news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Manny Pacquiao legenda tinju asal Filipina..
Sumber :
  • Instagram.com/mannypacquiao

Meski Sudah Juara Dunia, Ini Alasan Mengejutkan Manny Pacquiao Tetap Rendah Hati

Di balik gelar juara dunia dan ketenarannya, Manny Pacquiao menyimpan kisah masa kecil penuh air mata yang menjadi alasan terbesarnya untuk tetap rendah hati.
Senin, 23 Februari 2026 - 14:31 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Legenda tinju dunia, Manny Pacquiao, kembali mencuri perhatian publik. Ia dijadwalkan menghadapi mantan juara kelas super ringan, Ruslan Provodnikov, pada 18 April di Thomas & Mack Center, Las Vegas.

Laga comeback ini sangat dinantikan, terutama setelah hasil imbang ketat yang ia raih melawan Mario Barrios pada Juli 2025.

Sebelumnya, Pacquiao sempat mempertimbangkan beberapa opsi pertandingan lain, termasuk duel ulang melawan Barrios serta kemungkinan menghadapi Rolly Romero.

Pertarungan legendaris Manny Pacquiao vs Oscar De La Hoya.
Sumber :
  • Tangkapan layar Youtube DAZN Boxing

Namun, pertarungan yang paling diimpikannya tetaplah laga ulang kontra rival lamanya, Floyd Mayweather Jr., yang pernah terlibat dalam pertarungan terlaris sepanjang sejarah pada 2015.

Pertandingan melawan Provodnikov direncanakan berlangsung selama sepuluh ronde, masing-masing berdurasi tiga menit.

Hingga kini, detail teknis seperti aturan knockdown maupun kemungkinan penghentian laga masih belum diumumkan. Tiket telah dipasarkan dengan harga mulai dari 150 dolar AS hingga lebih dari 5.500 dolar AS. Promotor pun menjanjikan malam pertandingan dengan kualitas “kelas dunia”.

Pacquiao menyampaikan antusiasmenya menjelang laga tersebut:

“Saya selalu membawa Filipina bersama saya setiap kali saya bertarung. Dukungan dari negara saya dan dari para penggemar di seluruh dunia terus menginspirasi saya. Kembali ke Las Vegas sangat berarti bagi saya, dan saya senang dapat bekerja sama dengan tim yang fokus menciptakan pengalaman kelas dunia bagi para penggemar. Saya kembali untuk memberi mereka pertarungan yang hebat — dan saya siap.”

Perjalanan Legendaris Sang Petinju

Karier Pacquiao termasuk yang paling gemilang dalam sejarah tinju. Berangkat dari kehidupan yang sangat miskin di Filipina, ia menjelma menjadi ikon olahraga dunia dengan koleksi 12 gelar juara dunia utama.

Ia tercatat sebagai satu-satunya petinju yang berhasil menjuarai delapan divisi berbeda. Tak hanya itu, ia juga menjadi petarung pertama yang meraih gelar dunia di empat dekade berbeda—sebuah pencapaian langka yang semakin mengukuhkan status legendarisnya.

Kariernya mulai melesat ketika ia merebut gelar dunia pertamanya usai mengalahkan Chatchai Sasakul.

Gaya bertarungnya yang agresif, kecepatan tangan yang eksplosif, serta kombinasi pukulan tanpa henti membuatnya menjadi ancaman bagi siapa pun. Popularitasnya kian mendunia setelah ia menaklukkan nama-nama elite seperti Marco Antonio Barrera dan Erik Morales.

Rivalitas empat jilidnya melawan Juan Manuel Marquez dikenang sebagai salah satu saga paling dramatis dalam sejarah tinju modern. Pada 2008, Pacquiao menegaskan posisinya sebagai raja pound-for-pound setelah mendominasi Oscar De La Hoya. Setahun kemudian, ia mencetak salah satu knockout paling ikonik ketika menjatuhkan Ricky Hatton dengan pukulan kiri yang mematikan.

Selain itu, ia juga berhasil mengalahkan petinju tangguh seperti Miguel Cotto dan Antonio Margarito. Pada 2015, ia menghadapi Mayweather dalam duel bersejarah yang memecahkan rekor pendapatan dunia tinju.

Dari Kemiskinan Menuju Mental Juara

Di balik pencapaiannya di atas ring, Pacquiao dikenal sebagai sosok yang tetap rendah hati. Kesuksesan besar yang diraihnya tidak pernah membuatnya melupakan masa kecil yang penuh keterbatasan. Ia pernah hidup dalam kondisi serba kekurangan, bahkan kesulitan untuk sekadar mendapatkan makanan.

Manny Pacquiao petinju asal Filipina
Sumber :
  • ANTARA/AFP/Getty Images/Steve Marcus.

Ketika ditanya kapan ia merasa akan menjadi salah satu petinju terbesar di dunia, Pacquiao menjawab bahwa momen itu terjadi saat ia menjadi juara dunia. Namun, alasannya bukan soal popularitas.

"Ketika saya menjadi juara dunia, saya sadar inilah waktunya saya bisa membantu keluarga saya. Sebelumnya kami tidak punya makanan untuk dimakan dan suatu hari kami hanya minum banyak air untuk bertahan hidup," ungkapnya dilansir dari kanal Youtube George Janko.

Ia mengenang masa kecilnya di Filipina yang dipenuhi keterbatasan. Ada masa ketika keluarganya benar-benar tidak memiliki makanan.

"Saya ingat suatu kali adik saya yang saat itu berusia lima tahun menangis sekitar pukul 1.30 siang karena dia lapar. Dia meminta makanan." ujarnya. 

Saat itu mereka tidak sempat sarapan maupun makan siang. Tidak ada uang untuk membeli makanan, sementara sang adik yang masih kecil belum memahami kondisi tersebut.

"Kami tidak makan pagi, kami tidak makan siang. Dia belum benar-benar mengerti. Kami mengatakan tidak ada uang untuk membeli makanan, dan dia menangis sambil berkata, 'Ibu, aku lapar, aku butuh makan.'"

Pacquiao juga mengingat bagaimana ia melihat air mata di mata ibunya, sementara dirinya sendiri ikut menangis karena lapar dan sedih.

"Kami minum air hanya untuk bertahan hidup. Itulah jalan hidup kami."

Pengalaman pahit itu menjadi bahan bakar perjuangannya. Baginya, gelar juara dunia bukan sekadar prestasi pribadi, melainkan titik balik untuk mengangkat derajat keluarganya.

Walaupun telah mencapai puncak karier dan dikenal di seluruh dunia, Pacquiao menegaskan bahwa ia tidak pernah merasa pantas untuk bersikap sombong.

"Saya ingin tetap rendah hati karena kami pernah berada di titik itu. Kami datang dari tidak punya apa-apa."

Baginya, kesuksesan bukan alasan untuk menjadi arogan. Justru masa lalu yang penuh kesulitan menjadi pengingat agar tetap rendah hati dan tidak melupakan asal-usulnya. (ind)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

41:24
01:28
05:31
02:52
06:55
12:51

Viral