- Facebook/Baiq Kolby
Viral Ikan Kiamat Oarfish 4 Meter Ditemukan Mati Terdampar di Pantai Pink Lombok, Dikaitkan Mitos Pertanda Gempa
Lombok Timur, tvOnenews.com - Sebuah video viral memperlihatkan ikan oarfish ditemukan di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Dalam video viral yang beredar, ikan oarfish tersebut ditemukan terdampar dalam kondisi mati. Ikan langka yang disebut sebagai ikan kiamat tersebut mempunyai panjang sekitar empat meter.
Dilihat tvOnenews.com dari video yang diunggah melalui akun Facebook Baiq Kolby, Kamis (27/8/2026), ikan oarfish tersebut ditemukan oleh sejumlah pengunjung pantai pada Rabu, 26 Agustus 2026, sekitar pukul 07.30 Wita pagi.
Beberapa anak dan seorang pria dewasa terlihat kompak menggotong ikan langka berbentuk pipih berukuran panjang kurang lebih empat meter. Seorang wanita yang merekam video tersebut merasa kaget atas penemuan tersebut.
Ikan langka itu tampak sama sekali tidak bergerak. Bahkan, ikan tersebut sempat direndam kembali ke air pantai dan tak kunjung menunjukkan hewan itu masih bernyawa.
Kepala Dinas Kelautan dadn Perikanan (DKP) NTB, Muslim tidak membantah adanya penemuan tersebut. Namun, pihak yang menemukan merupakan berasal dari Lombok Tengah.
Benarkah Kemunculan Ikan Oarfish 'Kiamat' Pertanda Gempa Bumi?
- Facebook/Baiq Kolby
Merujuk dari laman IPB, ikan oarfish merupakan ikan pelagis berukuran panjang. Ikan yang kerap disebut 'ikan kiamat' itu masuk bagian dari famili kecil Regalecidae (bahasa latin Regalis" yang berarti kerajaan.
Ikan oarfish tercatat sejak tahun 1772. Berdasarkan hasil dari penelitian, ikan ini memiliki habitan di perairan laut dengan kedalaman mencapai 3.300 kaki atau setara sekitar 1.000 meter.
Aktivitas kehidupan oarfish berada di perairan mempunyai iklim sedang hingga tropis. Sejauh ini terdapat tiga jenis oarfish, salah satu di antaranya adalah Regalecus glesne dikenal sebagai ikan raksasa.
Mereka dapat bertahan hidup dengan memakan plankton kecil. Meski tidak mempunyai gigi, tetapi ikan ini mempunyai insang penyapu di area mulut. Adapun panjang ikan tersebut bisa mencapai 36 kaki atau sekitar 11 meter.
Adapun penyebutan oarfish dikenal sebagai ikan dayung atau ikan 'kiamat'. Merujuk dari laman Atlas Obscura, kemunculan ikan tersebut menunjukkan tanda adanya bencana dari legenda asal Jepang.
Berdasarkan cerita dan mitos dari legenda Jepang, kemunculan oarfish di perairan dangkal bisa memicu gempa bumi. Kepercayaan ini sudah lama ada sejak abad ke-17.
Dalam keterangannya pada Kamis (29/8/2026), anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono turut memberikan pendapat terkait spekulasi tersebut. Menurutnya, tidak pernah ada bukti valid kemunculan ikan oarfish sebagai pertanda gempa.
"Secara ilmiah, belum ada bukti valud yang menunjukkan kemunculan ikan llaut dalam di permukaan atau pesisir, seperti di Pantai Pink Lombok, merupakan pertanda pasti akan terjadinya gempa," ujar Daryono.
Berdasarkan dari kesimpulan riset para ahli oseanografi dan seismologi termasuk kajian di Jepang kerap meneliti fenomena unik tersebut, Daryono menjelaskan, tidak ada kaitan sebab-akibat langsung antara perilaku ikan laut dalam dengan aktivitas seismik.
Ia menuturkan, pemicu fenomena kemunculan ikan oarfish kerap kali karena faktor seperti perubahan suhu air hingga pergeseran arus laut.
Ia mencontohkan, fenomena ini seperti upwelling membawa nutrisi dan organisme ke permukaan. Selain itu, kemunculan ikan tersebut juga bisa disebabkan karena sakit atau terluka hingga kejar-kejaran dengan pemangsa dari dalam menuju permukaan laut.
"Untuk itu, isu bahwa kemunculan ikan tersebut adalah tanda bencana gempa yang akan datang adalah tidak benar," tegasnya.
Selaras dengan Daryono, Muslim selaku Kepala DKP NTB menilai kemunculan ikan yang hidupnya berasa di laut dalam tersebut bisa dipicu karena perubahan suhu perairan.
"Mungkin karena ada perubahan suhu, suhu di perairan," ucap Muslim.
Ia menambahkan, pemicu perubahan suhu air laut juga disebabkan cuaca hingga dampak gempa bumi yang sempat terjadi di NTT pada pertengahan Agustus 2026. Kebetulan pantai tersebut masih satu lempeng dengan wilayah Provinsi NTT.
"Mitos ini kan belum terbukti secara ilmiah. Kita doakan saja mudah-mudahan tidak terjadi," tukasnya.
(hap)