- Ilustrasi/Freepik
Khutbah Jumat 30 Januari 2026: Nisfu Syaban, Waktu Terbaik Muhasabah Menyongsong Ramadhan Penuh Keberkahan
Jakarta, tvOnenews.com - Nisfu Syaban merupakan tanggal di pertengahan tepatnya jatuh pada tanggal 15 bulan Syaban. Hal ini menunjukkan sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan.
Berdasarkan kalender Hijriah 2026, Nisfu Syaban 2026/1447 H jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026. Sementara, malam Nisfu Syaban dimulai pada Senin, 2 Februari 2026 malam hari, tepatnya setelah matahari terbenam.
Adapun keistimewaan Nisfu Syaban adalah momentum terbaik meraih penuh pengampunan. Selain itu, malam Nisfu Syaban dinamakan lailatul bara'ah yang berarti malam penuh kesucian.
Saat Nisfu Syaban, umat Muslim terus meningkatkan amal ibadah. Hal ini sebagai bentuk muhasabah diri dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan.
Maka dari itu, tvOnenews.com akan merekomendasikan tema teks khutbah Jumat singkat terbaru untuk pelaksanaan shalat Jumat, 30 Januari 2026, dengan judul "Nisfu Syaban, Waktu Terbaik Muhasabah Menyongsong Ramadhan Penuh Keberkahan".
Teks Khutbah Jumat: Nisfu Syaban, Waktu Terbaik Muhasabah Menyongsong Ramadhan Penuh Keberkahan
- iStockPhoto
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
Kaum muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah SWT, Rabb semesta alam. Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita, idola kita, Baginda Nabi Muhammad SAW. Berkat beliau, kita masih dapat merasakan nikmat Islam dalam menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah, pertama-tama khatib senantiasa mengajak kita semua, marilah kita terus meningkatkan takwa kepada Allah SWT. Caranya mudah, marilah kita melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Pada kesempatan khutbah Jumat ini, khatib akan mengambil tema seputar Nisfu Syaban. Maka dari itu, khatib ingin mengajak jemaah shalat Jumat sekalian untuk senantiasa merenungi keistimewaan Nisfu Syaban.
Pasalnya, Nisfu Syaban sebagai waktu terbaik untuk muhasabah diri. Hal ini menjadi cara paling tepat dalam rangka menyongsong bulan Ramadhan yang penuh berkah.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Diketahui, bulan Syaban terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan. Di balik itu, bulan ini mempunyai keutamaan dan keistimewaan besar.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam An-Nasa'i Nomor 2357 dihasankan oleh Syaikh Al-Albani menyebutkan bahwa, Rasulullah SAW senantiasa memperbanyak amalan ibadah di bulan Syaban. Hal ini menandakan bahwa amalan manusia diangkat oleh Allah SWT. Sayangnya keistimewaannya sering tidak disadari oleh manusia. Begini bunyinya:
"Itulah bulan yang sering dilupakan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Pada bulan itu amalan diangkat kepada Rabb semesta alam.Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan." (HR. An-Nasa’i)
Sementara, dalil Al-Quran sering dipakai rujukan para ulama mengenai malam Nisfu Syaban, tafsir Surat Fatir Ayat 10 menandakan Allah SWT mengangkat amal saleh hamba-hamba-Nya, Allah SWT berfirman:
مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعِزَّةَ فَلِلّٰهِ الْعِزَّةُ جَمِيْعًاۗ اِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهٗ ۗوَالَّذِيْنَ يَمْكُرُوْنَ السَّيِّاٰتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۗوَمَكْرُ اُولٰۤىِٕكَ هُوَ يَبُوْرُ
Artinya: "Siapa yang menghendaki kemuliaan (ketahuilah) kemuliaan itu semuanya milik Allah. Kepada-Nyalah akan naik perkataan-perkataan yang baik631) dan amal saleh akan diangkat-Nya. Adapun orang-orang yang merencanakan kejahatan akan mendapat azab yang sangat keras dan rencana jahat mereka akan hancur." (QS. Fatir, 35:10).
Adapun menurut pemahaman para ulama, Nisfu Syaban menjadi waktu terbaik memperbanyak amal saleh. Namun, hal itu bukan dimaknai sebagai momentum merayakannya dengan berbagai ritual tanpa mendasar atau melebih-lebihkan syariat. Sikap wasathiyah (moderat) memang perlu agar ibadah berdasarkan tuntunan syariat agama Islam.
Jemaah shalat Jumat dimuliakan Allah,
Marilah jemaah hendaknya menjadikan Nisfu Syaban sebagai waktu muhasabah diri. Selain itu, kita harus mengevaluasi amal sebelum datang bulan Ramadhan.
Nisfu Syaban hendaknya dijadikan sebagai waktu muhasabah diri, mengevaluasi amal sebelum datang bulan Ramadhan. Di semasa hidupnya, Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu berkata, "Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab."
Sebagaimana diketahui, Muhasabah meliputi ibadah kepada-Nya, meningkatkan akhlak terhadap sesama, hingga upaya membersihkan hati dari dengki, dendam, serta permusuhan.
Puncak muhasabah diri meliputi taubat nasuha. Taubat ini menjadid kunci bagaimana bisa menjalankan bulan Ramadhan dengan hati yang bersih dan jiwa yang siap menyambut penuh keberkahan.
Saudaraku sidang Jumat dikaruniai Allah,
Kita sebentar lagi memasuki bulan Ramadhan. Persiapan bulan penuh berkah ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mempertebal ruhani.
Ruhani yang harus disiapkan, di antaranya adalah meluruskan niat, memperbaiki shalat, membiasakan puasa sunnah Syaban, memperbanyak tilawah Al-Quran, dzikir, sedekah, serta shalat sunnah malam.
Selain ibadah, penting bagi kita untuk senantiasa menjaga lisan, memperbaiki hubungan sosial terutama pada lingkungan sekitar, serta menjauhi segala maksiat yang sudah dilarang oleh-nya. Tujuannya agar Ramadhan sebagai waktu terbaik perubahan, tiidak hanya rutinitas tahunan dalam memenuhi kewajiban syariat.
Khutbah II
Demikianlah khutbah pertama disampaikan khatib pada sesi hari ini. Sebagai penutup, Nisfu Syaban merupakan pintu awal perubahan diri, khususnya waktu terbaik meningkatkan makna dalam menuju Ramadhan.
Marilah kita memanfaatkan sisa bulan Syaban dengan amal ibadah terbaik sesuai dengan semangat kita, terutama mengisi malam dan Nisfu Syaban dengan sebaik-baiknya.
Semoga Allah SWT menyampaikan kita ke bulan Ramadhan, menerima amal ibadah kita, dan mengampuni dosa-dosa kita. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ
(hap)
Sumber Referensi: Quran Kemenag RI, NU Online, Muhammadiyah, kitab Fiqh Al-Wasathiyah karya Yusuf Al-Qaradhawi, kitab Ihya' Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, Yayasan Amal Jariyah Indonesia.