- Istimewa
Dedi Mulyadi Ajak Warga Tinggalkan Rumah Beton, Sebut Rumah Bambu dan Kayu Lebih Cocok untuk Tanah Sunda
tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menyuarakan pentingnya menjaga budaya lokal Sunda di tengah pesatnya pembangunan modern.
Kali ini, pria yang akrab disapa KDM itu mengajak masyarakat Sumedang untuk mempertahankan rumah tradisional berbahan bambu dan kayu yang dinilai lebih selaras dengan alam.
Dalam keterangannya, Dedi Mulyadi menilai rumah berbahan alami memiliki banyak keunggulan dibanding bangunan beton, terutama untuk wilayah pedesaan dan daerah perbukitan di Jawa Barat.
- YouTube LEMBUR PAKUAN CHANNEL
Menurutnya, rumah bambu dan kayu bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian dari filosofi hidup masyarakat Sunda yang sejak dahulu hidup berdampingan dengan alam.
“Rumah kayu itu sesuai dengan keinginan air, keinginan angin, dan keinginan tanah. Itu bagian dari budaya Sunda yang harus kita jaga,” ujar Dedi Mulyadi, dilansir dari Antara News.
KDM menjelaskan, karakter bambu dan kayu yang lentur membuat rumah tradisional lebih mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan sekitar.
Saat diterpa angin kencang maupun ketika terjadi pergerakan tanah, rumah berbahan alami dinilai lebih fleksibel dibanding bangunan beton yang kaku.
- Antara
Ia menyebut konsep rumah tradisional Sunda sebenarnya lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam memahami kondisi alam di wilayahnya.
“Kalau rumah bambu terkena angin dia mengikuti, kalau tanah bergerak dia lebih lentur. Itu sebabnya rumah tradisional punya filosofi menyatu dengan alam,” katanya lagi.
Dedi Mulyadi juga mengingatkan bahwa pembangunan modern tidak selalu cocok diterapkan di semua wilayah.
Menurutnya, penggunaan beton secara masif justru bisa menghilangkan identitas budaya daerah jika tidak dibarengi dengan pelestarian arsitektur tradisional.
- jabarprov.go.id
Karena itu, ia meminta masyarakat desa tetap mempertahankan pola hunian berbasis kayu dan bambu sebagai bentuk menjaga warisan leluhur Sunda.
Selain bernilai budaya, rumah tradisional juga dianggap lebih nyaman untuk ditempati karena memiliki sirkulasi udara yang baik dan suhu ruangan yang lebih sejuk.
Dalam kesempatan tersebut, KDM turut menyoroti wilayah Situraja, Kabupaten Sumedang, yang dinilai masih memiliki potensi besar untuk mempertahankan rumah berbasis kearifan lokal Sunda.
Ia berharap pemerintah daerah dapat ikut mendorong pembangunan yang tidak menghilangkan ciri khas budaya setempat.
Menurutnya, identitas arsitektur tradisional harus tetap hadir di tengah perkembangan zaman agar generasi muda tidak kehilangan akar budaya.
Ajakan Dedi Mulyadi ini pun menjadi perhatian masyarakat karena dinilai berbeda dengan tren pembangunan modern yang saat ini lebih banyak menggunakan beton dan desain minimalis.
KDM menegaskan bahwa menjaga rumah tradisional bukan berarti menolak kemajuan, melainkan menjaga keseimbangan antara perkembangan zaman dan pelestarian budaya lokal yang sudah diwariskan turun-temurun di tanah Sunda. (asl)