- tvOnenews.com - Angelia Nafriana
Kesaksian Korban Ponpes di Pati Bikin Merinding, Mengaku Hanya Bisa Merem saat Tidur Sekamar dengan Pelaku
tvOnenews.com - Kasus dugaan pelecehan seksual di Ponpes Ndholo Kusumo, Pati, Jawa Tengah, terus memunculkan fakta-fakta yang bikin publik bergidik. Setelah sang pengasuh resmi ditangkap, kini pengakuan salah satu mantan santriwati mulai ramai disorot karena dinilai sangat memilukan.
Korban berinisial Tari (nama samaran) mengungkap bagaimana dirinya kerap diajak tidur sekamar dengan dalih “penyembuhan batin”. Bahkan, ia mengaku hanya bisa memejamkan mata karena takut terjadi sesuatu saat berada di kamar sang pengasuh Ponpes tersebut.
Kasus ini sendiri telah memasuki babak baru setelah tersangka utama berinisial AS alias Ashari, pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Ndholo Kusumo di Pati, resmi ditangkap tim gabungan Polresta Pati dan Polda Jawa Tengah pada Kamis, 7 Mei 2026.
Pengakuan Tari disampaikan dalam podcast Curhat Bang milik Denny Sumargo yang tayang pada awal Mei 2026. Dalam perbincangan tersebut, Tari menceritakan awal mula dirinya mengalami dugaan pelecehan saat masih duduk di bangku kelas 9 SMP.
Karena dianggap sebagai santri yang dekat dengan pengasuh, Tari mengaku sering diminta memijat Kiai Ashari. Lama-kelamaan, ia disebut memiliki “penyakit batin” yang harus disembuhkan melalui ritual tertentu.
Menurut Tari, modus yang digunakan pelaku adalah dalih pengobatan spiritual. Ia bahkan diminta menemani tidur di kamar kiai dengan alasan menjalankan perintah guru thoriqoh agar sanad keilmuan tidak terputus.
“Kalau habis ziarah sama habis sholawatan biasanya langsung diajak nemenin tidur itu. Enggak sampai berhubungan sih, Pak,” ujar Tari dalam tayangan YouTube Denny Sumargo pada 7 Mei 2026.
“Oh, enggak, tidur maksudnya tidur satu kamar tok gitu?” tanya Denny Sumargo.
Tari pun membenarkan hal tersebut. Mendengar pengakuan itu, Denny tampak kebingungan.
“Lah, dalilnya apa?” ucap Denny Sumargo.
Tari kemudian menjelaskan alasan yang diberikan oleh oknum pengasuh Ponpes tersebut.
“Kalau kesannya itu katanya di sana kan ada guru thoriqoh. Di pondok sana itu ada guru thoriqoh. Terus bilangnya disuruh guru thoriqoh itu,” kata Tari.
Menurut pengakuannya, tindakan tersebut disebut sebagai bagian dari proses penyembuhan penyakit batin.
“Menurut si oknum ini katanya menurut guru thoriqoh ini bagian daripada nyembuhin sakit. Emangnya kamu ada sakit?” tanya Denny Sumargo.
“Bilangnya iri, banyak apa itu banyak penyakit dalam lah, semacam iri, semacam dengki, semacam banyak fitnah gitu,” jawab Tari.
“Jadi dia ceritanya melihat kamu terus dia menerawang begitu ya,” kata Denny Sumargo.
“Kamu itu banyak sakitnya. Kamu tuh iri dengki, obatnya itu gini gitu,” lanjut Tari menirukan ucapan pelaku.
Denny kemudian bertanya mengenai perasaan Tari saat pertama kali mendengar penjelasan tersebut.
“Nah kamu nangkapnya waktu itu apa itu artinya?” tanya Denny Sumargo.
“Aku enggak nangkapnya enggak gimana-gimana, tapi dalam hatiku masa aku seburuk itu gitu. Kadang mau, kadang nolak juga,” ungkap Tari.
Denny Sumargo lalu menanyakan apakah Tari sempat merasa takut saat diminta tidur sekamar.
“Awalnya kamu mau itu kamu enggak takut nanti aku diapa-apain sama dia?” tanya Denny.
“Takut sih, Pak. Kalau gitu kok biasanya aku enggak pernah tidur. Beneran enggak pernah, cuma merem aja gitu,” jawab Tari.
“Oh, jadi kamu tetap waspada. Jadi, maaf ini di dalam kamar kemudian dia tidur di ranjang ini. Ini ranjang ya, di ranjang sini, kamu tidur di ranjang sini gitu ya. Tapi kamu tetap tidak tidur gitu. Terus di situ dia ngomong apa?” tanya Denny lagi.
“Enggak. Kalau biasanya ya udah diam aja gitu. Kadang cuma dilihatin video ceramah-ceramah gitu aja. Oh, sembari tidur dia ngelihatin video di HP,” kata Tari.
Denny pun kembali memastikan apakah ritual tersebut disebut sebagai terapi batin.
“Terus ini ceritanya bagian dari penyembuhan batin kamu gitu. Awalnya enggak ada apa-apa nih ya?” tanya Denny Sumargo.
“Enggak ada. Oke. Hari itu enggak ada apa-apa. Terus sering tuh diajak penyembuhan terapi batin?” lanjutnya.
“Iya sering. Tapi sering juga aku nolak. Gimana ya, Pak, kan aku udah sering digituin. Jadi kayak merasa kok gini terus gitu. Mental saya ini kena gitu, Pak,” pungkas Tari.
(anf)