- Freepik/rawpixel.com
Berapa Rakaat Shalat Tarawih Sesuai Ajaran Rasulullah SAW? Ini Penjelasan Ustaz Khalid Basalamah
tvOnenews.com - Bulan Ramadhan, umat Islam mempersiapkan diri untuk melaksanakan berbagai amalan ibadah, termasuk shalat tarawih.
Namun, setiap tahun selalu muncul pertanyaan, berapa sebenarnya jumlah rakaat shalat tarawih yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW? Apakah 11 rakaat atau 23 rakaat?
Ustaz Khalid Basalamah dalam ceramahnya memberikan penjelasan mendalam terkait perbedaan ini.
Menurut beliau, shalat tarawih sejatinya memiliki makna santai dan merupakan bagian dari salat malam (qiyamul lail) yang khusus dilakukan pada bulan Ramadhan.
“Apakah shalat tarawih sama dengan shalat tahajud? Tarawih, qiyamul Ramadhan, qiyamul lail, tahajud, sama saja,” ujar Ustaz Khalid Basalamah dalam ceramah yang diunggah di kanal YouTube-nya.
Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mengerjakan shalat tarawih di awal malam, tepat setelah shalat ba’diyah Isya.
Dalam satu kesempatan, Nabi mengerjakan shalat malam secara berjamaah bersama para sahabat, namun setelah itu tidak mengulanginya lagi secara berjamaah di malam-malam berikutnya.
“Rasulullah SAW tidak keluar dari rumahnya untuk shalat berjamaah tarawih karena khawatir shalat itu akan diwajibkan bagi umatnya. Tapi beliau tidak melarang untuk mengerjakannya,” jelas Ustaz Khalid.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang mengerjakan shalat malam (tarawih) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Dari hadis ini, Ustaz Khalid menegaskan bahwa shalat tarawih adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan, namun bukan kewajiban.
Oleh karena itu, tidak ada dasar untuk mempersalahkan orang yang tidak mengerjakannya, karena yang hilang hanyalah keutamaannya.
Terkait jumlah rakaat, Ustaz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa ada dua pandangan besar di kalangan ulama.
Pendapat pertama, mengacu pada hadis dari Aisyah RA yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah rakaat shalat malam di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan lebih dari 11 rakaat. Ini termasuk 8 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir.
Namun, pendapat kedua mengacu pada praktik para sahabat di masa Khalifah Umar bin Khattab RA.
Saat itu, Umar mengumpulkan kaum Muslimin untuk melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah dengan jumlah 23 rakaat.
“Umar bin Khattab memahami benar hadis Rasulullah SAW bahwa shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat tanpa batas. Maka beliau menetapkan 23 rakaat, dan tidak satu pun sahabat yang memprotesnya. Itu artinya terjadi ijma’ (kesepakatan) di antara para sahabat,” tutur Ustaz Khalid.
Beliau menambahkan bahwa hingga kini di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, shalat tarawih dilaksanakan sebanyak 23 rakaat.
Namun, mereka juga tidak menilai salah orang yang hanya mengerjakan 11 rakaat, karena keduanya memiliki dasar yang kuat dalam hadis sahih.
Ustaz Khalid kemudian menegaskan agar umat Islam tidak kaku dalam menyikapi perbedaan ini.
“Boleh 11 rakaat, boleh juga 23 rakaat, karena semua itu benar dan memiliki dasar masing-masing. Yang salah itu justru ketika kita saling menyalahkan dalam hal yang sebenarnya masih menjadi ranah perbedaan ulama,” jelasnya.
Beliau juga menyarankan agar umat Islam yang ingin menunaikan shalat tarawih menyesuaikan dengan kebiasaan di masjid sekitar tempat tinggalnya.
Jika masjid melaksanakan 11 rakaat, maka ikutilah, begitu pula jika 23 rakaat.
“Kalau mau kerjakan 11 rakaat, cari masjid yang 11. Kalau mau 23, cari yang 23. Karena shalat bersama imam sampai imam selesai dicatat sebagai ibadah semalam suntuk,” ujar Ustaz Khalid sambil mengutip hadis Nabi SAW.
Tarawih, menurutnya, adalah kesempatan untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan keimanan dan harapan pahala, bukan untuk memperdebatkan hal yang tidak prinsipil. (adk)