memaafkan sepanjang hidup.

“Selama dua tahun tujuh bulan persidangan mereka tetap berduka karena meninggalnya Salahuddin, namun kami tak marah karena hal buruk bisa saja terjadi," kata Sombat.

“Saya juga berterima kasih kepada Allah bahwa saya tidak meninggal sebelum putra saya, namun istri saya meninggal terlebih dahulu. Karena bila dia (istri) hidup, dia tentu akan menderita. Ini kehendak Tuhan, kami harus menerima dan bahwa kami akan bertemu Salahuddin lagi di dunia lain," pungkasnya. (adk)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:13
02:10
01:39
06:50
01:36
07:02

Viral