news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi pasangan bertengkar.
Sumber :
  • Pexels/ANTONI SHKRABA production

Bolehkah Istri Menolak Tinggal Serumah dengan Mertua? Begini Penjelasan Ustadz Raehanul Bahraen

Bolehkah istri menolak tinggal serumah dengan mertua? Simak penjelasan dari Ustadz Raehanul Bahraen.
Senin, 19 Januari 2026 - 15:01 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Dalam rumah tangga, persoalan tempat tinggal sering kali menjadi ujian tersendiri, khususnya ketika berkaitan dengan tinggal serumah bersama orang tua atau mertua

Tidak sedikit pasangan yang menghadapi gesekan akibat perbedaan kebiasaan, cara pandang, hingga pengelolaan rumah tangga. 

Islam sendiri memberikan panduan yang jelas terkait hak dan kewajiban suami-istri dalam hal ini.

Ustadz Raehanul Bahraen menjelaskan bahwa para suami hendaknya benar-benar memperhatikan hak istri. 

Salah satu hak yang sangat mendasar adalah tempat tinggal yang aman dan nyaman.

“Di antara hak istri yang wajib ditunaikan oleh suami adalah menyediakan tempat tinggal yang aman bagi istrinya,” ujar Ustadz Raehanul Bahraen.

Ilustrasi pasangan suami istri bercerai
Sumber :
  • Pexels/ANTONI SHKRABA production

Ia menegaskan bahwa suami tidak dibenarkan menempatkan istrinya dalam kondisi yang membuatnya tertekan secara perasaan.

“Dan tidak boleh bagi suami menempatkan bersama istrinya orang lain yang kira-kira akan membahayakan atau tidak disenangi oleh istri keberadaannya, walaupun itu dari keluarga suami semisal ibunya, adiknya, bapaknya, dan sebagainya,” ujarnya.

Lalu, bagaimana jika istri menolak tinggal serumah dengan mertua? Ustadz Raehanul Bahraen mengutip fatwa ulama besar, Shalih al-Fawzan, yang memberikan penegasan penting bagi para suami.

“Selama istri Anda tidak ingin tinggal di rumah orang tua Anda, maka Anda para suami tidak bisa memaksa,” katanya.

Menurutnya, suami tetap memiliki kewajiban berbakti kepada orang tua, namun tidak dengan mengorbankan hak utama istri.

“Tempatkanlah istri di rumah sendiri dan tetap berbakti kepada orang tua, menghubungi dan berbuat baik kepada orang tua semampu Anda,” kata Ustaz Raehanul.

Ilustrasi pasangan saling berpelukan
Sumber :
  • Pexels.com / César O'neill

Ustadz Raehanul Bahraen juga menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang sangat memahami psikologi manusia, terutama hubungan antara istri dan mertua perempuan.

Ia mencontohkan bagaimana persoalan sepele bisa berkembang menjadi konflik berkepanjangan.

“Bisa jadi terjadi ketidakcocokan, perbedaan pemikiran mulai dari dapur, pengaturan rumah bahkan kebijakan dalam rumah tangga,” ujar Ustadz Raehanul.

“Bisa jadi istri sekadar salah menaruh letak piring di rak, ini menjadi masalah besar dan berkelanjutan terus-menerus,” lanjutnya.

Karena itu, ia menegaskan bahwa hak istri sangat besar, terutama hak dasar untuk memiliki rumah sendiri.

Terkait solusi jika istri tidak ingin serumah dengan mertua, Ustadz Raehanul Bahraen memberikan beberapa alternatif. 

Herfiza, Donna Harun dan Ricky Harun
Sumber :
  • YouTube/KELUARGA MOYAPOYA

Solusi pertama adalah memisahkan area rumah jika memungkinkan.

“Apabila rumahnya besar, maka rumah bisa disekat, dipisahkan dapurnya. Apabila dua lantai, bisa dipisahkan lantai satu dan lantai dua,” kata Ustadz Raehanul Bahraen.

“Pisahkan dapurnya, pisahkan peralatan rumah, dan pisahkan kebijakan pengaturan rumah antara istri dan mertua,” lanjutnya.

Solusi kedua, jika suami mampu secara finansial, adalah menyediakan rumah terpisah namun tetap dekat dengan orang tua.

“Jika mampu, bisa membeli rumah atau mengontrak rumah dekat dengan rumah orang tua sehingga bisa dikunjungi secara berkala,” tambahnya.

Namun jika kondisi benar-benar memaksa untuk tinggal serumah, maka suami harus bersikap lembut dan bijak kepada istri.

Ia mencontohkan ucapan yang seharusnya disampaikan suami.

“Maafkan aku istriku, saya harus berbakti kepada orang tua, mereka sedang sakit dan perlu serumah, tidak apa-apa ya,” ucap Ustadz Raehanul Bahraen.

“Semoga nanti anak-anak kita berbakti kepada ibunya karena melihat saya berbakti kepada ibu saya,” lanjutnya.

Ustadz Raehanul Bahraen menekankan bahwa tujuan akhirnya adalah menjadikan istri merasa dihargai dan dimuliakan.

Ia menutup penjelasannya dengan pesan penting tentang komunikasi dan musyawarah.

“Intinya semua ini adalah dimusyawarahkan, dibicarakan baik-baik. Dan semoga rumah tangga konsumen dijaga oleh Allah subhanahu wa ta’ala, amin,” tutupnya.

Penjelasan ini menjadi pengingat bahwa keharmonisan rumah tangga dibangun dengan keseimbangan antara bakti kepada orang tua dan pemenuhan hak istri sesuai tuntunan Islam. (gwn)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

09:03
04:31
01:12
00:56
05:51
04:43

Viral