- Kolase tvOnenews.com/ Instagram @kratonjogja @gkrbendara
Bagaimana Rasanya Menjadi Putri Sri Sultan Hamengkubuwono X? GKR Bendara Ungkap Perasaan Sesungguhnya
tvOnenews.com - Berbeda dengan provinsi lain di Indonesia, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadikan Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Gubernur.
Yogyakarta tetap mempertahankan tradisi istimewa untuk yang diakui secara konstitusional dimana kepemimpinan wilayah ini secara otomatis dijabat oleh Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Memandang keluarga Kraton Yogyakarta, banyak orang yang bertanya-tanya bagaimana rasanya menjadi keluarga kesultanan.
Sebagai seorang Putri Kraton, GKR Bendara mengungkapkan bagaimana rasanya menjadi Putri dari seorang Sultan yang selama ini dihormati bagi warga Yogyakarta.
Melalui tayangan YouTube The Tribes, awalnya GKR Bendara mengatakan dirinya juga tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi anak dari orang tua biasa.
“Saya tidak tahu rasanya jadi tidak anak Sultan,” ungkap Putri Kraton, GKR Bendara pada tayangan YouTube The Tribes.
Setelah dewasa, GKR Bendara dapat melihat perbedaan dirinya dengan putri pada umumnya. Dirinya merasakan bahwa daya juang dalam berbagai hal terasa kurang, khususnya dari segi karir.
“Karena kita dimanjakan dengan situasi privilege, terkadang fighting spirit kita kurang. Justru itu jadi tantangan, karena orang tanya ‘Gusti cita-citanya jadi apa?’ nggak punya,” ujarnya.
- Instagram @kratonjogja
Semangat untuk mengusahakan apapun menjadi kurang, sehingga membuat para Putri Kraton tidak memiliki cita-cita.
GKR Bendara mengaku bekerja dibawah orang lain dapat mengasah keterampilan, empati, dan sebagainya. Akan tetapi para Putri tidak merasakan hal tersebut.
Beberapa Putri Kraton mencoba bekerja di bawah orang lain atau menjadi staf, namun tak bertahan lama.
Sebab, para Putri kesulitan untuk menyesuaikan jadwal dan tempatnya lantaran ada beberapa kewajiban di Kraton yang tidak bisa ditinggalkan.
“Misalnya kerja sama orang, kita akan banyak bekerja diluar dari Jogja. Tapi kami ada tuntutan lain yaitu tuntutan berada di Jogja,” kata Putri kelima Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Dalam hal karir, GKR Bendara membandingkannya dengan suaminya, KPH Yudanegara dalam meniti karir.
Sebelumnya, KPH Yudanegara melihat orang tuanya dalam meniti karir, sementara dirinya merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN).
Ada karir yang ingin dituju oleh KPH Yudanegara mulai dari calon ASN hingga sudah menjadi ASN serta ke jenjang berikutnya.
“Dia punya ‘Oh, ya pokoknya aku umur segini sudah harus jadi segini, umur segini harus segini’. Ada yang mau dituju,” jelas GKR Bendara.
“Kalau saya nggak ada, ‘Gusti mau jadi Menteri nggak suatu hari?’ nggak. Karena selama ini saya nggak pernah punya bos, sementara menteri sebelumnya harus punya bos,” sambungnya.
Hal ini yang menyadarinya bahwa ia tidak punya ambisi untuk karir. Akan tetapi ia menyikapinya dengan belajar untuk menumbuhkan ambisi tersebut saat menjadi dewasa.
Namun ambisinya berbeda dengan orang lain pada umumnya dimana pencapaian yang diraih untuk diri sendiri. Para Putri Kraton menghadirkan ambisi itu untuk kebutuhan masyarakatnya.
“Kami dibentuk dalam keluarga yang berambisinya, yaudah kita umur segini harus bisa membantu Ngarsa Dalem (Sri Sultan Hamengkubuwono) dalam membantu sekian banyak orang di bidang tertentu,” terang GKR Bendara.
“Akhirnya kami terbentuk itu karena permintaan dari orang lain, bukan dari keinginan kami sendiri. Jadi bukan untuk diri sendiri, tapi karena kami dipercayai sebuah jabatan. Dari situ kami membangun visi misinya,” lanjutnya menjelaskan.
Nyatanya posisi ini menjadi tantangan tersendiri untuk membuktikan seorang Putri Kraton dapat memberikan aksi penting bagi masyarakat.
“Kita dipercayai posisi ini bagaimana kita bisa dibuktikan bahwa Putri Kraton itu nggak cuma label. Duduk disitu nggak cuma diam doang, tetapi actually doing something,” tuturnya.
“Jangan sampai orang melihat kami bahwa Putri Kraton itu tidak bisa apa-apa. Kita harus memberikan sesuatu yang lebih untuk itu,” tegasnya.
(kmr)