- Instagram/s_tjo
Sherly Tjoanda Tahan Tangis Lihat Balita Stunting Tak Bisa Bicara, Beri Pendampingan Gratis Hingga 6 Bulan
tvOnenews.com - Aksi cepat ditunjukkan oleh Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, saat menemukan seorang balita penderita stunting di Desa Pulopapo, Halmahera Timur.
Tanpa menunggu lama, ia langsung memberikan instruksi tegas kepada dinas terkait untuk segera menangani kondisi anak tersebut.
Momen tersebut terjadi saat Sherly Tjoanda melakukan kunjungan kerja di wilayah tersebut.
Di tengah agenda, ia mendapati seorang anak berusia sekitar tiga tahun yang mengalami kondisi memprihatinkan.
Balita itu diketahui belum bisa berjalan dan bahkan belum mampu berbicara secara normal.
Melihat kondisi tersebut, Sherly Tjoanda tampak terkejut sekaligus prihatin.
Ia langsung menanyakan berbagai hal kepada orang tua sang anak, mulai dari riwayat pemberian ASI, kemampuan melihat, hingga kondisi makan sehari-hari.
“Mana stunting? Sudah 3 tahun belum jalan? Bisa lihat? Bisa bicara?” tanya Sherly Tjoanda dengan nada serius kepada ibu sang anak.
Dari hasil percakapan tersebut, diketahui bahwa balita bernama Sisil itu mengalami keterlambatan perkembangan yang cukup serius.
Ia tidak hanya kesulitan berbicara, tetapi juga mengalami gangguan makan sehingga asupan gizinya sangat terbatas.
Tanpa basa-basi, Sherly Tjoanda langsung mengambil tindakan konkret.
- Instagram/s_tjo
Ia memerintahkan Dinas Sosial untuk segera membawa anak tersebut ke fasilitas perawatan khusus seperti yang pernah dilakukan pada kasus serupa sebelumnya.
Ia menyebutkan bahwa balita tersebut akan dirujuk ke pusat perawatan, di mana penanganan intensif akan dilakukan, termasuk terapi gizi dan kemungkinan pemasangan infus untuk memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi.
“Bawa dia ke Chasan Boesoirie seperti kemarin. Dia harus tinggal lama di wisma, minimal tiga sampai enam bulan,” tegas Sherly Tjoanda.
Tidak hanya fokus pada sang anak, Sherly Tjoanda juga memikirkan kondisi keluarga.
Ia menanyakan pekerjaan orang tua dan memastikan bahwa ibu dari balita tersebut dapat mendampingi selama masa perawatan tanpa harus khawatir soal biaya hidup.
“Ibu tinggal di wisma saja, makan dan kebutuhan lainnya kita tanggung. Yang penting anaknya sehat, bisa bicara, dan tumbuh dengan baik,” ujarnya.
Langkah ini menjadi bukti nyata kepedulian pemerintah daerah terhadap persoalan stunting yang masih menjadi tantangan serius di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Maluku Utara.
Program pendampingan selama enam bulan yang diinisiasi oleh Sherly Tjoanda ini diharapkan mampu memberikan perubahan signifikan terhadap kondisi balita tersebut.
Dengan perawatan intensif, diharapkan anak bisa mengejar ketertinggalan tumbuh kembangnya.
Kasus ini juga menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap asupan gizi anak sejak dini.
Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tetapi juga berkaitan erat dengan perkembangan otak, kemampuan bicara, dan kesehatan secara keseluruhan.
Aksi cepat Sherly Tjoanda pun mendapat banyak apresiasi dari masyarakat. Banyak yang menilai bahwa respons sigap seperti ini sangat dibutuhkan, terutama dalam menangani kasus-kasus yang membutuhkan perhatian segera.
Selain itu, pendekatan langsung ke lapangan membuat penanganan menjadi lebih efektif karena kondisi nyata dapat dilihat tanpa perantara laporan administratif.
Dengan instruksi yang jelas dan tindakan yang cepat, Sherly Tjoanda menunjukkan komitmennya dalam memperbaiki kualitas hidup masyarakat, khususnya anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus akibat masalah kesehatan seperti stunting.
Kisah balita Sisil ini pun menjadi sorotan sekaligus harapan bahwa dengan penanganan yang tepat dan dukungan penuh, anak-anak yang mengalami stunting masih memiliki peluang besar untuk tumbuh lebih baik di masa depan. (adk)