news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi shalat jamaah.
Sumber :
  • Pexels/Mohammed Alim

Jarang Shalat tapi Matinya Bisa Mulia, Apa Amalannya? Begini Penjelasan Buya Yahya

Orang yang jarang shalat tapi matinya bisa mulia, apa amalannya? Buya Yahya beri penjelasan lengkap tentang kematian husnul khatimah dan suul khatimah.
Selasa, 10 Februari 2026 - 02:32 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Kisah tentang seseorang yang wafat dalam keadaan mulia sering kali membuat banyak orang terdiam dan bertanya-tanya. 

Apalagi jika yang diceritakan adalah sosok yang dalam kesehariannya tidak dikenal sebagai ahli ibadah. 

Ada yang jarang shalat, bahkan pernah bergelimang dosa, tetapi justru dipanggil Allah dalam kondisi yang tampak indah: di tempat suci, dalam ibadah, atau di waktu yang mulia.

Pertanyaan pun muncul, apakah kematian seperti itu pertanda amal tertentu? Atau justru menjadi pembenaran untuk meremehkan kewajiban ibadah? 

Menanggapi hal ini, Buya Yahya memberikan penjelasan tegas agar umat Islam tidak salah memahami makna kematian yang baik.

Ilustrasi shalat
Sumber :
  • Pexels/Taha Çendek

Kunci Utamanya Ada pada Akhir Kehidupan

Buya Yahya menegaskan bahwa ukuran utama kemuliaan seseorang bukanlah bagaimana masa lalunya, melainkan bagaimana akhir hidupnya. Dalam Islam, hal ini dikenal dengan istilah husnul khatimah.

“Bisa saja orang itu memang selama ini tidak shalat, bahkan mungkin mabuk, judi, tiba-tiba ingin umrah, lalu mati di sana dan diampuni oleh Allah. Itu namanya husnul khatimah,” ujar Buya Yahya, dilansir dari YouTube Al-Bahjah TV.

Menurut Buya, seseorang bisa saja menjalani hidup penuh dosa, namun di akhir hayatnya Allah beri kesempatan untuk menyesal dan kembali. 

Sebaliknya, orang yang tampak rajin beribadah pun bisa mengalami akhir yang buruk jika amalnya tidak ikhlas.

“Ada orang rajin shalat, baik kepada orang lain, tiba-tiba mati dalam keadaan mabuk. Itu ada namanya suul khatimah,” kata Buya Yahya.

Karena itu, yang terpenting bukan label “rajin” atau “jarang ibadah”, tetapi bagaimana seseorang menghadap Allah di detik-detik terakhir hidupnya.

Kebaikan kepada Sesama Bisa Menjadi Jalan Hidayah

Dikisahkan ada seseorang yang dikenal sangat baik dalam urusan sesama manusia. 

Ia gemar menolong, tidak mempersulit orang yang berutang, dan memiliki akhlak sosial yang luar biasa. 

Buya Yahya tidak menafikan bahwa amal seperti ini sangat bernilai.

Namun, ia mengingatkan, kebaikan kepada manusia tidak boleh dijadikan alasan untuk meremehkan kewajiban kepada Allah.

“Tidak bisa orang berkata, yang penting hablum minannas baik, urusan Allah nanti gampang. Tidak bisa!” tegas Buya Yahya.

Kebaikan sosial bisa menjadi jalan datangnya hidayah dan tobat, tetapi tetap tidak menggugurkan kewajiban shalat dan ibadah lainnya.

Jangan Jadikan Kisah Orang Lain sebagai Pembenaran Dosa

Buya Yahya dengan tegas memperingatkan agar kisah-kisah husnul khatimah tidak dijadikan alasan untuk menunda taat atau merasa aman dalam kemaksiatan.

“Siapa yang bisa memastikan kapan Anda mati? Siapa yang menjamin Anda mati dalam keadaan shalat?” kata Buya Yahya.

Ia menyebut anggapan seperti “nanti tobat di akhir” sebagai khayalan yang berbahaya. 

Justru ketidakpastian kematian seharusnya membuat seseorang semakin takut bermaksiat dan semakin istiqamah dalam kebaikan.

“Yang sudah berbuat baik tidak mau berhenti melakukan kebaikan, yang masih bermaksiat harus segera berhenti,” terang Buya Yahya.

Tidak Boleh Menghakimi Kematian Orang Lain

Buya Yahya juga mengingatkan agar umat Islam tidak mudah menilai kematian seseorang sebagai husnul atau suul khatimah. Itu bukan wilayah manusia.

“Ilmu husnul khatimah dan suul khatimah itu ilmu untuk menilai diri sendiri, bukan untuk menilai orang lain,” ujar Buya Yahya.

Bahkan jika seseorang wafat di tempat atau kondisi yang tampak buruk, umat Islam tetap diwajibkan berprasangka baik dan menyerahkan urusannya kepada Allah.

“Sudahlah, urusan orang yang meninggal itu dengan Allah. Kita doakan semoga Allah mengampuni,” jelasnya.

Fokus Memperbaiki Diri, Bukan Berspekulasi

Dari penjelasan Buya Yahya, jelas bahwa kematian yang mulia adalah karunia Allah, bukan sesuatu yang bisa direncanakan atau dipastikan. 

Kisah orang yang jarang shalat namun wafat dengan baik bukan untuk ditiru perilaku buruknya, melainkan menjadi pelajaran agar tidak berputus asa dari rahmat Allah.

Alih-alih sibuk menilai akhir hidup orang lain, Buya Yahya mengajak setiap Muslim untuk memperbaiki shalat, menjaga amal, dan terus berharap husnul khatimah dengan disertai usaha nyata dalam kehidupan sehari-hari. (gwn)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:50
01:49
00:45
02:17
01:12
00:52

Viral