- YouTube KANG DEDI MULYADI CHANNEL
Sidak Sekolah Maung, Dedi Mulyadi Uji Kemampuan Siswa Lewat Tes Matematika Berhadiah Rp1,5 Juta
tvOnenews.com - Dedi Mulyadi melakukan sidak ke salah satu Sekolah Maung dan menyoroti kondisi lingkungan serta budaya disiplin para siswa. Dalam kunjungan tersebut, ia juga memberikan Tes Matematika secara spontan untuk menguji kemampuan berhitung siswa. Menariknya, salah satu siswa yang berhasil menjawab tantangan tersebut mendapatkan hadiah sebesar Rp1,5 juta.
Kunjungan Dedi Mulyadi ke Sekolah Maung menjadi kesempatan untuk berdialog langsung dengan para siswa mengenai kualitas pendidikan dan budaya sekolah. Ia menilai sekolah unggulan tidak cukup hanya memiliki siswa dengan kemampuan akademik tinggi, tetapi juga harus membentuk karakter, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Dalam dialog tersebut, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh nilai akademik. Menurutnya, siswa juga perlu memiliki kemampuan untuk bekerja keras, bersikap disiplin, serta mengelola lingkungan dengan baik. Hal tersebut menjadi salah satu perhatian yang ia sampaikan saat melihat kondisi sekolah yang kurang terawat.
Saat melakukan kunjungan, Dedi Mulyadi menemukan sejumlah persoalan pada lingkungan sekolah. Tumpukan sampah terlihat belum dikelola dengan baik, sementara kondisi toilet dan beberapa area lainnya dinilai kurang terawat. Ia kemudian meminta seluruh warga sekolah ikut bertanggung jawab menjaga kebersihan tanpa harus selalu mengandalkan bantuan dari pihak luar.
Dedi Mulyadi juga meminta siswa terlibat langsung dalam menyelesaikan persoalan kebersihan. Ia mencontohkan perawatan toilet sebagai tanggung jawab bersama yang sebenarnya dapat dilakukan tanpa membutuhkan biaya besar. Menurutnya, kebiasaan tersebut penting untuk membentuk karakter siswa sekaligus menciptakan budaya sekolah yang lebih tertib dan bersih.
“Ada toilet di SMA mau ditutup keran airnya pakai kain kotor lagi enggak boleh bisa diselesaikan tanpa biaya. Bisa sekolah-sekolah lain biayanya mahal-mahal, ada yang Rp1 juta per bulan, Rp2 juta per bulan. Nah, saya minta semuanya berpartisipasi. Enggak usah iuran bayar ke komite segala macam. Enggak usah. Kelas ini bertugas menyelesaikan toilet ini,” kata Dedi Mulyadi.
Ia juga meminta siswa tidak merasa malu untuk mengakui kekurangan yang ada di sekolah. Menurut Dedi Mulyadi, keterbukaan terhadap kekurangan justru menjadi langkah awal untuk melakukan perbaikan. Ia ingin siswa memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki persoalan secara mandiri.
“Kan kita malu dong anak SMA kalah sama SD di Nabire. Iya kan? Enggak ada masalah. Kekurangan kita. Mari kita perbaiki. Enggak usah malu dengan kekurangan. Kalau kita menutup-nutupi terus kekurangan, kita maju enggak? Kita harus terbuka pada kekurangan kita. Kalau ada jerawat enggak usah ditutup,” ujar Dedi Mulyadi.
Selain menyoroti kebersihan, Dedi Mulyadi juga menguji kemampuan berhitung siswa melalui Tes Matematika secara spontan. Ia meminta seorang siswi menghitung pembagian Rp1 juta dengan angka 36. Ketika siswi tersebut belum mampu menjawab, Dedi kemudian menanyakan jurusannya dan mencari siswa dari jurusan IPA untuk mengikuti tantangan tersebut.
“1 juta dibagi 36 jatuhnya berapa?” tanya Dedi Mulyadi kepada seorang siswi.
Melihat siswi tersebut belum bisa menghitung, Dedi Mulyadi kemudian bertanya mengenai jurusannya.
“Sekolahnya jurusan apa?”
“IPS,” jawab siswi tersebut.
“Oke, saya cari yang jurusan IPA,” kata Dedi Mulyadi.
Setelah menemukan siswa dari jurusan IPA, Dedi Mulyadi kembali memberikan soal dengan angka berbeda. Namun, siswa tersebut juga belum dapat menjawab pertanyaan yang diberikan. Dedi kemudian menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan sesuatu yang harus membuat siswa merasa malu, melainkan menjadi bahan evaluasi terhadap metode pembelajaran matematika.
“Artinya gitu loh. Tidak berarti bahwa kemudian kita menjadi malu. Bukan ini yang akan kita rubah. Metodologi matematikanya mau kita rubah dari mulai SD sampai SMA sehingga tadinya mau di sini tempat pelatihannya, sehingga nanti Senin tanggal 14 ada 216 guru matematika yang akan mengikuti metodologi pendidikan gasing, termasuk anak saya akan ikut,” kata Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi mengatakan metode pembelajaran matematika perlu dibuat lebih mudah dipahami dan aplikatif. Ia menilai perubahan metodologi penting agar siswa dapat memiliki kemampuan berhitung yang lebih baik. Rencana tersebut juga akan melibatkan ratusan guru matematika dalam pelatihan metode pembelajaran yang disebutnya sebagai pendidikan Gasing.
Setelah sebelumnya beberapa siswa belum mampu menjawab soal, Dedi Mulyadi kembali menawarkan tantangan kepada siswa lainnya. Kali ini, ia menyiapkan hadiah Rp1,5 juta bagi siswa yang berani maju ke depan dan berhasil menjawab soal matematika yang diberikan secara langsung.
“Nah, siapa yang berani lagi? Rp1.400. 400 / 36 saya kasih hadiah Rp1,5 juta. Siapa yang berani tes matematika sama saya? Maju ke depan,” tantang Dedi Mulyadi.
Seorang siswa kelas 12 jurusan IPA kemudian maju untuk mengikuti tantangan tersebut. Dedi Mulyadi memberikan soal pembagian Rp1.400 dengan angka 36. Siswa itu menjawab 38,9 dan jawaban tersebut dinyatakan benar. Dedi kemudian memberikan satu soal tambahan untuk memastikan kemampuan siswa tersebut.
“Rp1.400 dibagi 36,” tanya Dedi Mulyadi.
“38,9,” jawab siswa tersebut.
“Lagi satu lagi. Satu lagi, ya kan, Rp1.450 dibagi 42?” tanya Dedi Mulyadi lagi.
“34,5 ya,” jawab siswa tersebut dan ternyata benar.
Setelah siswa tersebut berhasil menjawab dua soal dengan benar, Dedi Mulyadi langsung memberikan hadiah yang telah dijanjikan. Momen tersebut menjadi bagian dari dialog interaktifnya dengan siswa sekaligus menunjukkan pentingnya keberanian dalam menghadapi tantangan.
“Betul, ya sudah, Rp1,5 juta saya kasih,” kata Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi kemudian menegaskan bahwa kemampuan akademik siswa bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Menurutnya, metode pembelajaran juga memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan siswa. Karena itu, ia mendorong adanya perubahan cara mengajarkan matematika agar lebih mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Jadi intinya satu, bukan di kualitas akademik anak-anak, bukan metodologi pembelajarannya yang lebih mudah, ya kan? Nanti guru matematikanya ikut kursus, ya Bu. Kan nanti saya pengin anak mau ketika dites itu kayak anak Nabire semuanya melebihi kalkulator,” tutup Dedi Mulyadi.
Selain persoalan akademik, Dedi Mulyadi juga mengingatkan kembali pentingnya karakter siswa di Sekolah Maung. Ia ingin siswa tidak hanya unggul dalam pelajaran, tetapi juga memiliki kemampuan mengelola lingkungan, menjaga kebersihan, dan menjalankan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau sekolah dengan jumlah siswanya 1000 lebih, terus kotor. Jadi penghuninya kira-kira anak-anak akademik bukan? Penghuninya manusia unggul enggak? Karena manusia unggul itu kekuatannya bukan dibobot akademik saja. Akademik itu tujuannya untuk apa? Untuk kemajuan, untuk kemanusiaan, untuk keadilan. Itu tujuan akademik,” kata Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi juga meminta karakter siswa di Sekolah Maung mulai diubah. Ia berharap siswa yang telah melalui proses seleksi dapat menunjukkan keunggulan bukan hanya dari sisi akademik, tetapi juga dari kerja keras, kedisiplinan, dan kemampuan mengelola lingkungan.
“Saya minta di sini dirubah karakternya. Bukan hanya Anda hebat nih. Saya katakan orang-orang kaya latar belakang akademiknya hebat-hebat enggak? Biasa. Kekuatan utama adalah dikerja keras. Anda sudah punya dua hebat. Satu sisi akademik Anda beda dengan yang lain karena masuk ke sini seleksi,” ujar Dedi Mulyadi.
“Nah, sehingga saya ingin anak-anak Sekolah Maung itu menjadi anak yang berbeda. Bukan hanya disiplin yang beda, bukan hanya akademik, tapi mampu mengelola lingkungan dengan baik,” lanjutnya.
Dalam kunjungan tersebut, Dedi Mulyadi juga menyatakan kesediaannya membantu perbaikan sarana dan prasarana sekolah, termasuk pemasangan paving block dan penyediaan pendingin ruangan atau AC. Namun, bantuan tersebut disertai harapan agar seluruh warga sekolah menunjukkan perubahan nyata dalam kedisiplinan dan kebersihan dalam waktu satu bulan.
Kunjungan Dedi Mulyadi akhirnya tidak hanya menjadi evaluasi terhadap kondisi Sekolah Maung, tetapi juga menjadi dorongan bagi siswa dan guru untuk melakukan perubahan. Melalui tantangan matematika, persoalan kebersihan, hingga rencana pelatihan guru, ia menekankan bahwa sekolah unggulan harus mampu menciptakan manusia yang unggul secara akademik sekaligus berkarakter.
(anf)