- Instagram/@s_tjo
Gebrakan Gubernur Sherly Tjoanda, Maluku Utara Diproyeksikan Jadi Gerbang Ekonomi Masa Depan Indonesia
tvOnenews.com - Langkah besar kembali digaungkan oleh Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, yang menargetkan wilayahnya sebagai gerbang ekonomi baru Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan langsung dalam forum strategis pertemuan saudagar Bugis-Makassar, yang dikenal memiliki jaringan bisnis kuat di berbagai sektor.
Dalam kesempatan tersebut, Sherly Tjoanda menegaskan bahwa Maluku Utara kini tidak lagi ingin dipandang sebagai daerah pinggiran atau wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Ia justru mengusung narasi baru bahwa provinsi ini memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi masa depan.
“Kalau biasanya Maluku Utara disebut pinggiran, sekarang kami branding kembali sebagai pintu gerbang ekonomi baru Indonesia,” ujar Sherly Tjoanda.
Pernyataan tersebut bukan tanpa dasar. Berdasarkan data yang dipaparkan, Maluku Utara mencatatkan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia pada tahun 2025, yakni mencapai 34 persen secara year on year.
Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa aktivitas ekonomi di wilayah tersebut sedang berkembang pesat.
Namun demikian, Sherly Tjoanda juga mengakui bahwa pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya inklusif.
- Instagram/s_tjo
Salah satu tantangan utama adalah belum meratanya distribusi manfaat ekonomi kepada masyarakat, khususnya di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
“Pertumbuhannya tinggi, tapi belum merata. SDM kita di sektor pangan belum mampu swasembada,” jelasnya.
Melihat kondisi tersebut, Sherly Tjoanda secara terbuka mengundang para saudagar Bugis untuk turut berinvestasi dan mengembangkan potensi ekonomi di Maluku Utara.
Ia menilai karakter pedagang Bugis yang adaptif dan berani mengambil peluang sangat cocok dengan kondisi daerah yang sedang berkembang.
“Pedagang Bugis tidak menunggu peluang, mereka berlayar mencari peluang. Ini yang kami butuhkan di Maluku Utara,” ungkapnya.
Sejumlah sektor strategis pun ditawarkan sebagai ladang investasi yang menjanjikan.
Mulai dari distribusi dan logistik, pelayaran, hingga pengembangan sektor pangan seperti telur dan ayam. Selain itu, sektor perikanan dan hilirisasi sumber daya alam juga menjadi fokus utama.
Salah satu potensi besar yang disoroti adalah produksi kelapa. Sherly Tjoanda menyebutkan bahwa Maluku Utara mampu menghasilkan sekitar 1,5 miliar butir kelapa setiap tahun, dengan peluang peningkatan produksi yang masih sangat terbuka lebar.
“Pasarnya sudah ada, uangnya sudah berputar. Yang belum maksimal adalah pelaku usahanya,” tambahnya.
Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem ekonomi di Maluku Utara sebenarnya sudah mulai terbentuk.
Tinggal bagaimana menarik lebih banyak pelaku usaha untuk masuk dan mengoptimalkan potensi yang ada.
Melalui strategi ini, Sherly Tjoanda berharap dapat menciptakan pemerataan ekonomi yang lebih baik.
Dengan hadirnya investor dan pelaku usaha baru, diharapkan lapangan kerja semakin terbuka dan kesejahteraan masyarakat meningkat.
Selain itu, penguatan sektor logistik juga menjadi kunci penting dalam menjadikan Maluku Utara sebagai gerbang ekonomi.
Letak geografisnya yang strategis dinilai mampu menjadi penghubung distribusi barang di kawasan timur Indonesia.
Ajakan terbuka yang disampaikan oleh Sherly Tjoanda ini pun menjadi sinyal bahwa pemerintah daerah siap berkolaborasi dengan berbagai pihak.
Tidak hanya mengandalkan potensi lokal, tetapi juga membuka diri terhadap investasi dari luar.
Dengan berbagai potensi yang dimiliki, mulai dari sumber daya alam hingga posisi geografis, Maluku Utara kini berada di titik penting dalam transformasi ekonominya. (adk)