- Tim tvOne - Ronaldo Bramantyo
Masih Ingat Mbah Slamet? Kisah Keji Sang Dukun Pengganda Uang Banjarnegara yang Tega Kubur 12 Korbannya
tvOnenews.com - Janji menggandakan uang dalam waktu singkat telah lama menjadi salah satu modus penipuan yang memanfaatkan harapan dan kesulitan ekonomi korbannya.
Di balik iming-iming kekayaan instan, tidak sedikit orang rela menyerahkan tabungan, aset, bahkan meminjam uang demi mengikuti ritual yang diyakini dapat melipatgandakan harta.
Sayangnya, praktik semacam itu hampir selalu berakhir dengan penipuan, bahkan dalam beberapa kasus berubah menjadi tindak kejahatan yang jauh lebih mengerikan.
Salah satu kasus paling menyita perhatian publik terjadi di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Seorang pria bernama Tohari alias Slamet, yang dikenal masyarakat sebagai dukun pengganda uang atau Mbah Slamet, ternyata menjalankan aksi keji di balik ritual yang ia tawarkan kepada para korbannya.
Mereka yang datang dengan harapan memperoleh kekayaan justru kehilangan nyawa dan dikuburkan secara diam-diam di lahan milik pelaku.
Kasus yang terbongkar pada 2023 itu menjadi salah satu perkara pembunuhan berantai terbesar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga proses penyelidikan berlangsung, polisi menemukan sedikitnya 12 jenazah yang diduga menjadi korban Mbah Slamet.
Temuan tersebut sekaligus mengungkap bagaimana pelaku memanfaatkan kepercayaan korban untuk melancarkan aksi pembunuhan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
- Tim tvOne - Ronaldo Bramantyo
Korban Terus Bertambah, Polisi Temukan 12 Jenazah
Kapolres Banjarnegara saat itu, AKBP Hendri Yulianto, mengungkapkan jumlah korban pembunuhan yang dilakukan Tohari alias Mbah Slamet terus bertambah seiring proses penggalian di area perkebunan milik pelaku di Desa Balun, Kecamatan Wanayasa.
"Dengan bertambahnya dua korban ini, maka total jasad korban pembunuhan dari dukun pengganda uang ini mencapai 12 orang. Jumlah tersebut terdiri dari satu korban ditemukan pada awal terbongkarnya kasus, sembilan korban pada Senin (3/4/2023), dan hari ini dua korban lagi ditemukan," kata Hendri dalam konferensi pers di lokasi penemuan jenazah, Selasa (4/4/2023).
Saat konferensi pers berlangsung, Tohari turut dihadirkan untuk membantu polisi mengingat lokasi penguburan para korban. Namun, pelaku mengaku kesulitan mengingat identitas maupun titik pemakaman sebagian besar korban.
Kapolres meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang beredar mengenai jumlah korban karena proses penyelidikan masih terus berlangsung.
"Tolong penyebaran informasi terkait korban ini harus jelas, sebab saat ini banyak bertebaran informasi yang tidak benar terkait jumlah korban yang ditemukan. Kami masih terus melakukan pengembangan karena bisa saja masih ada korban lain yang belum ditemukan," ujarnya.
Seluruh jenazah yang ditemukan kemudian menjalani proses autopsi. Sebagian korban dimakamkan kembali setelah pemeriksaan selesai, sementara satu jenazah telah dibawa keluarga ke Sukabumi untuk dimakamkan. Dua korban terakhir yang ditemukan saat itu langsung dievakuasi ke rumah sakit guna keperluan autopsi.
Berdasarkan pengakuan pelaku, dua jenazah terakhir diduga merupakan pasangan suami istri asal Lampung bernama Irsad dan istrinya. Meski demikian, polisi menegaskan identitas korban masih harus dipastikan melalui proses penyelidikan karena keterangan Tohari kerap berubah.
Terbongkar Berkat Pesan WhatsApp Korban kepada Anaknya
Terungkapnya pembunuhan berantai tersebut bermula dari laporan keluarga salah seorang korban bernama Paryanto.
Sebelum berangkat ke Banjarnegara pada 20 Maret 2023, Paryanto diketahui mengirim pesan WhatsApp kepada anaknya di Sukabumi. Pesan tersebut kemudian menjadi petunjuk penting bagi penyidik.
"Ini rumah Pak Slamet, buat jaga-jaga kalau umur ayah pendek. Misal ayah tidak ada kabar sampai hari Minggu langsung saja ke lokasi bersama aparat."
Beberapa hari setelah keberangkatannya, telepon seluler Paryanto tidak lagi dapat dihubungi. Keluarga kemudian melaporkan kehilangan tersebut ke Polres Banjarnegara.
- Tim tvOne - Teguh Joko Sutrisno
Berbekal laporan itu, polisi menangkap Tohari untuk dimintai keterangan. Dalam pemeriksaan, pelaku akhirnya mengakui telah menguburkan sejumlah korban di lahan perkebunan miliknya.
Motif pembunuhan terhadap Paryanto diduga dipicu rasa kesal pelaku karena korban terus menagih uang yang telah diserahkan untuk ritual penggandaan uang. Sebelumnya, korban diketahui telah menyetorkan dana sekitar Rp70 juta secara bertahap setelah dijanjikan akan memperoleh uang hingga Rp5 miliar.
"Tapi tidak pernah ada realisasinya," ujar AKBP Hendri Yulianto.
Modus Ritual Pengganda Uang Berujung Pembunuhan
Menurut penyidik, seluruh korban diajak mengikuti ritual penggandaan uang pada malam hari di sebuah gubuk sederhana berukuran sekitar 2 x 3 meter yang terbuat dari bambu dan kayu.
Kapolres Banjarnegara menjelaskan ritual biasanya dimulai sekitar pukul 19.30 WIB. Setelah berbincang beberapa saat, korban diberi minuman yang telah dicampur obat penenang dan potasium sianida.
Hanya dalam hitungan menit, korban kehilangan kesadaran dan meninggal dunia. Setelah memastikan korbannya tewas, Tohari menggali lubang sendiri lalu menguburkan jenazah di sekitar kebun miliknya. Beberapa liang bahkan diketahui berisi dua jenazah sekaligus, termasuk pasangan suami istri.
Polisi menyebut aksi tersebut telah dilakukan pelaku sejak 2020. Dalam menjalankan modusnya, Tohari mengaku melakukan pembunuhan seorang diri.
Meski demikian, penyidik juga menetapkan seorang pria berinisial BS sebagai tersangka. Perannya bukan sebagai eksekutor, melainkan memperkenalkan korban kepada Tohari melalui promosi di media sosial dan meyakinkan calon korban bahwa pelaku memiliki kemampuan menggandakan uang.
Sebagai imbalan, BS disebut menerima bayaran antara Rp5 juta hingga Rp10 juta apabila berhasil membawa korban.
Atas perbuatannya, Tohari dijerat dengan pasal berlapis terkait pembunuhan berencana dan penggelapan dengan ancaman hukuman mati. Sementara BS diproses hukum karena diduga turut serta dalam tindak pidana tersebut.
- Tim tvOne - Ronaldo Bramantyo
Di sisi lain, istri pelaku, Seneh, mengaku tidak mengetahui aktivitas yang dilakukan suaminya. Ia hanya mengetahui banyak tamu datang menemui Tohari sebelum masuk ke sebuah ruangan kecil yang dilarang dimasukinya.
"Saya kurang tahu. Kalau di rumah biasa saja. Banyak tamu berkunjung. Saya hanya membuatkan minuman," ujar Seneh.
Dalam penyelidikan, polisi juga menyita sejumlah barang bukti, termasuk uang palsu pecahan Rp100 ribu. Terungkap pula bahwa Tohari merupakan mantan narapidana kasus uang palsu di Pekalongan pada 2019.
Kasus Mbah Slamet menjadi pelajaran penting bahwa tawaran penggandaan uang maupun pesugihan yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal sering kali berujung pada penipuan, bahkan kejahatan yang mengancam nyawa.
Masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap modus serupa dan segera melapor kepada aparat apabila menemukan praktik yang mencurigakan agar tidak muncul korban berikutnya. (udn)