- TikTok @skwfoodie
Viral! Sembahyang Rebut di Singkawang Ricuh, Warga Serbu Persembahan Sebelum Ritual Selesai
Sementara itu, akun @nakkahere mengaku lebih khawatir melihat kondisi Thai Mo Pak yang berada di tengah kerumunan. Beruntung, sejumlah orang langsung bergerak memberikan perlindungan ketika situasi semakin padat.
“Saya lebih ketar-ketir lihat sifu itu. Untung gercep ada yang melindungi,” tulis akun @nakkahere.
Akun @mshart juga mengungkapkan kesedihannya melihat aksi warga yang mengambil persembahan ketika upacara belum selesai. Menurutnya, makanan dan barang persembahan tersebut sebenarnya dapat dibagikan setelah ritual berakhir.
“Upacara belum selesai sudah dijarah. Sangat sedih melihatnya, padahal kalau sudah selesai pasti dibagi,” tulis akun @mshart.
Kericuhan dalam sembahyang rebut tersebut berlangsung di kawasan Pasar Kulor, Kota Singkawang, tepatnya di Vihara Tri Dharma Sui Kheu Thai Pak Kung atau yang dikenal sebagai Vihara Kulor. Vihara tersebut merupakan salah satu tempat ibadah penting bagi masyarakat Tionghoa di Singkawang dan menjadi lokasi pelaksanaan sejumlah tradisi keagamaan.
Aksi saling berebut persembahan terjadi di area altar ketika Thai Mo Pak masih memimpin rangkaian ritual. Tim Badan Pemadam Kebakaran Swasta (BPKS) Pasar Kulor bahkan harus bergerak cepat untuk melindungi Thai Mo Pak yang disebut berusia 84 tahun dari desakan ratusan orang.
Secara tradisi, perebutan sesaji dalam sembahyang rebut memang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Namun, proses tersebut dilakukan setelah ritual doa selesai dan terdapat aba-aba sebagai tanda bahwa warga sudah diperbolehkan mengambil makanan maupun persembahan yang telah disiapkan.
Sembahyang rebut merupakan tradisi masyarakat Tionghoa yang digelar untuk menghormati arwah leluhur serta arwah terlantar. Tradisi ini berkaitan dengan perayaan bulan ketujuh dalam kalender Imlek yang dikenal sebagai bulan hantu atau bulan arwah, serta memiliki sejumlah penyebutan di berbagai daerah.
Dalam pelaksanaannya, berbagai makanan, kue, buah-buahan, dan sesaji lainnya disusun di atas altar. Setelah rangkaian doa selesai, warga kemudian diperbolehkan mengambil atau merebut persembahan tersebut. Tradisi ini juga dipercaya memiliki makna keberuntungan dan rezeki bagi orang yang mendapatkannya.
Selain penyediaan sesaji, rangkaian ritual juga dapat melibatkan figur simbolis Thai Se Ja yang berkaitan dengan kepercayaan mengenai penguasa atau pengawas para arwah. Prosesi kemudian dapat dilanjutkan dengan pembakaran sejumlah atribut ritual sebagai simbol pengembalian arwah ke alamnya.