- Tangkapan layar YouTube Curhat Bang Denny Sumargo
Kesaksian Ibu Korban Sebelum Bocah SD Pemalang Meninggal: Bukan Pola Makan, seperti Ada Pukulan di Perut
tvOnenews.com - Awalnya, Diah Indriyanti tidak menyangka perubahan pada putranya berkaitan dengan sesuatu yang serius. Bocah berusia 7 tahun itu sebelumnya dikenal sehat, ceria, rajin, dan sering membantu orangtuanya.
Namun, setelah pulang sekolah, sang ibu mulai melihat perubahan yang tidak biasa. Selera makan anaknya menurun.
Wajahnya terlihat berbeda dan ia cenderung menghindari sang ibu. Keluarga juga menemukan adanya memar di bagian perut. Ketika rasa sakit semakin hebat, orangtua akhirnya membawa anak tersebut untuk diperiksa ke dokter.
Di ruang pemeriksaan, menurut kesaksian Diah, dokter menyampaikan bahwa kondisi tersebut bukan karena pola makan.
Ada dugaan benturan pada bagian perut yang kemudian membuat korban mengungkap cerita mengenai dugaan kekerasan oleh kakak kelasnya. Beberapa hari kemudian, kondisi korban terus membutuhkan perawatan hingga akhirnya meninggal dunia.
Ibu Mulai Melihat Perubahan pada Anaknya
Diah mengatakan perubahan tersebut sangat berbeda dari kondisi putranya sebelum kejadian. Dalam kesehariannya, anak yang disebut bernama A itu merupakan sosok yang aktif dan dekat dengan keluarga.
“Sebelum kejadian kaya gini, beliau sehat, ceria. Sering bantu orang tua. Bahkan beliau rajin. Rajin sholat. Sering main ke rumah si mbah. Gak pernah kemana-mana,” ujar Diah Indriyanti, ibu korban, melansir podcast Curhat Bang Denny Sumargo, Selasa (6/10/2026).
Namun, setelah kejadian yang diduga berlangsung di sekolah, Diah mulai memperhatikan perubahan perilaku anaknya. Ia mengatakan pola makan korban tidak seperti biasanya. Anak tersebut juga terlihat lebih lemas dan cenderung menghindari ibunya.
Perubahan itu turut diperhatikan oleh sang nenek ketika korban datang ke rumahnya. Menurut Diah, sang nenek sempat melihat adanya memar pada bagian perut korban.
- Tangkapan layar YouTube Curhat Bang Denny Sumargo
“Si mbah itu sempat lihat di perut itu kayak ada memar gitu. Terus sampaikan ke saya,” kata Diah.
Ketika ditanya mengenai kondisi tersebut, korban disebut belum langsung memberikan penjelasan. Diah mengatakan anaknya justru terlihat ketakutan dan tidak banyak berbicara.
“Pas A pulang saya tanya. A kenapa. Gak papa A jatuh? Engga. Cuma memang dia udah ketakutan. Ekspresinya itu beda. Yaudah saya gak tanya lagi karena dia selalu menghindar,” tuturnya.
Dokter Disebut Menemukan Tanda seperti Pukulan
Kondisi korban kemudian semakin memburuk pada malam hari. Diah mengatakan anaknya mengeluhkan rasa sakit yang sangat kuat.
Karena sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit yang diketahui keluarga, orangtua sempat menduga sakit tersebut berkaitan dengan makanan atau jajanan. Namun, dugaan itu berubah setelah korban diperiksakan ke dokter.
Dalam kesaksiannya, Diah mengatakan dokter yang menangani korban menyampaikan bahwa kondisi tersebut tidak menunjukkan persoalan pola makan.
“Pak dokter bilang bu ini bukan pola makan, ini anak sehat gak ada riwayat apa-apa. Ya ini perutnya itu kaya ada semacam pukulan,” ujar Diah.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi titik penting bagi keluarga untuk mengetahui apa yang mungkin terjadi pada anaknya.
Dokter disebut menanyakan langsung kepada korban mengenai rasa sakit di bagian perut. Dalam pemeriksaan itu, menurut Diah, anaknya akhirnya menceritakan dugaan kekerasan yang dialaminya.
“Terus dokter tanyain A perutnya kenapa? Terus A baru bilang, iya sakit dipukul sama kakak kelas. Tiga anak. Itu baru terbuka di situ,” kata Diah.
Keluarga kemudian menyebut dugaan kekerasan tersebut melibatkan tiga siswa yang merupakan kakak kelas korban. Dua di antaranya disebut berasal dari kelas 5, sementara satu lainnya dari kelas 6.
Sembilan Hari Dirawat, Kondisi Kembali Memburuk
Setelah menjalani pemeriksaan, korban kemudian mendapatkan perawatan di RSUD Dr Azhari, Pemalang. Ia disebut menjalani perawatan selama sembilan hari.
Selama berada di rumah sakit, keluarga menyebut hasil pemeriksaan rontgen menunjukkan adanya peradangan. Korban kemudian mendapatkan perawatan secara intensif hingga kondisinya sempat membaik dan diperbolehkan kembali ke rumah.
Namun, beberapa waktu kemudian kondisi korban kembali menurun.
Pada 30 September 2026, A kembali mengalami kondisi yang memburuk. Ia kemudian dibawa ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong.
Kematian tersebut membuat keluarga meminta agar dugaan kekerasan yang dialami korban dapat diusut secara menyeluruh. Mereka berharap aparat dapat mengungkap rangkaian kejadian yang terjadi sebelum korban jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dunia.
Kasus ini juga menambah perhatian terhadap persoalan kekerasan terhadap anak di lingkungan sekolah. Namun, dugaan mengenai pelaku maupun hubungan antara kejadian di sekolah dengan kondisi medis korban tetap perlu dibuktikan melalui penyelidikan dan pemeriksaan pihak berwenang.
Bagi keluarga, perubahan perilaku yang awalnya dianggap sebagai tanda biasa justru menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang kemudian membawa mereka pada dugaan adanya kekerasan.
“Pak dokter bilang bu ini bukan pola makan, ini anak sehat gak ada riwayat apa-apa. Ya ini perutnya itu kaya ada semacam pukulan.”
Kesaksian tersebut menjadi salah satu cerita yang disampaikan ibu korban ketika mengenang kondisi anaknya sebelum menjalani perawatan hingga akhirnya meninggal dunia. (udn)