news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi berkuda.
Sumber :
  • Istimewa

Pacuan Kuda Dinilai Punya Ruang Besar bagi Perempuan

Perspektif tersebut menjadi salah satu isu yang diangkat dalam pengembangan ekosistem pacuan kuda profesional di Indonesia.
Sabtu, 12 September 2026 - 15:02 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Pacuan kuda selama ini belum menjadi olahraga yang banyak dikenal masyarakat Indonesia. Di balik kompetisi di lintasan, cabang olahraga tersebut dinilai memiliki karakter yang cukup terbuka bagi keterlibatan perempuan, baik sebagai atlet maupun dalam berbagai profesi pendukung.

Perspektif tersebut menjadi salah satu isu yang diangkat dalam pengembangan ekosistem pacuan kuda profesional di Indonesia. PT Kuda Pacu Indonesia atau SARGA.co bahkan mendapat The Sraya Recognition kategori Social Impact dalam rangkaian Apresiasi Perempuan Berpengaruh (APB) 2026.

Head of Corporate Communication SARGA.co Esther D Ginting mengatakan pengembangan pacuan kuda tidak semata berkaitan dengan penyelenggaraan pertandingan, tetapi juga bagaimana olahraga tersebut dapat lebih mudah diakses dan dikenal masyarakat.

"Melalui Sarga.co kami mencoba memodernisasi pacuan kuda sehingga bisa memberikan pengalaman baru kepada publik dalam menikmati pacuan kuda di Indonesia," kata Esther.

Menurut dia, salah satu tantangan pacuan kuda adalah citra olahraga yang selama ini dianggap terbatas pada kalangan tertentu. Kondisi tersebut membuat keberadaan olahraga pacuan kuda belum sepenuhnya diketahui masyarakat luas.

"Dulu pacuan kuda tertutup, tidak banyak yang tahu bahwa Indonesia punya pacuan kuda. Dengan kami menjadi promotor pacuan kuda, kami membuka sehingga publik bisa lebih tahu tentang pacuan kuda," ujarnya.

Di sisi lain, keterlibatan perempuan dinilai menjadi salah satu karakteristik yang membedakan pacuan kuda dengan sejumlah cabang olahraga lainnya.

Dalam kompetisi pacuan kuda, joki perempuan dan laki-laki dapat tampil di lintasan dan kelas yang sama. Hal serupa berlaku pada kuda yang ditunggangi karena kuda jantan dan betina tidak dipisahkan berdasarkan jenis kelamin dalam kelas pertandingan.

"Pacuan kuda itu mungkin bisa dibilang olahraga yang inklusivitas perempuannya sangat besar," kata Esther.

"Di pacuan kuda, kuda betina dan kuda jantan tidak dipisahkan kelasnya. Joki perempuan dan joki laki-laki juga tidak dipisahkan kelasnya. Mereka bertanding dalam satu lintasan, dalam satu kelas," lanjutnya.

Menurut Esther, kondisi tersebut memungkinkan perempuan dan laki-laki berkompetisi secara berdampingan. Namun, persepsi bahwa pacuan kuda merupakan olahraga yang identik dengan laki-laki masih menjadi tantangan.

"Jadi side by side perempuan sama laki-laki. Kalau di olahraga lain barangkali ada perempuan sendiri, laki-laki sendiri. Di sini kuda jantan bertanding dengan perempuan, joki laki-laki dengan joki perempuan," ujarnya.

Ia menilai anggapan bahwa pacuan kuda merupakan dunia laki-laki belum sepenuhnya menggambarkan kondisi di dalam ekosistem olahraga tersebut.

"Inklusivitas perempuan itu sebenarnya tinggi sekali. Hanya mungkin sekarang ini persepsinya, wah ini laki-laki, padahal sebenarnya tidak. Di sini justru inklusivitas perempuan itu tinggi sekali," kata Esther.

Tak Hanya Joki

Keterlibatan perempuan dalam pacuan kuda juga tidak terbatas pada posisi sebagai joki. Menurut Esther, terdapat sejumlah profesi dan peran lain yang dapat menjadi ruang bagi perempuan untuk masuk ke dalam ekosistem olahraga tersebut.

Peran itu antara lain pemilik stable, pelatih, dokter hewan, pemilik kuda hingga berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan penyelenggaraan kompetisi dan industri event.

"Harapan kami ke depan semakin banyak perempuan, kehadiran perempuan, keterlibatan perempuan di pacuan kuda," kata Esther.

Ia menyebut perempuan dapat mengambil berbagai peran, mulai dari atlet atau joki hingga posisi di balik pengelolaan kuda dan penyelenggaraan kegiatan.

"Apakah sebagai atletnya, joki, bisa sebagai stable owner, sebagai pelatih, sebagai pelatih kuda, dokter, dokternya kuda, kemudian pemilik kuda. Jadi banyak sekali, dan juga mungkin di dalam ekosistem eventnya sendiri," ujarnya.

Peluang tersebut, lanjut Esther, juga mencakup bidang pekerjaan yang berkaitan dengan manajemen acara dan industri pendukung pacuan kuda.

"Misalnya ingin berkarier di event management atau di perusahaan semacam Sarga.co yang mempromosikan pacuan kuda, jadi lebih banyak keterlibatan perempuan," katanya.

Pengakuan dalam kategori Social Impact pada APB 2026 menjadi bagian dari upaya mendorong perhatian terhadap aspek sosial dalam perkembangan olahraga pacuan kuda. Tantangannya kini bukan hanya meningkatkan popularitas cabang olahraga tersebut, tetapi juga memastikan semakin banyak pihak dapat mengambil bagian di dalamnya.

Dengan terbukanya kesempatan bagi perempuan untuk berkompetisi di lintasan sekaligus menjalankan berbagai profesi di luar arena, pacuan kuda memiliki potensi menjadi salah satu cabang olahraga yang menawarkan ruang partisipasi lintas gender secara lebih luas.

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:13
01:04
02:14
01:59
04:13
03:53

Viral