- Gambar ilustrasi AI
Kenapa Malam Terasa Dingin tapi Siang Sangat Terik? BMKG Ungkap Fenomena Cuaca Bediding dan Monsun Australia
tvOnenews.com - Cuaca di sejumlah wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek), hingga sebagian besar Pulau Jawa belakangan ini terasa tidak biasa. Malam dan pagi hari terasa lebih dingin dari biasanya, sementara siang hari justru sangat terik.
Perubahan suhu yang cukup kontras tersebut ramai diperbincangkan masyarakat di media sosial dan memunculkan berbagai pertanyaan mengenai penyebabnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi tersebut bukanlah fenomena yang aneh maupun pertanda cuaca ekstrem.
Sebaliknya, suhu udara yang lebih dingin saat musim kemarau merupakan fenomena alam yang lazim terjadi setiap tahun.
Dalam istilah klimatologi Jawa, kondisi ini dikenal sebagai "bediding", yang dipengaruhi oleh Angin Monsun Australia, langit cerah, serta minimnya tutupan awan pada malam hari.
Fenomena Bediding, Udara Dingin yang Normal Saat Musim Kemarau
Berdasarkan data BMKG, suhu udara di Bekasi dan sekitarnya pada Jumat (19/7/2026) malam hingga pagi berada di kisaran 25–28 derajat Celsius. Tingkat kelembapan udara mencapai sekitar 75 persen dengan kecepatan angin sekitar 6 kilometer per jam.
Sementara itu, data BMKG sebelumnya juga menunjukkan suhu di Jakarta dan sekitarnya berkisar antara 25 hingga 28 derajat Celsius dengan kelembapan sekitar 76 persen dan kecepatan angin sekitar 1,9 kilometer per jam.
Menurut BMKG, udara yang terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari merupakan fenomena bediding yang umum terjadi ketika Indonesia memasuki puncak musim kemarau.
"Fenomena udara dingin ini di daerah Jawa dikenal sebagai Bediding. Fenomena bediding dalam konteks klimatologi merupakan hal normal karena memang proses fisisnya berkaitan dengan kondisi atmosfer saat musim kemarau," tulis BMKG dalam penjelasan resminya.
Fenomena ini terjadi karena pada musim kemarau langit cenderung cerah dan hampir tidak tertutup awan. Akibatnya, panas yang tersimpan di permukaan bumi setelah siang hari lebih mudah dipancarkan kembali ke atmosfer pada malam hari melalui proses radiasi.
Tanpa adanya awan yang berfungsi sebagai "selimut" alami, suhu permukaan bumi turun lebih cepat sehingga udara pada malam hingga dini hari terasa jauh lebih sejuk, bahkan dingin, terutama di wilayah dataran tinggi maupun daerah yang berada di selatan garis khatulistiwa.
Angin Monsun Australia Membawa Massa Udara Kering
BMKG menjelaskan, penyebab utama lainnya adalah Angin Monsun Australia yang aktif selama musim kemarau.
Angin ini bertiup dari kawasan bertekanan tinggi di Benua Australia menuju Asia dengan melewati wilayah Indonesia dan Samudra Hindia. Karena berasal dari wilayah yang sedang mengalami musim dingin, massa udara yang dibawa memiliki karakter lebih kering dan bersuhu relatif rendah.
"Angin Monsun Australia bertiup menuju Benua Asia melewati Wilayah Indonesia dan perairan Samudera Hindia yang memiliki suhu permukaan laut relatif lebih rendah," jelas BMKG.
Karakter angin yang kering membuat kandungan uap air di atmosfer berkurang sehingga pembentukan awan menjadi lebih sedikit. Kondisi inilah yang menyebabkan langit tampak cerah hampir sepanjang hari.
Selain membuat malam terasa lebih dingin, minimnya tutupan awan juga membuat sinar matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi pada siang hari tanpa banyak terhalang.
Akibatnya, suhu udara pada siang hari justru terasa sangat panas meski malam harinya cukup dingin.
BMKG menyebut kombinasi suhu dingin pada malam hari dan cuaca terik saat siang merupakan ciri khas musim kemarau di Indonesia.
Faktor Geografis Turut Memengaruhi Suhu Udara
Selain Angin Monsun Australia, BMKG menjelaskan terdapat sejumlah faktor lain yang memengaruhi munculnya fenomena bediding.
Di antaranya adalah posisi geografis suatu wilayah, kondisi topografi, ketinggian tempat, serta kelembapan udara yang relatif rendah selama musim kemarau.
Pada periode ini, posisi semu Matahari juga berada lebih jauh dari wilayah Indonesia bagian selatan khatulistiwa, seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Kondisi tersebut membuat intensitas pemanasan permukaan bumi tidak sama dengan musim penghujan.
Di sisi lain, angin yang cenderung tenang pada malam hari menyebabkan pencampuran udara di atmosfer berlangsung lebih lambat.
Akibatnya, udara dingin terperangkap di dekat permukaan tanah sehingga masyarakat merasakan suhu yang lebih rendah dibandingkan biasanya.
BMKG menegaskan bahwa fenomena ini merupakan kondisi yang normal selama musim kemarau dan tidak berkaitan dengan perubahan iklim ekstrem maupun aktivitas geologi tertentu.
Masyarakat tetap diimbau menjaga kesehatan saat terjadi perbedaan suhu yang cukup tajam antara siang dan malam.
Penggunaan pakaian hangat pada malam hingga pagi hari, menjaga asupan cairan tubuh, serta menghindari pembakaran lahan selama musim kemarau menjadi langkah sederhana untuk mengurangi dampak kondisi cuaca tersebut.
Dengan demikian, cuaca dingin yang kini dirasakan warga Jabodetabek dan sejumlah wilayah di Pulau Jawa merupakan bagian dari siklus tahunan yang dipengaruhi fenomena bediding dan Angin Monsun Australia.
Selama musim kemarau masih berlangsung, kondisi malam yang sejuk dan siang yang terik diperkirakan masih akan terus dirasakan di berbagai daerah di Indonesia. (udn)