news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Viral, Ramai Ajakan Tarik Dana Massal dari Bank, Apa yang Terjadi Jika Nasabah Kompak Ambil Uangnya?.
Sumber :
  • Gambar ilustrasi AI / Gemini

Viral, Ramai Ajakan Tarik Dana Massal dari Bank, Apa yang Terjadi Jika Nasabah Kompak Ambil Uangnya?

Ajakan menarik dana massal dari bank ramai di media sosial. Kenali risiko bank run, dampaknya terhadap likuiditas, kredit, hingga perekonomian nasional.
Kamis, 27 Agustus 2026 - 13:36 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Ajakan untuk menarik atau memindahkan dana dari bank ramai diperbincangkan di media sosial. Seruan tersebut muncul setelah rekening seorang koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok, diblokir dan memicu perdebatan di ruang publik.

Peristiwa itu kemudian berkembang menjadi seruan boikot, termasuk ajakan menutup rekening serta memindahkan dana ke bank lain. Persoalannya, apa yang terjadi jika ajakan tersebut benar-benar diikuti secara bersamaan oleh banyak nasabah?

Bagi sebagian orang, menarik uang dari rekening mungkin terlihat sebagai keputusan pribadi yang sederhana. 

Namun, jika dilakukan secara serentak dalam jumlah besar, fenomena tersebut dapat berubah menjadi bank run atau rush money, yakni kondisi ketika nasabah beramai-ramai menarik simpanannya karena khawatir terhadap kondisi sebuah bank. 

Efeknya bahkan berpotensi meluas dari persoalan likuiditas perbankan hingga aktivitas perekonomian.

Pemblokiran Rekening Picu Seruan Tarik Dana

Rekening milik Supriyono alias Botok sebelumnya digunakan untuk menampung dana pribadi dan donasi masyarakat yang disebut mencapai sekitar Rp80,9 juta untuk kebutuhan kegiatan AMPB.

Rekening tersebut tidak dapat digunakan pada 22 Agustus 2026, beberapa hari sebelum rencana aksi AMPB di depan Gedung DPR RI pada 27 Agustus. Kondisi itu kemudian mendapat perhatian publik dan memunculkan kritik di media sosial.

Seruan boikot pun bermunculan, termasuk ajakan menarik atau memindahkan dana dari bank tersebut. Pihak bank memberikan penjelasan bahwa pemblokiran dilakukan sebagai tindak lanjut permintaan aparat penegak hukum.

“Bank Mandiri memohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan kepada nasabah terkait pemblokiran rekening. Pemblokiran tersebut merupakan tindak lanjut atas permintaan aparat penegak hukum dan telah dilakukan sesuai prosedur serta ketentuan yang berlaku,” tulis Bank Mandiri melalui akun media sosial resminya.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae sebelumnya menjelaskan bahwa penundaan transaksi memiliki dasar hukum dan bersifat sementara. 

Mekanisme tersebut antara lain berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) serta Pasal 47 POJK Nomor 8 Tahun 2023.

Penyedia jasa keuangan dapat melakukan penundaan transaksi berdasarkan perintah atau permintaan pihak berwenang, termasuk PPATK, penyidik, penuntut umum, maupun hakim. Penundaan transaksi tersebut dilakukan paling lama lima hari kerja sejak penundaan dilakukan.

“Dalam hal tidak ditemukan unsur pelanggaran pidana, maka akses kepada rekening seharusnya akan dibuka kembali,” ujar Dian.

Jika Nasabah Tarik Uang Bersamaan, Bank Bisa Tertekan

Lantas, apa yang terjadi apabila masyarakat benar-benar menarik uang secara massal?

Fenomena tersebut dikenal sebagai bank run. Kondisi ini terjadi ketika banyak nasabah menarik simpanannya dalam waktu hampir bersamaan karena kehilangan kepercayaan atau khawatir terhadap kondisi bank.

Yang perlu dipahami, bank tidak menyimpan seluruh dana nasabah dalam bentuk uang tunai di brankas. Sebagian dana dikelola dan disalurkan kembali melalui kredit, pembiayaan, maupun ditempatkan dalam berbagai aset.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar jumlah uang yang ditarik, melainkan seberapa cepat penarikan terjadi dibandingkan kemampuan bank menyediakan likuiditas.

Dana masyarakat yang tersimpan di perbankan memiliki fungsi penting karena turut mendukung penyaluran kredit. Jika seluruh nasabah datang bersamaan untuk mengambil uangnya, bank dapat menghadapi tekanan likuiditas.

Kalau bank tiba-tiba didatangi oleh semua nasabah menarik uang. Ini namanya rush. Bank yang sangat sehat pun akan bangkrut karena mereka nggak punya uang.

Meski demikian, bukan berarti setiap aksi penarikan dana otomatis membuat bank bangkrut. Bank memiliki mekanisme pengelolaan likuiditas dan berada dalam pengawasan regulator. Besarnya risiko bergantung pada skala, kecepatan, serta durasi penarikan.

Efek Domino Bisa Menjalar ke Ekonomi

Risiko bank run tidak berhenti di sektor perbankan. Jika tekanan likuiditas berlangsung besar dan lama, dampaknya dapat menjalar ke dunia usaha dan masyarakat.

Pengamat Perbankan Arianto Muditomo mengatakan kesulitan likuiditas menjadi salah satu risiko yang perlu diwaspadai dalam industri perbankan. 

Penarikan uang secara besar-besaran dapat meningkatkan tekanan terhadap operasional bank. Dari sisi ekonomi tentunya risiko inflasi dan meningkatnya biaya produksi dan distribusi bank notes.

Ketika dana perbankan tersedot untuk memenuhi penarikan tunai, kemampuan bank menyalurkan kredit baru kepada rumah tangga maupun pelaku usaha dapat ikut terpengaruh. 

Jika kredit melambat, aktivitas bisnis berpotensi mengalami tekanan, termasuk investasi dan penciptaan lapangan kerja.

Arianto juga mengingatkan adanya risiko lain ketika masyarakat menyimpan uang tunai dalam jumlah besar di luar sistem perbankan. Peredaran uang tunai yang meningkat dapat memperbesar peluang pemalsuan uang, pencucian uang, hingga tindak kriminal.

Di sisi lain, masyarakat tetap memiliki hak untuk memilih bank dan memindahkan dana sesuai kebutuhan. Namun, keputusan tersebut idealnya didasarkan pada kondisi keuangan, informasi resmi, dan pertimbangan yang rasional.

Penarikan dana secara individu berbeda dengan aksi menarik uang secara serentak karena kepanikan. Dalam skala besar, keputusan yang awalnya bersifat pribadi dapat berubah menjadi tekanan kolektif terhadap likuiditas.

Karena itu, ketika muncul seruan tarik dana di media sosial, hal terpenting adalah memeriksa informasi dan memahami konteks sebelum mengambil keputusan. Kepanikan yang menyebar justru dapat menciptakan masalah baru bagi sistem keuangan, sementara dampaknya pada akhirnya dapat dirasakan oleh masyarakat luas. (udn)
 

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

03:06
07:17
05:09
04:35
01:19
01:25

Viral