news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Aksi bersih-bersih sampah di stadion Piala Dunia 2026 oleh suporter Jepang.
Sumber :
  • FIFA

Lho, Aksi Pungut Sampah Suporter Jepang Malah Kena Kritik di Piala Dunia 2026, Kok Bisa?

Aksi suporter Timnas Jepang memungut sampah dan membersihkan tribun stadion usai mendukung Tim Samurai Biru menuai reaksi yang berbeda di Piala Dunia 2026 ini -
Minggu, 21 Juni 2026 - 10:50 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com – Aksi terpuji suporter Timnas Jepang yang rajin memungut sampah dan membersihkan tribun stadion usai mendukung Tim Samurai Biru bertanding memang selalu memanen decak kagum dunia, tapi ada yang beda di Piala Dunia 2026 kali ini.

Sikap peduli lingkungan ini bahkan sudah melekat kuat menjadi citra positif mereka selama bertahun-tahun di panggung sepak bola internasional.

Tradisi mulia tersebut dipastikan kembali berlanjut di gelaran Piala Dunia 2026. Seusai peluit panjang laga perdana ditiupkan, foto-foto para suporter Jepang yang menyisir tribun bangku penonton sembari menenteng kantong plastik besar langsung berseliweran dan viral di media sosial (medsos).

Namun ironisnya, di saat publik dunia melayangkan pujian setinggi langit, gelombang kritik tajam justru datang berhamburan dari masyarakat domestik Jepang sendiri. Mengapa?

Aksi bersih-bersih sampah di stadion Piala Dunia 2026 oleh suporter Jepang
Sumber :
  • FIFA

Sebagian warga Jepang, terutama kaum perempuan, menilai ada fenomena standar ganda yang nyata di balik aksi heroik tersebut.

Para pria Jepang dianggap hanya mencari panggung dan terlihat rajin membersihkan fasilitas umum di depan publik, namun justru melimpahkan seluruh beban kebersihan rumah tangga di pundak istri mereka sendiri.

Meski budaya menjaga kebersihan tempat umum sangat tertanam kuat dalam urat nadi kehidupan di Jepang, kontribusi para pria di negara tersebut dalam urusan domestik rumah tangga ternyata mencatatkan rapor yang sangat memprihatinkan.

Laki-laki Jepang menempati peringkat terendah di antara rumpun "negara-negara dengan ekonomi maju" terkait kontribusi waktu untuk mengurus rumah.

Berdasarkan data berkala dari survei pemerintah Jepang pada tahun 2021, terkuak data valid bahwa perempuan Jepang memikul beban pekerjaan rumah tangga jauh lebih banyak ketimbang suami mereka dalam sehari.

Pada struktur rumah tangga dengan kondisi kedua orang tua bekerja (dua penghasilan) dan memiliki anak di bawah usia enam tahun, seorang istri menghabiskan waktu lebih dari tujuh jam untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.

Kontras dengan hal tersebut, sang suami rata-rata menghabiskan waktu kurang dari dua jam saja.

Aksi bersih-bersih sampah di stadion Piala Dunia 2026 oleh suporter Jepang
Sumber :
  • FIFA

Kondisi ketimpangan ini dipertegas oleh data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tahun 2021.

Data tersebut menunjukkan bahwa perempuan di Negeri Sakura menghabiskan waktu lebih dari tiga jam per hari untuk pekerjaan domestik yang tidak dibayar.

Angka ini melesat lebih dari lima kali lipat dibanding kaum pria, yang tercatat hanya menghabiskan waktu 47 menit dalam sehari.

Kritik tajam atas ketimpangan gender ini pun meledak di medsos. Sebuah poster berbahasa Jepang mendadak viral dan sukses mengantongi 60.000 tanda suka di platform X lantaran memuat satir visual yang menohok.

Poster tersebut membandingkan visual seorang pria Jepang yang tampak cekatan memungut sampah di stadion Piala Dunia, dengan visual pria yang sama saat berada di rumah: tengah asyik berbaring di sofa dan sibuk memainkan ponsel pintar, tepat di sebelah istrinya yang sedang lelah mencuci piring.

Teks dalam poster itu menegaskan pesan menohok bahwa laki-laki di Jepang harus mulai belajar tahu diri dan lebih banyak membantu urusan rumah.

"Waktu yang mereka habiskan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga termasuk yang terpendek di dunia," bunyi narasi dalam poster viral tersebut.

Kolom komentar pun langsung dipenuhi respons panas netizen yang setuju dengan kritikan tersebut.

"Semua orang ingin menyelamatkan dunia, tapi tidak ada yang mau membantu ibu mencuci piring," tulis seorang pengguna X menyitir kutipan terkenal dari penulis asal Amerika Serikat, P.J. O'Rourke.

"Mungkin ada seorang laki-laki di antara orang-orang yang memungut sampah ini, yang memiliki anak kecil di rumah dan meninggalkan istrinya untuk mengasuh mereka sendirian demi menonton Piala Dunia," timpal netizen lainnya.

Bukan hanya masalah domestik, netizen Jepang juga mempermasalahkan unsur kemunafikan para suporter di luar negeri.

Menurut mereka, ruang-ruang publik di kota-kota besar Jepang sendiri nyatanya sering kali dipenuhi sampah berserakan setiap kali usai menggelar acara atau festival besar.

Kendati memicu perdebatan sengit mengenai pembagian keadilan tugas rumah tangga, tidak sedikit pula masyarakat yang tetap pasang badan membela aksi positif tersebut agar tidak perlu dikaitkan dengan urusan rumah.

"Di mana rasa malunya? Itu jauh lebih baik daripada laporan yang mengatakan 'orang Jepang membuang sampah sembarangan di luar negeri," bela seorang netizen di platform X.

Terlepas dari riak konflik domestik yang terjadi, harus diakui bahwa budaya bersih-bersih tribun yang dipelopori Jepang telah memberikan dampak inklusif yang luas bagi pencinta sepak bola dunia di Piala Dunia 2026.

Baru-baru ini, sebuah video viral juga memperlihatkan suporter Timnas Portugal yang mulai tergerak mengikuti jejak positif tersebut dengan mengumpulkan sampah tribun menggunakan kantong plastik besar, di mana mayoritas netizen global tetap menempatkan Jepang sebagai kiblat dan pelopor utama dari tren mulia ini. 

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

00:58
05:02
16:09
01:12
01:57
03:26

Viral