Bangga! Pakar asal Indonesia Muhsin Budiono Pukau Forum Internasional di Australia, Berhasil Bedah Model Followership Versi Asia
- Ammar Ramzi
Brisbane, tvOnenews.com – Nama Indonesia kembali harum di kancah internasional. Pakar sekaligus pionir followership tanah air Muhsin Budiono baru saja didapuk menjadi pembicara kunci dalam forum bergengsi Global Followership Conference Asia Pacific yang dihelat di Queensland University of Technology (QUT), Australia, pada Rabu-Jumat (1-3 April 2026).
Dalam kesempatan tersebut, alumni ITS ini memaparkan materi bertajuk "Redefining ARDENT Followership in the Asian Corporate Context through ARDENT Followership Matrix".
Acara ini bukan kaleng-kaleng, pasalnya forum tersebut diikuti oleh 47 peserta dari berbagai negara mulai dari Amerika Serikat, Prancis, Kanada, hingga Tanzania. Para peserta datang dengan latar belakang mentereng, mulai dari akademisi, peneliti, praktisi, hingga mahasiswa doktoral.
- Ammar Ramzi
Apa Itu ARDENT Followership?
Kepada tvOnenews.com, Muhsin menjelaskan bahwa ARDENT merupakan kerangka kerja yang pertama kali diperkenalkan oleh pakar HR, Syed Gaous. Istilah ini merupakan akronim yang merangkum perilaku esensial dalam dinamika kerja modern yang serba cepat.
"Model ini dirancang untuk menciptakan keseimbangan di tempat kerja dengan mendorong followers untuk tidak sekadar patuh, tetapi menjadi mitra aktif bagi pemimpin mereka," ujar Muhsin saat diwawancarai pada Sabtu (4/4/2026).
Model ini menitikberatkan pada tiga pilar utama:
1. Keterlibatan Aktif: Pengikut harus berinisiatif, bukan sekadar menunggu perintah.
2. Keberanian Moral: Berani memberikan kritik konstruktif demi kebaikan organisasi.
3. Loyalitas Cerdas: Kesetiaan yang berlandaskan kompetensi, bukan kepatuhan buta.
Sentuhan Asia dalam Matriks Baru
- Ammar Ramzi
Meski konsep aslinya berasal dari Barat, Muhsin yang juga pekerja di PT Pertamina melihat adanya celah besar jika diterapkan di Asia.
Menurutnya, budaya korporasi di Asia memiliki karakteristik unik, salah satunya adalah Power Distance (jarak kekuasaan) yang tinggi.
"ARDENT model ini sebenarnya konsep bagus, namun karena dikembangkan di negara Barat, ada beberapa kekurangan dan ketidakcocokan apabila konsep tersebut diterapkan mentah-mentah pada atmosfer korporasi di Asia yang terkenal dengan Power Distance yang tinggi," papar sosok yang dikenal sebagai Bapak Followership Indonesia ini.
Load more