news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

iPhone 18 Pro dan Pro Max Dibanderol Rp21 Jutaan, Berapa Kali Gaji UMR Jakarta 2026 untuk Membelinya?.
Sumber :
  • Apple

iPhone 18 Pro dan Pro Max Dibanderol Rp21 Jutaan, Berapa Kali Gaji UMR Jakarta 2026 untuk Membelinya?

Harga iPhone 18 Pro dan Pro Max diperkirakan mulai Rp21,5 juta. Simak perbandingan dengan UMP Jakarta 2026, spesifikasi kamera, baterai, dan chip A20 Pro
Kamis, 15 Oktober 2026 - 00:16 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Bagi pekerja dengan gaji setara Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta 2026, membeli ponsel seharga Rp20 juta lebih bukan keputusan yang bisa diambil sembarangan. 

Harga tersebut bahkan mendekati tiga kali upah bulanan minimum di Ibu Kota, sehingga keinginan memiliki smartphone premium perlu berhadapan dengan kebutuhan hidup sehari-hari.

Situasi ini menjadi semakin menarik ketika Apple memperkenalkan iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max. Kedua perangkat tersebut membawa sejumlah pembaruan, mulai dari kamera dengan teknologi variable aperture, chipset A20 Pro berbasis fabrikasi 2 nanometer, hingga baterai yang diklaim lebih tahan lama. Namun, apakah peningkatan teknologi itu sebanding dengan uang yang harus dikeluarkan?

Bagi pekerja Jakarta yang tertarik memilikinya, pertanyaan tentang harga iPhone 18 Pro dan Pro Max tidak cukup dijawab dengan melihat banderol perangkat. 

Perlu juga mempertimbangkan berapa bulan gaji yang harus disisihkan, manfaat yang benar-benar dibutuhkan, serta apakah peningkatan dari generasi sebelumnya cukup besar untuk membenarkan pengeluaran tersebut.

Harga iPhone 18 Pro dan Pro Max, Berapa Kali UMP Jakarta 2026?

Mengacu pada perkiraan harga yang tercantum dalam materi peluncuran, iPhone 18 Pro dibanderol mulai US$1.199 atau sekitar Rp21,5 juta. Sementara itu, iPhone 18 Pro Max diperkirakan mulai US$1.299 atau sekitar Rp23,3 juta, menggunakan asumsi kurs Rp17.915 per dolar AS.

Harga tersebut merupakan konversi dari harga internasional, bukan harga jual resmi Indonesia. Pajak, biaya distribusi, nilai tukar, dan kebijakan distributor dapat membuat harga akhirnya berbeda.

Sebagai pembanding, UMP DKI Jakarta 2026 ditetapkan sebesar Rp5.729.876 per bulan. Dengan angka tersebut, harga iPhone 18 Pro setara sekitar 3,75 kali UMP bulanan. Adapun iPhone 18 Pro Max mencapai sekitar 4,07 kali UMP.

Artinya, pekerja yang menerima upah minimum perlu mengumpulkan hampir empat bulan gaji penuh untuk membeli salah satu perangkat tersebut, dengan asumsi seluruh penghasilan tidak digunakan untuk kebutuhan lain.

Dalam kenyataan, perhitungan itu tentu berbeda. Biaya tempat tinggal, transportasi, makan, cicilan, dan kebutuhan keluarga membuat sebagian gaji harus dialokasikan untuk pengeluaran rutin. Jika hanya mampu menyisihkan Rp1 juta setiap bulan, misalnya, pembelian iPhone 18 Pro membutuhkan waktu sekitar 22 bulan, sedangkan Pro Max sekitar 24 bulan.

Menurut David Brendi, pemilik kanal YouTube GadgetIn, yang telah melakukan unboxing dan ulasan singkat iPhone 18 Pro serta iPhone 18 Pro Max varian 256GB region Singapura, total harga kedua perangkat tersebut dalam pengamatannya mencapai sekitar Rp60 juta dengan asumsi sudah termasuk pajak impor.

Kapasitas penyimpanan yang tersedia disebut mulai 256GB, kemudian 512GB, 1TB, hingga 2TB. Pilihan warnanya meliputi burgundy, glacier, silver, dan hitam.

Dengan selisih harga tersebut, calon pembeli perlu menentukan apakah kebutuhan mereka benar-benar memerlukan model Pro Max atau sudah dapat terpenuhi oleh varian Pro yang lebih ringkas.

Kamera Variable Aperture dan Chip A20 Pro Jadi Pembeda Utama

Daya tarik terbesar iPhone 18 Pro series terletak pada kombinasi peningkatan kamera dan performa. Kedua model menggunakan kamera utama 48MP Fusion Main dengan teknologi variable aperture yang memungkinkan pengguna menyesuaikan bukaan lensa.

Terdapat empat pilihan bukaan, yakni f/1.48, f/1.8, f/2.8, dan f/4.0. Pengaturan ini memberikan keleluasaan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk sekaligus mengendalikan kedalaman bidang atau depth of field.

Pada bukaan f/1.48, kamera berpotensi menangkap lebih banyak cahaya untuk membantu pemotretan malam hari. Sebaliknya, bukaan f/4.0 dapat membantu mempertahankan ketajaman lebih banyak objek dalam satu bingkai, misalnya ketika memotret foto kelompok.

Fitur ini menjadi relevan bagi fotografer, videografer, dan kreator konten yang membutuhkan kendali lebih besar atas hasil rekaman. Pengaturan manual melalui Pro Controls juga membantu menjaga konsistensi pencahayaan, white balance, dan efek gerakan dalam video.

Berdasarkan perbandingan spesifikasi yang tersedia, kamera ultrawide 48MP dan telephoto 48MP tetap menjadi bagian dari konfigurasi perangkat. Kemampuan zoom juga mendukung pemotretan jarak jauh, dengan klaim hingga 8x optical zoom pada lini terbaru.

Meski demikian, peningkatan kamera tidak otomatis membuat semua foto terlihat jauh lebih baik. Hasil akhirnya tetap dipengaruhi kondisi pencahayaan, teknik pengambilan gambar, dan pemrosesan perangkat lunak.

Di sektor performa, Apple menyematkan chip A20 Pro yang menggunakan proses fabrikasi 2 nanometer. Chipset ini menggabungkan CPU 6-core, GPU 7-core, serta Dual 16-core Neural Engine.

Apple mengklaim bandwidth memori meningkat hingga 50 persen dibandingkan A19 Pro, sementara kemampuan grafisnya meningkat hingga 40 persen. Sistem pendingin vapor chamber generasi baru juga disebut mampu meningkatkan sustained performance hingga 40 persen.

Peningkatan tersebut berpotensi bermanfaat untuk penyuntingan video, pemrosesan foto, permainan dengan grafis berat, dan fitur berbasis kecerdasan buatan. Namun, bagi pengguna yang aktivitasnya sebatas berkirim pesan, membuka media sosial, dan menonton video, kemampuan ekstra tersebut belum tentu menjadi kebutuhan mendesak.

Baterai, iOS 27, dan Pertimbangan Upgrade dari iPhone 17 Pro

Selain kamera, daya tahan baterai menjadi salah satu aspek yang ditingkatkan. iPhone 18 Pro diklaim mampu bertahan hingga 24 jam untuk pemakaian normal, sedangkan Pro Max mencapai 30 jam.

Untuk varian eSIM-only yang dipasarkan di Amerika Serikat dan sejumlah wilayah lain, pemutaran video diklaim dapat mencapai 36 jam pada iPhone 18 Pro dan 45 jam pada Pro Max. Angka tersebut tidak otomatis berlaku pada seluruh varian karena kapasitas baterai dapat berbeda berdasarkan konfigurasi pasar.

Kapasitas baterai yang disebutkan untuk model eSIM-only masing-masing mencapai 4.288 mAh dan 5.567 mAh. Pengisian daya juga diklaim mampu mencapai 50 persen dalam sekitar 15 menit melalui metode pengisian yang didukung.

Kedua perangkat menjalankan iOS 27 dan terintegrasi dengan Apple Intelligence. Salah satu fitur yang disorot adalah Siri AI versi beta, yang dirancang untuk memahami konteks pengguna dan membantu menjalankan tugas berdasarkan informasi dari aplikasi. Dynamic Island juga dibuat lebih kecil, sementara modem C2 diklaim meningkatkan kecepatan unggah sekaligus menghemat konsumsi daya hingga 15 persen dibandingkan C1X.

Lantas, apakah pengguna iPhone 17 Pro Max perlu beralih ke generasi terbaru?

Mengutip ulasan Digital Camera World, dampak teknologi variable aperture dalam fotografi sehari-hari mungkin tidak terasa revolusioner bagi pengguna awam. Namun, kontrol fisik atas cahaya dan fokus memberikan nilai tambah bagi pengguna profesional.

Karena itu, upgrade lebih masuk akal bagi kreator konten yang rutin merekam video, membutuhkan kontrol manual, atau sering bekerja dalam kondisi pencahayaan yang sulit. Sebaliknya, pengguna iPhone 17 Pro Max yang lebih banyak mengambil foto siang hari, memakai kamera ultrawide, atau melakukan zoom standar masih dapat mempertahankan perangkatnya.

Untuk pasar Indonesia, informasi dalam materi yang tersedia menyebutkan bahwa kedua model telah melewati uji TKDN dan diperkirakan hadir pada Oktober 2026. Namun, tanggal penjualan resmi dan harga lokal tetap perlu menunggu konfirmasi dari Apple atau distributor resmi.

Pada akhirnya, iPhone 18 Pro dan Pro Max menawarkan peningkatan yang menarik, tetapi harga premium tidak otomatis menjadikannya pilihan paling rasional untuk semua orang. Bagi pekerja dengan penghasilan setara UMP Jakarta, keputusan membeli idealnya didasarkan pada kebutuhan nyata, kemampuan menabung, dan kondisi keuangan setelah kebutuhan pokok terpenuhi.

Sebab, teknologi terbaru memang dapat menunjang produktivitas. Namun, manfaatnya baru terasa sepadan ketika pembeliannya tidak mengorbankan kestabilan keuangan sehari-hari. (udn)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:50
02:47
06:54
06:16
06:20
07:15

Viral