Dorong Hilirisasi di Kaltara, BPDP Gelar Pelatihan Pemanfaatan Limbah Sawit bagi UMKM
- Istimewa
Jakarta, tvOnenews.com - Bebrgai upaya terus dilakuak oleh sejumlah pihak dalam mendorong hilirisasi kelapa sawit termaksud upaya pengiolahan limbahnya agar berdampak terhadap Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Hal inilah yang dilakukan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara) dengan menggelar Workshop Pengolahan Minyak dan Limbah Kelapa Sawit bagi UMKM dengan tujuan melibatkan petani untuk dapat memanfaatkan rantai nilai lanjutan dari komditas tersebut.
Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Rino Afrino mengatakan adanya nilai keonomi secara siginifikan yang dapat dihasilkan dari limbah sawit jika dapat dikelola secara benar dari masyarakat.
“Saat ini dunia internasional membutuhkan minyak jelantah dan limbah sawit untuk diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF). Artinya, tidak ada yang terbuang dari sawit, semua memiliki nilai ekonomi,” kata Rino kepada awak media, Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Di sisi lain, Ketua DPW Apkasindo Kaltara, Muhammad Khoiruddin mengatakan jika pelatihan ini ditujukan dalam upaya meingkatkan kemampuan pelaku UMKM dalam pengolahan minyak sawit menjadi produk yang bernilai tambah seperti kosmetik hingga farmasi.
Menuruntya dukungan BPDP menjadi momentum strategis bagi petani sawit untuk mengubah pendekatan usaha.
“Selama ini petani terlalu bergantung pada fluktuasi harga TBS. Lewat dukungan BPDP dalam workshop ini, kami mendorong petani untuk mulai menggarap hilirisasi, tidak hanya menjual buah mentah,” ucapnya.
Tak hanya itu, pelatihan juga memuat materi berupa program perencanaan pendirian pabrik pupuk organik skala UMKM berbahan baku limbah sawit agar pelaku usaha menghasilkan produk yang memenuhi standar keberlanjutan sehingga mampu memasuki pasar global.
Khoiruddin menyebut potensi Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel Oil (PKO) di Kaltara terbilang besar, namun belum tergarap maksimal oleh pelaku lokal. Keterbatasan pengetahuan dan teknologi, menurut dia, menjadi kendala utama.
“Kami ingin ke depan muncul produk-produk lokal, seperti minyak goreng atau pupuk organik dari limbah sawit produksi petani Kaltara sendiri. Ini langkah awal menuju kedaulatan ekonomi petani,” pungkasnya.(raa)
Load more