Mudik Lebaran Jadi Mobilitas Nasional Terbesar Jelang Idul Fitri 2026, Momen Penting untuk Literasi Keselamatan
- Unsplash/Kathy
Jakarta, tvOnenews.com - Tradisi mudik selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri di Indonesia. Setiap tahun, jutaan masyarakat melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman untuk merayakan Lebaran bersama keluarga.
Fenomena ini bukan hanya memiliki makna sosial dan budaya, tetapi juga menjadi salah satu mobilitas manusia terbesar yang berdampak pada sektor transportasi, keselamatan, hingga perekonomian nasional.
Data Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa pada periode Angkutan Lebaran 2025, jumlah masyarakat yang melakukan perjalanan mencapai sekitar 154,6 juta orang atau sekitar 54,89 persen dari total populasi Indonesia.
Pergerakan tersebut menghasilkan lebih dari 358 juta perjalanan nasional selama periode mudik dan arus balik.
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa mudik tidak sekadar tradisi tahunan, tetapi juga fenomena mobilitas nasional yang membutuhkan pengelolaan transportasi yang matang, kolaboratif, serta berbasis data.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) memperkirakan puncak arus mudik Lebaran 2026 akan terjadi dalam dua gelombang, yakni pada 14–15 Maret dan 18–19 Maret 2026.
Sementara itu, puncak arus balik diprediksi berlangsung pada 24–25 Maret serta 28–29 Maret 2026. Secara keseluruhan, jumlah perjalanan masyarakat selama mudik Lebaran 2026 diperkirakan mencapai 143,9 juta perjalanan.
Ketua Umum Asosiasi Akademisi Pendidikan Tinggi Seluruh Indonesia (ASADIKTISI) Prof. Dr. Susanto, MA mengapresiasi berbagai upaya pemerintah dalam mempersiapkan kualitas mudik Lebaran tahun ini.
Menurutnya, mobilitas besar selama periode Idul Fitri tidak hanya membuka peluang pergerakan ekonomi, tetapi juga menghadirkan tantangan berupa kemacetan, kelelahan pengemudi, hingga potensi kecelakaan lalu lintas.
"Dengan skala mobilitas yang sangat besar tersebut, mudik seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kegiatan tahunan, tetapi sebagai momentum pembangunan transportasi dan literasi keselamatan nasional," katanya.
Untuk memastikan perjalanan mudik berjalan aman dan nyaman, masyarakat diimbau merencanakan perjalanan sejak dini, termasuk menentukan waktu keberangkatan dan rute perjalanan, memastikan kendaraan dalam kondisi laik jalan, serta menjaga kondisi fisik pengemudi dengan beristirahat setiap tiga hingga empat jam selama perjalanan.
Selain itu, pemanfaatan transportasi umum seperti kereta api, bus, kapal laut, dan pesawat juga dinilai dapat menjadi pilihan yang lebih aman dan efisien.
Di sisi lain, perguruan tinggi juga dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung penyelenggaraan mudik yang aman dan berkelanjutan.
Menurut Susanto, kontribusi tersebut dapat dilakukan melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui penelitian serta pengabdian kepada masyarakat.
"Perguruan tinggi dapat melakukan kajian tentang pola mobilitas masyarakat, analisis titik kemacetan, manajemen arus lalu lintas, serta keselamatan transportasi berbasis data," katanya.
Hasil penelitian tersebut dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan transportasi, termasuk pengaturan arus mudik serta peningkatan keselamatan jalan.
Selain itu, perguruan tinggi juga dapat mengembangkan sistem transportasi cerdas, aplikasi informasi perjalanan, hingga analisis big data terkait mobilitas masyarakat.
Tak hanya itu, perguruan tinggi juga dapat membuka posko layanan mudik ramah anak, seperti menyediakan area bermain anak, pojok literasi, pemeriksaan kesehatan anak, layanan psikologis, hingga pengecekan kendaraan ringan agar perjalanan keluarga lebih aman.
Susanto menegaskan bahwa dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, serta partisipasi aktif mahasiswa, tradisi mudik dapat menjadi momentum mobilitas nasional yang aman, produktif, dan memberikan dampak positif bagi pembangunan Indonesia.
Load more