- YouTube LEMBUR PAKUAN CHANNEL
Dedi Mulyadi Tegas Minta Stop Calo Tenaga Kerja, Industri Subang Wajib Utamakan Warga Lokal
“Kenapa? Semuanya orientasinya adalah proyek. Ada proyeknya baru ada kegiatannya. Tidak ada proyeknya tidak ada kegiatannya. Jadi dia digaji dengan tukinnya. Apa fungsinya?” kata Dedi Mulyadi.
Pengalaman pribadinya saat mengelola kawasan Lembur Pakuan juga menjadi contoh nyata minimnya respons dari dinas terkait.
“Saya cerita, saya ngurus Lembur Pakuan itu berapa kali minta pariwisata Kabupaten Subang untuk ngurus kayak enggak respon. Padahal gubernur yang minta apalagi rakyat,” ungkap Dedi Mulyadi.
Tak hanya itu, Dedi juga mengaku harus turun langsung hingga menggerakkan aparat di lapangan untuk memastikan penataan berjalan.
“Saya kemarin jujur aja Kasatpol PP saya telepon. Saya bilang gubernur tiap hari bongkarin bangunan liar di mana-mana. Spanduk saya cabutin biar rapi, bersih, biar orang masuk tata kok enggak ada yang gerak? Saya malah menggerakkan salah satu anggota Bhabinkamtibmas Kecamatan Kalijati untuk tiap hari saya kasih mobil, saya kasih BBM biar cepat,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan prosedural yang kaku justru menjadi penghambat penyelesaian masalah.
“Kenapa? Hari ini kalau prosedural enggak akan selesai. Pagi apel dulu, setelah apel diperintah, difoto, di video. Beres foto video, balik lagi, nyatu lagi. Enggak bisa,” ujar Dedi Mulyadi.
Dedi juga menegaskan komitmennya untuk menjadi pemimpin yang aktif turun ke lapangan.
“Untuk itu saya mengambil jadi gubernur, gubernur pinggiran dibanding gubernur kota. Saya ingin setiap hari menyelesaikan masalah saya. Setiap hari ada problem yang harus saya selesaikan. Kenapa? Kita ingin mencapai kemajuan,” tuturnya.
Sorotan utama kemudian mengarah pada isu tenaga kerja lokal di tengah masuknya investasi besar ke Subang.
“Kita. Subang sudah mencapai apa? Gerbang tol tiga, BYD, VinFast. Tugas kita apa? Segera mengkonektivitaskan apa? Yang kerjanya harus orang situ, yang kerjanya harus tenaga di sini. Jangan lagi bus dari luar masuk ke sini, masuk di sini,” tegas Dedi Mulyadi.
Ia bahkan mengungkap temuan di lapangan yang menunjukkan rendahnya penyerapan tenaga kerja lokal.
“Saya cek ketika masuk ke pabrik, berapa orang Subangnya? Dari 10 hanya 2,” katanya.