news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Viral Tradisi Pernikahan Bugis, Satu Tante Satu Emas! Netizen Takjub, Ternyata Ada Makna Kekeluargaan di Baliknya.
Sumber :
  • Tangkapan layar instagram alfiaaa

Viral Tradisi Pernikahan Bugis, Satu Tante Satu Emas! Netizen Takjub, Ternyata Ada Makna Kekeluargaan di Baliknya

Viral tradisi pernikahan Bugis satu tante satu emas di Instagram. Simak momen pengantin dibanjiri perhiasan, filosofi Baju Bodo, dan makna budaya di baliknya
Minggu, 11 Oktober 2026 - 00:52 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Tradisi pernikahan adat Bugis kembali mencuri perhatian warganet. Kali ini, bukan besarnya uang panai atau megahnya pesta yang menjadi sorotan, melainkan momen ketika para tante bergantian memasangkan perhiasan emas kepada pengantin wanita. 

Aksi tersebut sontak mengundang rasa penasaran sekaligus membuat banyak orang membayangkan betapa meriahnya pernikahan dalam keluarga besar masyarakat Bugis.

Momen yang diunggah akun Instagram @arti.moment_wcc itu memperlihatkan mempelai wanita mengenakan Baju Bodo berwarna kuning cerah, lengkap dengan perhiasan yang berkilauan. 

Satu per satu kerabat perempuan mendekat ke pelaminan untuk memberikan perhiasan, mulai dari cincin hingga gelang. Suasana penuh tawa dan kebahagiaan membuat prosesi tersebut terasa hangat, memperlihatkan keterlibatan keluarga dalam merayakan hari istimewa pengantin.

Unggahan itu disertai tulisan, "Welcome to keluarga Bugis 'satu tante satu emas'." Berdasarkan keterangan dalam materi unggahan yang dirujuk, video tersebut telah ditonton lebih dari 1,6 juta kali di Instagram. 

Di tengah beragam reaksi netizen, muncul pertanyaan menarik: apakah pemberian emas tersebut merupakan tradisi adat Bugis yang berlaku umum, atau bentuk kemurahan hati keluarga dalam perayaan pernikahan? Untuk memahaminya, momen viral ini perlu dilihat dari sisi kekeluargaan sekaligus konteks budaya yang melatarbelakanginya.

Viral Satu Tante Satu Emas, Netizen Takjub Lihat Hadiah Pengantin

Perhatian warganet tidak lepas dari banyaknya perhiasan yang dikenakan mempelai wanita. Setiap tante yang maju membawa suasana tersendiri, sementara pengantin tampak tersenyum menerima pemberian dari keluarga besarnya.

Kolom komentar pun dipenuhi reaksi spontan. Salah satu akun, @septiawldr_149, menuliskan, "Itu emas beneran gasi,?dapet duitt darimana mereka ya, aku mau beli 1 gram aja mumetnya ga kira"?," sebagai ungkapan takjub melihat banyaknya emas yang diberikan.

Komentar lain datang dari @vvvviii_99 yang menulis, "Bismillah manifest dapet daeng yang baikk?," disusul @oot4a dengan tanggapan singkat, "Mantap ih?."

Reaksi tersebut memperlihatkan bagaimana prosesi keluarga dalam sebuah pernikahan dapat menjadi tontonan menarik di media sosial. 

Bagi sebagian orang, emas identik dengan barang bernilai tinggi. Namun, dalam momen ini, perhatian juga tertuju pada keterlibatan para kerabat yang ingin berbagi kebahagiaan dengan pengantin.

Pemberian emas dalam unggahan tersebut dapat dimaknai sebagai bentuk perhatian dan dukungan keluarga. 

Meski demikian, tidak ada sumber yang terverifikasi dalam artikel ini yang memastikan bahwa pola satu tante memberikan satu emas merupakan ketentuan adat yang wajib diikuti seluruh masyarakat Bugis. Karena itu, fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai praktik pemberian dalam keluarga yang kemudian viral.

Baju Bodo, Busana Tradisional Bugis yang Penuh Sejarah

Selain perhiasan, busana pengantin dalam video tersebut turut menarik perhatian. Baju Bodo berwarna kuning cerah yang dikenakan mempelai merupakan pakaian tradisional perempuan Bugis yang menjadi bagian dari warisan budaya Sulawesi Selatan.

Mengacu pada artikel “Baju Bodo: Pakaian Tradisional Perempuan Bugis dan Identitas Budaya Sulawesi Selatan” yang dipublikasikan di Indonesia.travel, platform pariwisata resmi Indonesia, Baju Bodo memiliki karakteristik berupa blus longgar berbentuk persegi dengan lengan pendek. 

Busana ini umumnya dipadukan dengan kain sarung dan dapat dilengkapi berbagai aksesori tradisional. Sumber tersebut juga menjelaskan bahwa istilah bodo berkaitan dengan makna “pendek” dalam bahasa Bugis, yang merujuk pada bentuk lengannya.

Dalam sejarahnya, warna Baju Bodo memiliki kaitan dengan usia dan kedudukan sosial pemakainya. Namun, pemaknaan tersebut mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Penggunaan warna dalam busana tradisional masa kini tidak selalu mengikuti aturan sosial yang berlaku pada masa lalu.

Kehadiran Baju Bodo dalam pernikahan memperlihatkan bagaimana busana tradisional tetap dipertahankan di tengah perkembangan gaya perayaan modern. Pakaian tersebut bukan sekadar pelengkap penampilan, melainkan juga penanda identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.

Sementara itu, pemberian emas oleh para tante dalam unggahan viral tersebut perlu dipahami berdasarkan konteks keluarga yang bersangkutan. 

Busana tradisional dan hadiah emas memang hadir dalam satu perayaan, tetapi keduanya tidak otomatis memiliki fungsi adat yang sama.

Bukan Sekadar Emas, Ini Konteks Kekeluargaan dalam Pernikahan Bugis

Untuk memahami tradisi perkawinan Bugis secara lebih luas, penelitian mengenai uang panai dapat menjadi rujukan akademik. Meski begitu, uang panai perlu dibedakan dari hadiah emas yang diberikan kerabat kepada pengantin karena keduanya memiliki konteks dan fungsi berbeda.

Dalam artikel ilmiah “Trend of Uang Panai Researches: A Systematic Literature Review”, yang ditulis Muh Shadiqul Fajri AF dan diterbitkan dalam Jurnal Adat dan Budaya Indonesia, Vol. 7 No. 2, halaman 163–173, pada 30 September 2025, penulis menelaah penelitian mengenai uang panai dalam perkawinan masyarakat Bugis. 

Kajian tersebut menyaring 18 artikel dari publikasi periode 2014–2024 untuk memetakan pendekatan, metode, dan lokasi penelitian mengenai tradisi tersebut.

Penelitian itu menunjukkan bahwa uang panai merupakan salah satu tradisi perkawinan yang banyak dikaji dalam konteks budaya Bugis. Namun, kajian tersebut membahas uang panai, bukan praktik pemberian emas oleh tante kepada pengantin.

Konteks lainnya dijelaskan oleh Muhammad Aris, Ratna Sari Dewi, dan Ria Yuni Lestari dalam penelitian “Tradisi Uang Panai dalam Pernikahan Diaspora Suku Bugis (Studi Etnografi pada Masyarakat Kampung Bugis di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Serang, Banten)”, yang diterbitkan dalam Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan, Vol. 14 No. 1, Mei 2024, halaman 89–98.

Berdasarkan penelitian etnografi tersebut, proses pemberian uang panai di komunitas yang diteliti melibatkan pembicaraan hingga tercapai kesepakatan kedua keluarga.

Penulis menjelaskan bahwa uang panai dimaknai sebagai bentuk penghargaan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan, sementara besarannya ditentukan melalui kesepakatan agar tidak memberatkan salah satu pihak. 

Temuan ini berlaku pada komunitas yang menjadi lokasi penelitian dan tidak serta-merta mewakili seluruh keluarga Bugis.

Kedua penelitian tersebut membantu menjelaskan bahwa perkawinan Bugis memiliki dimensi sosial dan kekeluargaan yang penting. Namun, keduanya tidak dapat dijadikan bukti bahwa tradisi “satu tante satu emas” merupakan ketentuan adat yang berlaku universal. 

Pemberian emas dalam unggahan @arti.moment_wcc lebih tepat dijelaskan sebagai hadiah atau bentuk dukungan keluarga yang maknanya perlu ditempatkan sesuai konteks peristiwa.

Pada akhirnya, viralnya momen tersebut bukan semata-mata tentang berapa banyak perhiasan yang diterima pengantin. Video itu juga memperlihatkan bagaimana keluarga ikut mengambil bagian dalam perayaan pernikahan melalui pemberian dan kebersamaan.

Setiap keluarga tentu memiliki kebiasaan dan kemampuan ekonomi yang berbeda. Karena itu, pemberian emas tidak seharusnya dipandang sebagai ukuran mutlak kemewahan atau keabsahan sebuah pernikahan adat Bugis.

Di balik kilau emas dan meriahnya pelaminan, momen tersebut mengingatkan bahwa pernikahan juga menjadi ruang bagi keluarga untuk menunjukkan perhatian, memberikan doa restu, dan mendukung pasangan yang memulai kehidupan baru. (udn)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:50
02:47
06:54
06:16
06:20
07:15

Viral