- Kolase tvOnenews.com / YouTube Nanda Persada / Instagram @sarwendah29
Ruben Onsu Masih Percaya Sarwendah, Gugatan Hak Asuh Anak Bisa Dicabut Asal Syarat Terpenuhi
tvOnenews.com - Ruben Onsu mengaku masih percaya bahwa perubahan sikap mantan istrinya, Sarwendah, bukan sepenuhnya berasal dari dirinya sendiri. Di sisi lain, gugatan hak asuh anak yang diajukannya masih berpeluang dicabut apabila kedua pihak mencapai kesepakatan dalam proses mediasi di pengadilan.
Dalam podcast bersama Nanda Persada, Ruben Onsu mengungkapkan keyakinannya bahwa ada campur tangan pihak lain yang memengaruhi hubungan dirinya dengan Sarwendah. Menurutnya, karakter mantan istrinya yang ia kenal selama bertahun-tahun berbeda dengan kondisi yang terjadi saat ini.
"Ibunya tidak akan bisa seperti itu kalau tidak ada dalangnya di belakang, tidak ada yang ngomporin di belakang. Tidak mungkin," ujar Ruben Onsu.
Mendengar pernyataan tersebut, Nanda Persada menilai Ruben merupakan sosok yang paling memahami karakter Sarwendah selama mereka membangun rumah tangga.
"Karena lu tahu banget seorang Wendah kayak apa," kata Nanda Persada.
Ruben kemudian menegaskan bahwa dirinya tidak pernah menganggap Sarwendah sebagai pribadi yang tidak memiliki sisi baik. Justru karena mengenal mantan istrinya, ia meyakini ada pengaruh dari lingkungan sekitar.
"Jangan dibilang dia enggak ada sisi baiknya, ada. Makanya saya bilang tidak mungkin dia berlaku seperti itu kalau tidak ada yang ngomporin," lanjut Ruben.
Ia juga menyoroti orang-orang di sekitar Sarwendah yang menurutnya justru memperkeruh keadaan. Ruben menyayangkan adanya pihak-pihak yang ikut mempermalukan dirinya di tengah konflik keluarga yang sedang berlangsung.
"Tapinya akhirnya menjadi seperti apa itu ya, akhirnya gimana? Itu yang gua bilang, ini orang-orang yang pada ikut tertawa yang pada akhirnya jadi kayak malaikat. Bahkan uncle-uncle dan aunty-aunty-nya yang aktif rohani juga malah, harusnya punya kasih di dalamnya, ya bukan malah mempermalukan ayahnya ponakan elu," ucap Ruben.
Ruben juga mengingat kembali saat Sarwendah sempat menjadi sasaran komentar negatif setelah menjalani operasi plastik. Menurutnya, ketika itu ia justru berusaha membantu meredam situasi dengan membuat konten bersama.
"Contoh, maaf nih, waktu itu pernah beliau operasi plastik. Wah dibully, akhirnya saya yang ngajakin, 'Bun, kita bikin konten yuk, biar redam, biar ini.' Kita cuma sekadar joget-joget aja," tuturnya.
Karena itu, Ruben berharap Sarwendah dikelilingi oleh orang-orang yang mampu memberikan pengaruh positif, bukan sebaliknya.
"Jadi kalau buat saya gini, beliau itu harus didampingi dengan orang-orang yang punya pikirannya positif. Jadi biar enggak gampang kepancing," kata Ruben.
Nanda Persada pun menilai orang-orang di sekitar Sarwendah memang kerap menjadi sorotan publik.
"Ini kalau orang-orang lihat juga kan udah banyak beredar tuh sekelilingnya itu. Orang-orang sekelilingnya tuh kayak kompor ya," ujar Nanda.
Ruben menegaskan bahwa keputusan mengajukan gugatan hak asuh anak bukan dilandasi rasa cemburu atau persoalan pribadi dengan mantan istrinya. Ia mengaku lebih memikirkan kondisi anak-anak mereka.
"Kenapa akhirnya saya harus ambil keputusan hak asuh anak? Itu karena itu. Bagaimana bisa anak lu disuruh live? Bukan disuruh, tapi live gue lihat live. Gue enggak tahu disuruh atau enggak, tapi membiarkan anak gue menjawab-jawabin komentar netizen. Lebih tepatnya gini, membiarkan anak gue menjawab netizen," ujar Ruben.
Ia juga mengkritik adanya arahan dari orang dewasa saat anak-anak melakukan siaran langsung di media sosial.
"Bahkan suaranya dia terus, 'Ayo Ci, gini Ci.' Enggak boleh. Sekolah enggak? Belajar enggak? Undang-undang enggak boleh, anak di bawah umur itu enggak boleh," tegasnya.
Ruben menegaskan bahwa fokus utamanya adalah menjaga kepentingan anak-anak sekaligus memastikan dirinya tetap memiliki akses yang baik untuk bertemu mereka. Ia berharap situasi yang memanas saat ini dapat mereda demi masa depan anak-anak.
Sementara itu, kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, memastikan gugatan hak asuh anak tetap berjalan sesuai proses hukum. Menurutnya, pencabutan gugatan hanya mungkin dilakukan apabila mediasi menghasilkan kesepakatan baru yang diterima kedua belah pihak.
Menanggapi batalnya pertemuan yang semula direncanakan pada 11 Juli, Minola mengatakan pembatalan berasal dari pihak Sarwendah setelah gugatan resmi didaftarkan ke pengadilan.
"Kan sudah dinyatakan batal oleh pihak S. Jadi pihak S yang sebagai inisiator, sebagai pengundang yang mengundang kami datang di tanggal 11 Juli. Kemudian ketika kami mengonfirmasi kepastian join meeting itu, dikatakan bahwa join meeting-nya dibatalkan karena sudah ada gugatan hak asuh yang kami daftarkan. Jadi enggak akan terjadi lagi yang namanya join meeting," jelas Minola.
Mengenai sidang perdana, Minola menyebut kehadiran Ruben maupun Sarwendah belum diwajibkan karena masih dapat diwakili kuasa hukum. Kehadiran kedua belah pihak baru akan disesuaikan dengan kebutuhan proses mediasi.
Ia juga memastikan hingga kini belum ada komunikasi dari pihak Sarwendah yang meminta agar gugatan dicabut. Seluruh pembicaraan, menurutnya, akan dilakukan melalui mekanisme mediasi di pengadilan.
Minola menambahkan bahwa perkara hak asuh anak memang wajib disidangkan secara tertutup karena menyangkut kepentingan anak sesuai hukum acara yang berlaku.
Soal peluang mencabut gugatan, Minola menegaskan hal itu baru dapat dilakukan apabila proposal mediasi yang diajukan Ruben diterima sepenuhnya oleh pihak Sarwendah dan dituangkan dalam perjanjian baru yang kemudian disahkan melalui akta van dading.
Jika kesepakatan tersebut tercapai, pihak Ruben akan mempertimbangkan pencabutan gugatan. Namun apabila tidak ada kesepakatan dalam mediasi, proses hukum akan tetap berjalan hingga majelis hakim memberikan putusan.
Sidang perdana gugatan hak asuh anak dengan nomor perkara 756/Pdt.G/2026/PN Jkt.Sel dijadwalkan berlangsung pada 15 Juli 2026 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pihak Sarwendah sebelumnya juga telah menyatakan siap menghadapi proses persidangan melalui kuasa hukumnya.
(anf)