news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Presiden FIFA Gianni Infantino.
Sumber :
  • REUTERS/Amanda Perobelli

Gianni Infantino Menggantang Harapan

Presiden FIFA Gianni Infantino kembali menegaskan niatnya untuk mencalonkan diri dalam Pemilihan Presiden atau Pilpres periode 2027-2031. Namun, langkahnya tidak berjalan mulus karena dibayangi gelombang penolakan dan serangkaian skandal.
Senin, 10 Agustus 2026 - 20:40 WIB
Editor :

Jakarata, tvOnenews – Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) Gianni Infantino kembali menegaskan niatnya untuk mencalonkan diri dalam Pemilihan Presiden atau Pilpres FIFA periode 2027-2031 yang digelar di Rabat, Maroko.

Namun, langkah pria asal Swiss-Italia ini tidak berjalan mulus karena dibayangi gelombang penolakan dan serangkaian skandal yang memicu krisis kepemimpinan terbesar sepanjang masa jabatannya.

Tekanan paling berat yang dialami Gianni Infantino memuncak setelah gagalnya proyek FIFA Forward Enterprise (FFE)—skema komersialisasi yang dirancang untuk menjual saham minoritas hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta.

Tiga konfederasi sepak bola paling berpengaruh di dunia, yakni Asian Football Confederation (AFC), CONCACAF (Amerika Tengah Utara dan Karibia), serta UEFA (Eropa), merilis surat terbuka bersama bertajuk "Open Letter to the Football Family".

Surat terbuka yang ditandatangani oleh para pimpinan tertinggi ketiga konfederasi tersebut menyampaikan kritik mendalam terhadap kepemimpinan FIFA. Surat itu dikeluarkan pada Senin, 10 Agustus 2026.

Dalam pembuka suratnya, AFC, CONCACAF, dan UEFA menegaskan kembali bahwa sepak bola adalah hasrat terbesar milik bersama yang tidak dimiliki oleh individu maupun satu institusi mana pun.

Ketiga konfederasi mengingatkan bahwa kemajuan pesat sepak bola global selama sedekade terakhir, dari perluasan format turnamen, penetapan tuan rumah Piala Dunia 2030 dan 2034, hingga distribusi dana merupakan hasil kerja keras kolektif seluruh anggota keluarga sepak bola, bukan pencapaian tunggal seorang individu.

"Sepak bola adalah milik para pemain, fans, klub, asosiasi anggota, dan setiap institusi yang dipercaya menjaga masa depannya," ungkap AFC, CONCACAF dan UEFA, dalam pernyataan bersamanya.

AFC, CONCACAF, dan UEFA juga mengklarifikasi bahwa langkah keras mereka sama sekali bukan dipicu oleh urusan pembagian dana atau kekhawatiran kehilangan dukungan maupun jatah Piala Dunia, melainkan murni demi integritas olahraga.

Kritik paling tajam dalam surat tersebut mengarah pada respons FIFA baru-baru ini atas polemik rencana privatisasi atau penjualan porsi kepentingan komersial Piala Dunia.

FIFA sebelumnya berupaya meredam gejolak dengan menganggap dinamika yang terjadi sekadar "kegagalan komunikasi".

Namun, AFC, CONCACAF, dan UEFA menolak keras narasi tersebut dan menyebutnya sebagai kegagalan pertimbangan (failure of judgment).

Mereka menilai proposal yang diajukan secara terburu-buru tanpa konsultasi berarti adalah tindakan yang dirancang sengaja untuk membatasi pengawasan.

"Mencoba menjual porsi kepentingan di Piala Dunia FIFA adalah sebuah kegagalan penilaian yang sangat mendasar (profound failure of judgment), bukan sekadar kekeliruan prosedur, melainkan pelanggaran kepercayaan yang mendasar terhadap institusi yang seharusnya dilayani FIFA," tegas pernyataan bersama ketiganya.

Sedangkan, FIFA mengeluarkan pernyataan keras untuk membela sang presiden. Federasi sepak bola dunia itu menilai ada upaya terorganisasi untuk merusak reputasi Gianni Infantino sekaligus melemahkan kepemimpinannya.

Pernyataan tersebut muncul setelah UEFA mengonfirmasi adanya pembayaran kepada seorang mantan pegawai perempuan yang sebelumnya disebut memiliki hubungan dengan pria asal Swiss-Italia ini ketika masih menjabat sebagai sekretaris jenderal UEFA.

“Semakin jelas terlihat bahwa ada upaya terkoordinasi dan berkelanjutan dari sejumlah pihak untuk melemahkan FIFA dan presiden. Mereka yang tidak mendapatkan dukungan dari asosiasi anggota FIFA seharusnya tidak berusaha mencapai tujuan melalui tuduhan, insinuasi, atau informasi yang menyesatkan, sesuatu yang tidak dapat mereka capai melalui proses demokratis yang telah ditetapkan FIFA. Spekulasi dan insinuasi tidak seharusnya disajikan sebagai fakta, dan pengulangan tidak lantas membuat sebuah tuduhan menjadi benar," tegas FIFA.

So, jalan Gianni Infantino menuju kursi nomor satu FIFA tidak lagi mulus tanpa perlawanan.

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:50
02:12
01:13
01:26
01:32
03:29

Viral