- Kolase tvOnenews.com/ Tangkapan Layar YouTube MPRGOID
Melanie Subono Sentil Sikap Dewan Juri LCC Kalbar yang Enggan Minta Maaf: Anak Kecil Aja Tahu, Bukan Urusan Instansi
tvOnenews.com - MPR RI telah memberikan pernyataan untuk menanggapi desakan publik kepada dewan juri Lomba Cerdas Cermat (LCC) di Kalimantan Barat untuk memberikan permintaan maaf.
Polemik perbedaan pemberian nilai kepada peserta Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat berbuntut panjang.
Setelah ramainya sorotan publik mengenai polemik tersebut, MPR segera memberikan permohonan maaf hingga klarifikasi resmi.
Namun, Ketua MPR RI, Ahmad Muzani mengatakan para juri tidak perlu memberikan permohonan maaf secara pribadi karena telah disampaikan secara kelembagaan.
Hal ini sangat disayangkan oleh banyak pihak, salah satunya Melanie Subono yang turut menyoroti hal ini.
Melanie Subono Sentil Dewan Juri
Seorang Aktivis sekaligus musisi, Melanie Subono sangat menyayangkan sikap MPR untuk tidak membiarkan dewan juri memberikan permintaan maaf secara langsung.
Berdasarkan penuturannya melalui YouTube Kompas TV, Melanie mengatakan permintaan maaf itu sangat menunjukkan kepribadian seseorang.
“Menurut mereka minta maaf itu sudah diwakili instansi, tidak perlu lagi secara pribadi itu kan sudah menunjukkan bahwa anak-anak ini mempunyai kepribadian yang jauh lebih dewasa dan jauh lebih santun daripada yang dewasa,” ungkap Melanie Subono.
- Tangkapan Layar YouTube Ferdy ELEMENT
“Tidak perlu memiliki jabatan tertentu untuk bisa lebih santun dan mengerti perasaan orang lain. Mungkin untuk mereka itu sekedar ‘oh iya minta maaf kan sudah tadi’, siapa yang tahu anak-anak ini ikut acara ini karena punya mimpi besar,” sambungnya menjelaskan.
Melanie memberikan apresiasi terhadap apa yang dilakukan oleh siswi SMAN 1 Pontianak, Josepha Alexandra, menurutnya aksi tersebut merupakan karakter yang bagus.
Sebab, dalam kesempatan itu Melanie Subono sangat menyayangkan tentang minimnya pendidikan karakter pada bangsa ini.
Menurutnya pendidikan bukan hanya sekedar memiliki ijazah, tetapi pentingnya membangun karakter sejak dini.
“Di beberapa negara lain, kita baru diajarkan baca tulis pada kelas 1 atau kelas 2 SD. sebelumnya kita hanya diajarkan karakter. Sementara kita disini mau masuk SD sudah harus bisa baca tulis, karakter kita berantakan,” ujarnya.
Dirinya merasa prihatin dengan keputusan MPR RI dan dewan juri untuk tidak memberikan permintaan maaf secara langsung.