- X/Jag Omer
Ramai Biksu Senior Thailand Terlibat Skandal Seks, Tokoh Buddhis Indonesia Imbau Tak Menggeneralisir
Menurutnya, banyak biksu yang tetap menjalankan aturan monastik dengan baik dan dihormati karena perilakunya.
Bahkan, sebagian di antaranya dikenal sebagai guru spiritual yang memiliki pengaruh lintas agama dan kepercayaan.
"Hanya karena perilaku menyimpang Bhikku ini bukan berarti agama Buddha mendukung perbuatan salah dan melanggar aturan bahkan ketika pelakunya adalah seorang Bhikku atau rohaniwan," jelas Edi.
Edi juga menerangkan bahwa kehidupan seorang biksu memiliki aturan yang berbeda dengan kehidupan umat awam atau perumah tangga (Gharavasa).
Para biksu menjalani kehidupan monastik dengan tidak menikah serta berupaya melatih diri berdasarkan aturan Vinaya.
"Aturan kebhikkuan atau Vinaya ini memang sangat jauh berbeda dengan jalan Grhavassa atau perumahtangga," ujarnya.
Ia menambahkan, kehidupan para biksu diatur oleh berbagai ketentuan dalam Vinaya, termasuk mengenai perilaku seksual.
Karena itu, dugaan pelanggaran terhadap aturan tersebut tidak dapat dianggap sebagai sesuatu yang dibenarkan dalam kehidupan kebhikkuan.
"Para Bhikku ini memang tidak menikah dan bekerja dan selalu melatih diri dalam aturan Vinaya atau regulasi monastik," kata Edi.
Ia menyebut pelanggaran terkait perilaku seksual merupakan persoalan serius dalam kehidupan monastik dan memiliki konsekuensi terhadap status kebhikkuan, sesuai aturan dan tradisi yang berlaku.
"Dan pelanggaran terhadap sexual misconduct ini salah satu bentuk pelanggaran berat atau Pacittiya dan harus mengakui kesalahan tersebut dihadapan guru penabis atau kepala vihara dan melepas kebhikkuan (disrobed)," pungkasnya.
Kasus yang melibatkan Phra Wachirayan tersebut masih menjadi perhatian publik. Di tengah proses hukum yang berjalan, Edi menekankan pentingnya melihat persoalan secara proporsional, yakni membedakan tindakan individu yang diduga melanggar aturan dengan ajaran maupun institusi agama Buddha secara keseluruhan. (gwn)