- dok.Antara
Pengakuan Ragnar Oratmangoen Sempat Kewalahan saat Bergabung Timnas Indonesia di Era STY, Bukan soal Budaya dan Agama tapi ....
Jakarta, tvOnenews.com- Pemain mualaf, Ragnar Oratmangoen pernah menyampaikan ada satu hal yang buatnya sempat kewalahan.
Hal ini tentu, bagian dari proses Ragnar Oratmangoen beradaptasi dengan hal-hal baru di Indonesia ataupun Timnas Indonesia.
- dok.Antara
Ternyata hal inilah yang buat Ragnar Oratmangoen dituntut harus lebih kerja keras. Sebab memungkinkan bisa mempengaruhi ritme bermain.
Ragnar Oratmangoen yang disapa Wak Haji terus terang dalam podcast tayang di YouTube Soccer77, dikutip Minggu (16/2/2025).
"Di Belanda, semua orang ingin bermain sepak bola yang baik dari belakang,” ungkap penyerang Timnas Indonesia itu.
Menurutnya gaya bermain Timnas Indonesia dengan Belanda sangatlah berbeda. Sebab di sini lebih sering gunakan pancing umpan jauh.
“Di Indonesia, yang pertama kali dilakukan adalah kerja keras dan berlari dan tidak bermain bola seperti itu (operan pendek).” jelas Ragnar.
Saat kalian tidak bisa bermain operan pendek, maka bermain operan panjang. Di Belanda, mereka tidak menyukai bermain dengan operan jarak jauh,” ungkap Ragnar.
Sehingga perbedaan yang signifikan itu, buat pemain naturalisasi ini harus bersungguh-sungguh dalam bermain.
Inilah buatnya merasa tertantang dan dituntut jauh lebih bekerja keras. Sebab seluruh tenaga yang digunakan atau taktik memungkinkan mempengaruhi.
Selain itu, ada hal yang perlu diacungi jempol. Sebab ia lebih nyaman di Tanah Air.
Sosoknya yang murah senyum dikenal juga sebagai pemain naturalisasi. Pria yang akrab disapa Wak Haji ini memiliki ciri khas yaitu senyumnya.
- dok.instagram FCV Dender
Diketahui, Ragnar Oratmangoen merupakan keturunan Belanda-Indonesia. Namanya jadi populer setelah ia mampu membobol gawang Vietnam di Kualifikasi Piala Dunia 2026.
Selain karena kelebihannya, ia juga dikenal sebagai pemain mualaf di Timnas Indonesia. Namun, ia terlahir dari keluarga non-muslim di tengah keluarga beragama Nasrani.
Pemain darah Belanda ini, merasa lebih nyaman dan menyenangkan di Indonesia karena tingkat toleransi yang tinggi.
"Indonesia mayoritas beragama islam, dan bagaimana pandangan kamu jika dibandingkan dengan eropa yang cukup bebas?," tanya Mamat kepada Ragnar sebagai host.
"Sebenarnya tidak begitu sulit di Belanda. Namun kamu tidak akan sebebas yang diinginkan," jawab Ragnar.
"Sebab mereka orang Belanda sangat mudah men-judge (intoleran) orang lain, berbeda dengan saya di Indonesia," jelas Wak Haji itu.
Dalam pandangannya, masyarakat Indonesia begitu toleransi dengan lingkungan sekitar. Hal inilah dianggap lebih baik dibandingkan Belanda.
Bahkan kata Ragnar juga menambahkan kalau di Indonesia bisa bebas mendengar suara Adzan.
"Di saat mereka melihat kita, bisa saja mereka berpikir yang bukan-bukan. Sementara saya di sini bisa bebas. Mendengarkan azan setiap kali saya keluar," jelas Ragnar.(klw)