- Kolase tvOnenews.com / Kabar Siang / YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo
Curhat Pilu Ayah Nizam Syafei, Sang Putra Sempat Minta Maaf Dua Kali Sebelum Meninggal
Ia melanjutkan ucapan istrinya, “‘Ayah pulang, Raja panas terus manggil-manggil nama ayah.’ Saya langsung berkemas, langsung pulang.”
Setibanya di rumah di Jampang, Bojongsari, Anwar melihat kondisi putranya yang berbeda.
“Saya pulang terus pas saya masuk rumah, saya melihat pemandangan yang sangat luar biasa. Jadi, anak saya ditanya sama saya enggak ngejawab. Tapi dia ke saya ngomong. Tapi kalau saya jawab, ‘Jang, ini kenapa?’ Dia diam saja sambil muter-muter selimut gini aja gitu,” jelas Anwar.
Momen paling menggetarkan terjadi ketika Nizam memegang pipi ayahnya,“Nah, terus dia pegang pipi saya. Dia minta maaf ke saya. ‘Ayah, maafin Dedek ya.’ Dia bilang sampai dua kali dia minta maaf ke saya.”
Anwar pun membalas dengan penuh penyesalan, “Nah, kata saya, ‘Kenapa minta maaf gitu? Ujang teu salah, kamu enggak salah.’ Kata saya yang salah itu ayah. Saya tanya ini kenapa, dia enggak ngomong. Sedikit pun enggak ngomong.”
Ia kemudian menyadari adanya luka di tubuh anaknya, “Nah, terus saya tanya ke mamanya, ‘Mah, ini kenapa kulit si Mah, ini kenapa kulit anak, kulit Raja seperti ini?’”
Saat ditanya Denny Sumargo tentang kondisi kulitnya, Anwar menjawab singkat, “Melepuh.”
“Bagian mana aja?” tanya Denny.
“Tangan, kaki, paha, punggung,” jawab Anwar.
Ia juga menunjukkan bagian dekat mata. Menurut Anwar, istrinya sempat menjelaskan, “‘Ya, ini kan sakit panas, Yah, si Raja. Jadi kalau sakit panas memang kalau panasnya berlebihan suka melepuh seperti ini, seperti kesiram air panas,’ katanya gitu.”
Niat awalnya hendak membawa Nizam ke dokter pagi hari, namun waktu terlewat.
“Niatnya saya mau pagi-pagi ke dokter, ke rumah sakit. Niatnya, mungkin karena saya capek jadi bangunnya saya agak kesiangan,” ungkap Anwar dengan nada kecewa.
Setibanya di rumah sakit, pernyataan tenaga medis membuatnya terpukul, “Saya bawa ke rumah sakit. Udah sampai di rumah sakit, datanglah dua orang, enggak tahu perawat, enggak tahu dokter ya karena pakai pakaian biru itu. Dia cek-cek di depan istri saya. Dia ngomong di depan istri saya, ‘Bu, kita ini medis ya. Kita tahu mana yang sakit panas, mana yang bukan. Ini bukan karena sakit, tapi ini dianiaya.’ Itu dokternya yang ngomong.”