- Instagram.com/@badminton.ina
Bimo/Thesya Tersingkir dari Kejuaraan Dunia 2026, Akui Fokus dan Mental Jadi Kendala
Jakarta, tvOnenews.com - Pasangan ganda campuran Indonesia, Bimo Prasetyo/Arlya Nabila Thesya Munggaran mengungkapkan biang kerok tersingkir dari Kejuaraan Dunia 2026. Bimo/Thesya menelan kekalahan dari wakil Jepang, Yuichi Shimogami/Sayaka Hobara di babak 32 besar.
Bimo/Thesya dipaksa mengakui keunggulan Yuichi Shimogami/Sayaka Hobara, usai kalah dengan skor 13-21, 16-21 di babak kedua Kejuaraan Dunia 2026, yang digelar di Indira Gandi Indoor Stadium, New Delhi, India pada Rabu (19/8/2026).
Sejatinya Bimo/Thesya sebenarnya mampu memberikan perlawanan. Namun, inkonsistensi fokus membuat pasangan Indonesia kesulitan mempertahankan momentum ketika memasuki fase-fase krusial.
Bimo mengakui masalah terbesar mereka bukan terletak pada pola permainan. Menurutnya, ia dan Arlya sebenarnya mampu mengimbangi permainan pasangan Jepang, namun masalah fokus menjadi kendalanya.
"Dari gim pertama sampai kedua, kami fokus pikirannya selalu goyah, naik turun. Selalu dari sudah unggul atau poin yang mepet-mepet, fokusnya hilang," kata Bimo Prasetyo.
Sehingga Bimo/Arlya kehilangan sejumlah momentum penting. Ketika sudah mendapatkan keunggulan ataupun berada dalam posisi poin kritis, pasangan Indonesia justru gagal menjaga konsentrasi hingga akhirnya lawan mampu mengambil kesempatan.
Bimo menilai persoalan mental dan konsistensi menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.
"Dari cara bermain, pola permainan kami merasa kami bisa mengimbangi tapi kami masih perlu konsisten di pikirannya dan mentalnya," ujarnya.
Meski gagal melangkah lebih jauh, Arlya memilih mengambil sisi positif dari pertandingan tersebut. Ia menilai laga melawan pasangan Jepang memberikan banyak pengalaman berharga yang bisa digunakan untuk memperbaiki permainan mereka ke depan.
Selain persoalan konsentrasi, Arlya juga melihat masih ada aspek teknis yang perlu ditingkatkan.
"Banyak pelajaran yang bisa kami ambil hari ini. Dari cara mainnya, fokusnya, bagaimana mengatasi poin-poin kritis, bagaimana cara mempertahankan keunggulan," tutur Arlya.
"Kami juga harus menambah kekuatan tangan," katanya.
(nad)